Sejumlah peserta dalam penjurian IDEAS 2026 hari pertama, Rabu (10/6/2026), sepakat bahwa keberhasilan program ESG makin ditentukan oleh kemampuan organisasi membangun keterlibatan komunitas alih-alih sekadar menyampaikan pesan keberlanjutan.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi ESG tidak lagi sekadar menjadi sarana publikasi program keberlanjutan. Lebih dari itu, komunikasi berperan membangun keterlibatan masyarakat, memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan, dan memastikan dampak program dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang disepakati peserta dalam sesi penjurian Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 kategori ESG Communication Program yang diselenggarakan secara daring, Rabu (10/6/2026).
Salah satu peserta dari PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), misalnya, memaparkan program berjudul Advancing Marine Environmental Sustainability Through Strategic Engagement. Manager Communication & Compliance PTK Nerisa Pitrasari menjelaskan, program tersebut berangkat dari upaya perusahaan menjaga kelestarian lingkungan laut sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir melalui berbagai inisiatif sosial dan lingkungan.
Dalam program itu, kata dia, PTK mengintegrasikan sejumlah program seperti Desa Energi Berdikari (DEB) Kariangau, Coastal Clean-Up, Green MAP, Pena Air Bersih, dan Ocean LiteraSEA ke dalam satu payung komunikasi yang berfokus pada keberlanjutan kawasan pesisir dan laut.
Nerisa menjelaskan bahwa strategi komunikasi yang diterapkan dalam program ini mencakup penguatan awareness, keterlibatan pemangku kepentingan (stakeholder engagement), pemberdayaan masyarakat, hingga pengukuran dampak program secara berkelanjutan. "Kami mengajak masyarakat sekitar, terutama untuk generasi muda karena generasi muda ini yang akan mengembangkan program ini ke depan," ujar Nerisa dalam pemaparannya.
Adapun pendekatan komunikasi yang dijalankan perusahaan yakni melibatkan masyarakat pesisir, sekolah, pemerintah daerah, komunitas, media, hingga organisasi nonpemerintah. Hasilnya, lanjut Nerisa, program yang dijalankan berhasil membersihkan lebih dari 110 ribu meter persegi kawasan pantai, menanam 5.600 bibit mangrove, menjangkau 1.597 peserta dalam kegiatan pembersihan pantai, serta menghadirkan akses air bersih bagi 1.526 kepala keluarga.
Komunikasi Partisipatif
Tak hanya PTK, pelibatan komunitas masyarakat juga ditunjukkan oleh PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor lewat programnya bertajuk Gerakan Ramah Lingkungan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Kalongliud.
Community Development Officer PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor Nabilla Dea Lukita menyebut, program tersebut merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang berangkat dari tantangan pengelolaan lahan dan praktik pertanian di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Ia menyebut, program tersebut memanfaatkan pendekatan komunikasi partisipatif untuk mendorong masyarakat terlibat aktif dalam proses perubahan.
Melalui strategi komunikasi yang menggabungkan participatory communication, behavior change communication, hingga community-driven communication, ANTAM menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam program. "Masyarakat dilibatkan sejak tahap perencanaan melalui FGD dan social mapping," tuturnya.
Untuk memperkuat penyebaran pesan, kata Nabilla, program ini memanfaatkan berbagai kanal komunikasi, mulai dari Rumah Belajar Garitan sebagai pusat edukasi komunitas, grup WhatsApp untuk berbagi pengetahuan, media sosial komunitas, hingga publikasi melalui media lokal dan nasional. "Strategi ini tidak hanya meningkatkan awareness, tetapi juga memperkuat engagement dan kepemilikan program oleh masyarakat," terang dia.
Lebih lanjut, Nabilla menekankan bahwa program tersebut menunjukkan hasil yang tidak hanya dirasakan secara sosial, tetapi juga ekonomi dan lingkungan. Di antaranya yakni pemanfaatan lahan tidur mencapai 35 hektare, efisiensi penggunaan air melalui irigasi tetes mencapai 60 persen, sementara pendapatan rata-rata anggota kelompok meningkat hingga 65 persen.
Selain itu, delapan mantan pelaku pertambangan tanpa izin beralih profesi menjadi petani, dan Rumah Belajar Garitan berkembang menjadi pusat pembelajaran yang menjangkau 11 desa di Kecamatan Nanggung. Lewat program ini, lanjut dia, indeks kepuasan masyarakat berhasil mencapai nilai konversi 90,82 persen dengan kategori sangat baik. (Fadhil Pramudya)