Praktisi public relations (PR) perlu lebih cermat saat menjalin relasi dengan jurnalis. Pitch yang tidak relevan, bernada promosi, atau minim kredibilitas dinilai dapat merusak hubungan media dan berujung diabaikan redaksi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Beban kerja jurnalis yang makin tinggi di tengah dinamika industri media hari ini membuat pendekatan media relations tak bisa lagi dilakukan praktisi public relations (PR) dengan sembarangan. Dalam konteks ini, PR and Communications Consultant MP Communications Matt Petteruto mengatakan, praktisi PR perlu memahami apa yang dibutuhkan jurnalis sekaligus menghindari kesalahan mendasar saat mengirim pitch atau penawaran berita.
Petteruto menyebut, kesalahan kecil dalam pendekatan yang dilakukan dapat membuat jurnalis memblokir kontak PR atau memasukkan mereka ke daftar yang ‘tidak perlu ditanggapi’. Kondisi itu tentu merugikan upaya perusahaan atau organisasi dalam membangun eksposur media dan reputasi jangka panjang. “Padahal, hal seperti ini sebenarnya bisa dicegah,” ujar Petteruto dalam tulisannya di PR News Online, Selasa (28/4/2026).
Ia pun menekankan, memahami hal-hal yang tidak disukai atau dihindari oleh jurnalis sama pentingnya dengan mengetahui apa yang mereka butuhkan dan harapkan. Untuk itu, peraih gelar Bachelor of Arts dari University of California itu memaparkan tiga kesalahan utama yang perlu dihindari praktisi PR saat menghubungi jurnalis. Apa saja?
1. Mengirim Pitch yang Tidak Relevan
Petteruto menyebut, pengiriman pitch tanpa menyesuaikan topik liputan jurnalis dinilai sebagai kesalahan paling umum. Berdasarkan laporan Cision State of the Media menyebut bahwa 78% jurnalis akan memblokir pihak yang terus mengirim pitch tidak relevan. Laporan itu juga mengingatkan pentingnya bagi praktisi PR untuk memahami profil jurnalis, membaca karya terbaru mereka, serta mengetahui bidang liputan yang menjadi fokus.
2. Menganggap Jurnalis sebagai Tim Marketing
Kesalahan lain adalah mengirim pitch yang terasa seperti brosur promosi. Padahal, kata Petteruto, jurnalis bekerja mencari nilai berita alih-alih menjadi perpanjangan fungsi pemasaran perusahaan.
Berdasarkan laporan Muck Rack State of Journalism, sebanyak 59% jurnalis akan memblokir pengirim yang melampirkan pitch bernuansa iklan dan minim substansi berita. Oleh karena itu, Petteruto mendorong praktisi PR untuk menonjolkan sudut pandang baru, data relevan, tren terkini, atau akses narasumber yang bernilai bagi audiens media.
3. Menyampaikan Informasi yang Tidak Akurat
Menurut Petteruto, kredibilitas menjadi modal utama dalam menjalin hubungan media. Ia menyebut, pitch yang memuat data keliru, klaim tanpa sumber, atau informasi tidak terverifikasi justru dapat merusak kepercayaan jurnalis.
Pria yang malang melintang selama lebih dari 20 tahun di bidang media relations itu merincikan bahwa pakar di bidang tertentu, peneliti, dan CEO termasuk di antara sumber informasi yang paling dipercaya oleh jurnalis. Selain itu, lanjutnya, studi dan laporan yang diterbitkan oleh institusi akademik, lembaga think-tank, atau asosiasi industri yang bereputasi juga dapat menjadi sumber data yang kredibel.
Lebih lanjut, Petteruto menekankan bahwa dunia jurnalistik adalah bidang yang penuh tantangan. Untuk itu, kata dia, menghindari hal-hal yang bisa mengganggu atau membuat jurnalis frustrasi akan sangat membantu mereka. “Ini menunjukkan bahwa Anda memahami tantangan yang mereka hadapi, menghargai pekerjaan mereka, dan mampu menyesuaikan diri dengan cara kerja mereka,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)