Catatan Juri IDEAS 2026: Peserta Hadirkan Dampak Terukur dan Keberlanjutan
PRINDONESIA.CO | Selasa, 23/06/2026
Catatan Juri IDEAS 2026: Peserta Hadirkan Dampak Terukur dan Keberlanjutan
Dewan juri IDEAS 2026 saat menyaksikan presentasi peserta yang berlangsung secara daring, Jumat (12/6/2026).
Dok. Fadhil/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Penjurian Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 yang menilai beragam praktik terbaik komunikasi ESG (Environmental, Social, Governance) dan DEI (Diversity, Equity, Inclusion) dari berbagai organisasi di Indonesia telah sukses dilaksanakan pada tanggal 10 dan 12 Juni lalu secara daring.

Ditemui usai acara, dewan juri menilai kualitas peserta tahun ini menunjukkan perkembangan yang makin matang, baik dari sisi pemahaman konsep, strategi komunikasi, maupun upaya menciptakan dampak nyata bagi para pemangku kepentingan.

Meski demikian, dewan juri sepakat bahwa tantangan terbesar yang masih perlu diperkuat adalah bagaimana program-program ESG dan DEI mampu menunjukkan dampak yang terukur, berkelanjutan, serta terintegrasi dalam budaya organisasi, alih-alih sekadar menjadi aktivitas atau kampanye jangka pendek.

Sebagaimana disampaikan CEO PR INDONESIA Group Asmono Wikan, banyak peserta berhasil mengangkat gagasan-gagasan yang tampak sederhana menjadi program komunikasi ESG dan DEI yang berdampak. Menurutnya, hal itu sejalan dengan tema IDEAS 2026, yakni Dari Nilai ke Dampak. Namun, ia mengingatkan kembali bahwa yang ingin dilihat juri bukan hanya program yang baik. “Tetapi bagaimana program tersebut benar-benar memberikan dampak bagi organisasi maupun para pemangku kepentingannya,” ujarnya kepada PR INDONESIA, Senin (22/6/2026).

Oleh karena itu, kata Asmono, aspek pengukuran dampak menjadi perhatian utama dewan juri. Asmono menekankan pentingnya penggunaan metode pengukuran komunikasi yang mampu menunjukkan perubahan atau hasil nyata yang dihasilkan program, bukan sekadar mengukur output komunikasi.

Pria kelahiran Yogyakarta itu juga mengingatkan praktisi komunikasi untuk mulai mengurangi ketergantungan pada indikator berbasis PR value atau nilai ekuivalensi iklan. Menurutnya, pendekatan tersebut sering kali menimbulkan bias karena hanya mengandalkan kalkulasi nilai media tanpa mampu menunjukkan manfaat riil yang dirasakan organisasi maupun publik. "Ke depan, pendekatan pengukuran berbasis dampak harus menjadi bagian penting dalam penyusunan strategi komunikasi ESG dan DEI,” tegasnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh juri lainnya, yakni praktisi komunikasi keberlanjutan sekaligus akademisi Indra Ardiyanto. Ia melihat adanya peningkatan kualitas peserta dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi organisasi.

Indra turut menegaskan bahwa dewan juri tidak hanya mencari program yang memiliki aktivitas yang baik, tetapi juga mampu menunjukkan dampak yang terukur, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan stakeholder. "Yang paling penting bukan seberapa banyak program dilakukan, melainkan bagaimana program tersebut mampu menciptakan perubahan nyata, didukung tata kelola yang baik, serta memiliki indikator keberhasilan yang jelas,” tutur dia.

Ia menambahkan bahwa ESG dan DEI pada dasarnya merupakan upaya menciptakan nilai jangka panjang bagi organisasi dan masyarakat. Oleh karena itu, program-program yang diajukan perlu didukung data yang kuat dan berangkat dari kebutuhan pemangku kepentingan.

Indra juga mengingatkan agar organisasi tidak berhenti pada pelaporan aktivitas semata. Sebaliknya, organisasi perlu memperkuat pengukuran dampak serta mengintegrasikan ESG dan DEI ke dalam budaya kerja sehari-hari agar tidak sekadar menjadi program seremonial.

Kesesuaian Program dengan ESG & DEI

Sementara itu, founder dan CEO Koneksi Indonesia Inklusif Marthella Sirait menyoroti pentingnya kesesuaian program dengan kerangka kerja ESG maupun DEI. Menurutnya, keberhasilan sebuah program tidak ditentukan oleh tingginya eksposur yang diperoleh, melainkan sejauh mana program tersebut dirancang berdasarkan framework yang tepat dan mampu memberikan manfaat nyata bagi penerima manfaat. "Kami melihat program yang kuat adalah program yang memiliki keterkaitan jelas dengan prinsip ESG maupun DEI, bukan sekadar menghasilkan publikasi atau eksposur,” ucap Marthella.

Marthella juga menekankan pentingnya aspek keberlanjutan. Dalam proses penjurian, dewan juri memperhatikan bagaimana peserta mengidentifikasi risiko, tantangan, serta strategi mitigasi untuk memastikan program dapat terus berjalan dan memberikan dampak jangka panjang.

Oleh karena itu, ia mengingatkan peserta agar memberikan perhatian lebih besar pada proses perencanaan program, penggunaan framework yang tepat, serta penyusunan strategi keberlanjutan sejak awal. Menurutnya, eksposur hanyalah bonus, sedangkan dampak terhadap penerima manfaat merupakan ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

Dewan juri berharap ke depannya IDEAS dapat terus menjadi ruang pembelajaran dan pertukaran praktik terbaik antarpeserta, sekaligus mendorong agar makin banyak organisasi untuk mengomunikasikan inisiatif ESG dan DEI secara lebih strategis, relevan, terukur, dan berdampak.

Dengan demikian, semangat 'Dari Nilai Menuju Dampak' tidak hanya menjadi tema kompetisi, tetapi juga dapat menjadi arah perkembangan praktik komunikasi keberlanjutan dan inklusi di Indonesia. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI