Juru Bicara UGM I Made Andi Arsana membedah taktik manajemen reputasi. Sikap diam ternyata ampuh menahan laju rentetan pertanyaan liar saat krisis melanda institusi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Juru Bicara Universitas Gadjah Mada (UGM) I Made Andi Arsana mengatakan, dalam situasi krisis penjelasan berlebihan terkadang dapat melahirkan rentetan serangan baru. Dalam konteks ini, ia mengatakan bahwa terkadang humas/public relations (PR) perlu menakar setiap krisis.
Disampaikannya dalam Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Komunikasi Strategis yang berlangsung di Gedung Soebono Mantofani, Perum Peruri, Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026), klarifikasi prematur perlu dihindarkan untuk meredam kemarahan massa. Menurutnya, penjabaran satu isu sering kali berpotensi membuka celah kelemahan yang dapat diserang oleh publik. "Satu pernyataan kita bisa menjadi pintu masuk bagi puluhan rentetan pertanyaan lain yang akan menyusul. Maka, terkadang diam adalah langkah yang paling bijaksana dalam menyikapi sesuatu, meskipun hal ini tentu tidak berlaku mutlak dalam semua kasus," urai Andi.
Berlandaskan Fakta Internal
Kendati demikian, Andi menegaskan, keputusan untuk bungkam ini wajib ditopang oleh penguasaan data. Berkaca pada pengalamannya ketika diberi amanah oleh Rektor UGM untuk menyelesaikan kontroversi ijazah beberapa waktu lalu, Andi mengatakan, langkah investigasi menyeluruh menjadi landasan wajib sebelum merumuskan pernyataan resmi kelembagaan.
Andi mengatakan, dirinya tidak mau berbicara di depan publik sebelum dapat mengakses total segala dokumen yang dibutuhkan. Sebab menurutnya, kesahihan fakta akan selalu menjadi senjata utama dalam menghadapi audiens maya maupun media massa. "Dari situ, saya belajar dengan teliti sampai saya sendiri mendapatkan kepastian akan kebenarannya. Bagi saya, hal ini penting sekali. Dengan memahami serta meyakini kebenaran tersebut, kita akan bisa berbicara dengan tenang dan percaya diri," terangnya.
Lebih lanjut Andi menjelaskan, penguasaan materi lintas disiplin akan ikut menentukan ketepatan strategi komunikasi. Ia mencontohkan dengan rentetan kasus sengketa praktik medis yang pernah dihadapinya, dan memaksa dirinya untuk mempelajari kerumitan istilah laboratorium. Bagi Andi, pernyataan resmi menuntut kedalaman ilmu sang juru bicara. (Arfrian R.)