Komunikasi Publik Jadi Kunci Partisipasi Program Cek Kesehatan Gratis
PRINDONESIA.CO | Senin, 26/01/2026
Komunikasi Publik Jadi Kunci Partisipasi Program Cek Kesehatan Gratis
Juru Bicara Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Adita Irawati dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/1/2026),
doc/antara

JAKARTA, PRINDONESIA.CO –  Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu inisiatif kesehatan nasional yang dirancang untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Adapun CKG diposisikan lebih dari sekadar layanan medis, karena diarahkan untuk menggeser paradigma kesehatan publik dari pendekatan kuratif menuju promotif dan preventif.

Dalam rangka memastikan efektivitas jalannya program, komunikasi publik dinilai memegang peran strategis sebagai penentu utama tingkat pemahaman, penerimaan, dan partisipasi masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Juru Bicara Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Adita Irawati. 

Dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/1/2026), Adita menjelaskan, CKG sejatinya merupakan pengejawantahan dari poin Undang Undang Dasar 1945 yang mewajibkan negara memajukan kesejahteraan umum. Ia juga menyebut bahwa sampai saat ini tercatat sudah ada 70 juta jiwa yang melakukan pemeriksaan melalui CKG. “Ini kita harapkan ke depan akan lebih luas lagi, lebih tinggi lagi tingkat partisipasinya, dan yang tentu bisa memberikan dukungan terhadap hal tersebut adalah bagaimana kita melakukan komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat,” ujarnya dilansir dari ANTARANEWS.com, Jumat (23/1/2026).

Program CKG, lanjut Adita, termasuk dalam kategori program hasil terbaik cepat (quick win) dengan target penerima manfaat terbesar yaitu seluruh penduduk Indonesia. Oleh karenanya, menurut perempuan yang juga menjabat sebagai co-founder sekaligus CEO Arkana Beyond itu, kolaborasi lintas sektor yang kuat menjadi keharusan agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih baik untuk dikonversi menjadi aksi melakukan pemeriksaan.

Tak lupa, alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut juga mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan yang secara intensif berkolaborasi dengan Bakom RI dan berbagai pihak terkait dalam mengajak masyarakat berpartisipasi dalam program CKG. “Semoga ke depan program ini bisa lebih baik lagi dengan berbagai evaluasi dan perbaikan yang tadi sudah disampaikan oleh Kemenkes,” harapnya.

Tingkatkan “Awareness” dan Partisipasi 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi mengungkapkan, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap program CKG baru mencapai sekitar 45 persen. Dari angka tersebut, menurutnya, terlihat tantangan besar dalam meningkatkan awareness publik agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.

Terkait penguatan komunikasi publik sebagaimana ditegaskan Adita, penelitian bertajuk The Importance of Community Based Communication for Health and Social Change (2016) karya Renata Schiavo juga mengungkap bahwa komunikasi kesehatan publik tidak cukup disampaikan secara  satu arah atau top-down melalui otoritas formal seperti pemerintah atau institusi kesehatan saja. Disebutkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat lokal dan pemangku kepentingan komunitas menjadi faktor krusial dalam meningkatkan intervensi kesehatan.

Dalam konteks ini, pendekatan komunikasi berbasis komunitas memungkinkan pesan kesehatan menjadi lebih relevan sehingga mampu mendorong perubahan perilaku yang keberlanjutan. Untuk itu, program CKG dinilai harus memiliki strategi komunikasi partisipatif yang membumi untuk menjembatani kesenjangan antara informasi kebijakan dan keputusan masyarakat. (EDA)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI