4 Pilar Komunikasi Adaptif, Kunci bagi Pemimpin Organisasi Hadapi Krisis
PRINDONESIA.CO | Senin, 04/05/2026
4 Pilar Komunikasi Adaptif, Kunci bagi Pemimpin Organisasi Hadapi Krisis
Kemampuan berkomunikasi secara adaptif menjadi faktor penentu bagi pemimpin organisasi dalam menghadapi krisis.
Dok. Freepik.

JAKARTA, PRINDONESIA.COPemimpin organisasi dituntut makin lincah dalam mengelola komunikasi saat krisis. Dalam ulasan terbaru di Forbes, pakar kepemimpinan Shaheena Janjuha-Jivraj menegaskan, komunikasi krisis kini membutuhkan kemampuan beradaptasi, bukan sekadar mengikuti protokol lama.

Menurutnya, perubahan dapat terjadi hanya dalam hitungan menit, sehingga pemimpin perlu menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dan mampu merespons situasi secara cepat. Ia menekankan, kepercayaan merupakan aset utama yang dipertaruhkan ketika krisis terjadi. Ia menyoroti pentingnya komunikasi yang akurat agar organisasi tetap solid dalam jangka panjang. “Jika dilakukan dengan tepat, tim Anda akan tetap bersama Anda,” ujar Shaheena, dikutip Jumat (1/5/2026).

Ia juga mengingatkan bahwa kepercayaan yang sudah rusak tidak mudah dipulihkan kembali. Sehingga, kata dia, setiap keputusan komunikasi harus dipertimbangkan secara matang.

Lebih lanjut, Shaheena pun menjelaskan, pemimpin tidak cukup hanya menyampaikan instruksi, tetapi harus mampu menyesuaikan pesan dengan kondisi yang terus berubah, terutama saat memimpin tim lintas negara, lintas budaya, atau organisasi besar dengan banyak pemangku kepentingan. “Respons yang lambat dan tidak sensitif terhadap situasi berisiko memicu kebingungan internal serta memperbesar tekanan reputasi,” paparnya.

Untuk mengimplementasikan komunikasi adaptif, Shaheena menerangkan bahwa terdapat empat pilar utama yang dapat diterapkan dalam praktik kehumasan dan kepemimpinan. Berikut penjelasannya:

1.Menyebut Realitas Secara Terbuka

Dalam aspek ini, Shaheena menyebut, pemimpin perlu secara jujur mengakui ancaman atau tantangan yang dihadapi. Menghindari penyebutan masalah justru menciptakan kesan tidak peka.

Dengan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, pemimpin menciptakan batas psikologis yang membantu tim memahami situasi. Langkah ini juga mencegah berkembangnya rumor internal.

2.Beralih dari Pengendali menjadi Kurator Informasi

Dalam kondisi minim informasi, spekulasi mudah berkembang. Menurut Shaheena, pemimpin perlu berperan sebagai kurator narasi organisasi yang jujur dengan menyampaikan tiga hal utama, yakni apa yang diketahui saat ini, apa yang sedang dipantau, dan apa yang belum dapat dipastikan. Menurutnya, pendekatan ini dinilai lebih efektif membangun kepercayaan dibanding janji stabilitas yang tidak realistis.

3.Menetapkan Jangkar Stabilitas

Di tengah gejolak eksternal, karyawan membutuhkan kepastian internal. Komunikasi pemimpin harus memiliki ritme yang konsisten, seperti pembaruan harian atau mingguan, meskipun tidak selalu ada informasi baru.

Selain itu, penting untuk menegaskan aspek yang tidak berubah, seperti nilai inti organisasi, komitmen terhadap keselamatan karyawan, dan misi jangka panjang.

4.Menutup Kesenjangan Perspektif

Tim global sering memaknai krisis secara berbeda tergantung konteks lokal. Karena itu, komunikasi adaptif menuntut sensitivitas terhadap kondisi regional. Pemimpin pusat perlu memberi ruang bagi pemimpin lokal untuk menyesuaikan pesan agar relevan dengan situasi setempat, sekaligus menunjukkan kepercayaan terhadap pengambilan keputusan di tingkat tim.

Pada akhirnya, kata Shaheena, karyawan tidak menuntut prediksi yang sempurna atau janji yang berlebihan. Mereka membutuhkan pemimpin yang jujur, stabil, dan mampu bergerak maju bersama tim. “Dalam dunia yang makin terhubung, diamnya pemimpin saat krisis justru dapat ditafsirkan sebagai kurangnya empati,” pungkasnya. (Fadhil Pramudya)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI