Kolaborasi Mengampanyekan Isu Lingkungan
28 July 2020
Ratna Kartika
0
Kolaborasi Mengampanyekan Isu Lingkungan
Era normal yang baru merupakan tantangan sekaligus peluang untuk melakukan recovery dan healing.
Dok. Istimewa

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Pekerjaan rumah berikutnya adalah menyusun strategi komunikasi agar kualitas lingkungan yang sudah baik ini dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Isu inilah yang menjadi materi diskusi virtual Climate Communication Forum (CCF) yang diadakan bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertajuk “Urgensi Komunikasi Lingkungan dan Perubahan Iklim di Era Normal Baru”, Jumat (5/6/2020).

Menurut Wahyu Marjaka, Direktur Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, era normal yang baru merupakan tantangan sekaligus peluang untuk melakukan recovery dan healing.

Pendiri dan CEO CPROCOM Emilia Bassar sependapat. Pandemi memberikan tantangan baru bagi banyak pihak dan sektor dalam penanganan perubahan iklim di Indonesia, termasuk di bidang komunikasi. “Kita perlu strategi komunikasi yang dapat menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondisi alam di era normal baru,” katanya seraya berharap kondisi sudah lebih membaik dari masa sebelum terjadi pandemi.

Menurut Dicky Edwin Hindarto, Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau dan pendiri Clean Indonesia Channel, kampanye hemat energi yang telah banyak dilakukan pemerintah, swasta dan non-government organisation (NGO) umumya dilakukan tanpa strategi komunikasi yang baik dan berkelanjutan.

Buktinya, lanjut pria yang merupakan pakar efisiensi energi dan pasar karbon ini, kampanye hemat energi justru minim saat pandemi. Padahal inilah momentum yang tepat untuk berkampanye. “Kampanye harus terus dilakukan agar pada saat keadaan sudah membaik, hemat energi sudah menjadi gaya hidup masyarakat di era yang baru,” ujarnya.

 

Kolaborasi

Selain itu, mengampanyekan isu lingkungan hidup tak cukup dengan fakta dan data. Tapi, harus dilakukan dengan cara storytelling. Seperti yang dikatakan oleh Manager The Climate Reality Project Indonesia Amanda Katili Niode, “Storytelling merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan menceritakan aksi nyata.”

Sebenarnya, media adalah salah satu kanal yang tepat untuk mempopulerkan isu-isu lingkungan hidup dan perubahan iklim. Sayangnya, isu lingkungan dan perubahan iklim belum menjadi anak emas bagi industri media. “Isu lingkungan bukanlah hal yang seksi di kalangan media. Jurnalis juga kurang memahami isu lingkungan karena terlalu berat dan kurang populer di masyarakat,” ujar Rochmawati, Ketua Umum Society of Indonesian Environmental Journalists yang juga merupakan jurnalis viva.co.id.

Agar isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi perhatian media, perempuan yang karib disapa Ochi ini menyarankan agar jurnalis, akademisi, peneliti, praktisi, serta pegiat lingkungan melakukan kolaborasi. “Kolaborasi dapat menghasilkan tulisan tentang isu lingkungan dan perubahan iklim menjadi semakin menarik baik bagi mainstream media maupun media alternatif,” tutupnya. (rvh)

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI