Internal Communication Manager Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Sarah membagikan cara Pertamina mengelola komunikasi internal dan membangun kepercayaan dengan para Perwira. Bagaimana? Simak berikut!
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi internal bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi memastikan right content sampai kepada right people, pada right time dan melalui right channel. Hal tersebut ditegaskan oleh Internal Communication Manager Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Sarah. Menurutnya, pengelolaan komunikasi internal yang efektif dengan para Perwira, sebutan untuk pegawai Pertamina, dapat menghidupkan ruh sekaligus memuluskan pergerakan roda bisnis perusahaan.
Sarah menjelaskan, pengelolaan hubungan yang baik sehingga perusahaan mendapatkan kepercayaan dari pegawai, dapat mendorong loyalitas hingga membuat mereka bersedia menyuarakan semangat dan membela perusahaan. “Di sini, dibutuhkan komunikasi yang konsisten agar pesan tidak berhenti pada tingkat pemahaman tetapi mampu mendorong keterlibatan,” ujarnya dalam sesi diskusi PR INDONESIA Corporate Xperience Goes to Semarang, Rabu (9/9/2026), di Graha Pertamina, Gambir, Jakarta Pusat.
Pemaparan Sarah tersebut memantik sejumlah pertanyaan dari para peserta PR INDONESIA Corporate Xperience Goes to Semarang. Misalnya tentang pegawai yang menganggap informasi korporat bersifat spam, dan kiat pemilihan kanal komunikasi internal. Menanggapi hal tersebut, Sarah mengatakan, dalam konteks Pertamina mereka setiap tahunnya melakukan pengukuran untuk mengetahui kanal yang paling mudah diakses dan diminati pekerja.
Adapun dalam penggunaan kanal komunikasi tersebut untuk menyebarkan informasi, lanjut Sarah, perlu tetap diawasi dan dibatasi guna menghindari kesan “spam” dari pegawai. Merujuk kepada praktik di Pertamina, ia mengatakan, frekuensi penyebaran informasi reguler adalah sekitar satu kali dalam sepekan. Selain itu konten juga perlu dikurasi berdasarkan relevansi, dikategorikan, dan dikemas secara visual agar pegawai tidak overwhelmed terhadap informasi. “Jangan semua fungsi merasa harus mengumumkan semuanya. Memang penting, tetapi apakah penting untuk seluruh pegawai?” ujarnya.
Pola Komunikasi “Top-Down” dan “Bottom-Up”
Menanggapi pertanyaan dari peserta lainnya, Sarah juga menegaskan bahwa komunikasi internal tidak boleh berhenti pada pola top-down, dan perlu melibatkan komunikasi bottom-up. Di Pertamina, contohnya, hal ini diwujudkan melalui Board Greetings. Di sana, manajemen tidak hanya menyampaikan arahan, tetapi memberikan ruang lebih besar bagi Perwira untuk menyampaikan aspirasi dan berdialog.
Lebih Jauh, adanya forum lain seperti town hall meeting dan komunikasi bersama serikat pekerja, menurut Sarah, juga perlu dihadirkan sebagai wadah bagi pegawai untuk menyampaikan kritik, saran, serta kendala dari lapangan. “Jadi komunikasi bottom-up itu sangat penting. Jangan sampai terus dijejali arahan. Kita juga harus mendengarkan suara dan kritik mereka yang dapat membawa kemajuan perusahaan,” tegasnya.
Pada akhirnya, tandas Sarah, komunikasi internal bukan tentang seberapa banyak pesan yang disampaikan, tetapi seberapa relevan pesan tersebut bagi pekerja dan sejauh mana mampu membangun trust serta mendorong tindakan. “Knowing your people. Kenali siapa yang ada di lingkungan kita dan perusahaan kita, dengarkan mereka. Insyaallah, komunikasi internal akan berjalan dengan aman,” tutupnya. (Evira Anyelia)