Internal Communication Manager Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Sarah menekankan bahwa membangun kepercayaan dari dalam menjadi bagian penting untuk memperkuat reputasi dan loyalitas perusahaan di mata publik dan internal.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Kepercayaan publik terhadap korporasi sejatinya perlu dipupuk dari dalam organisasi itu sendiri. Dalam konteks ini, komunikasi internal memegang peran penting untuk memastikan setiap pesan perusahaan dipahami oleh pekerja, membuka ruang dialog serta mampu mendorong pekerja bertindak selaras dengan visi dan misi perusahaan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Internal Communication Manager Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Sarah, bahwa komunikasi internal memiliki peran strategis dalam perjalanan perusahaan membangun kepercayaan dengan para Perwira, sebutan dari pegawai Pertamina. “Melalui komunikasi yang jelas, transparan, dua arah, perusahaan tidak hanya menyampaikan informasi ataupun arahan kepada pekerja, tetapi juga perlu mendengar suara, aspirasi dan feedback dari mereka,” ujarnya dalam pembukaan acara PR INDONESIA Corporate Xperience Goes to Semarang, pada Rabu (9/9/2026) di Graha Pertamina, Gambir, Jakarta Pusat.
Selama 17 tahun berkarier di Pertamina, Sarah menyadari bahwa perjalanan membangun kepercayaan tidak berlangsung secara instan. Menurutnya, prosesnya bergerak melalui tahapan awareness, understanding, trust, engagement, hingga action. Setiap tahapan itu, kata Sarah, membutuhkan komunikasi yang konsisten agar pesan tidak berhenti pada tingkat pemahaman tetapi mampu mendorong keterlibatan para Perwira.
PR Sebagai Seniman
Dalam praktiknya, Sarah mengatakan, para public relations (PR) atau Corporate Communication perlu memiliki kemampuan layaknya seorang seniman dalam mengemas pesan. Artinya, pesan yang disampaikan harus mampu menyesuaikan karakter dan kebutuhan audiens. “Sebab, tidak semua pekerja memiliki tingkat pemahaman yang sama terhadap isu. Untuk itu, edukasi dan kampanye perlu dikemas sesuai karakteristik audiens, termasuk ketika menyampaikan berbagai program perusahaan maupun transparansi isu,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Pertamina juga mengembangkan SMART Guidebook dan yang berisi panduan mengenai social media awareness, responsibility dan thoughtfulness. Menurut Sarah, panduan ini bersifat aplikatif dan menjadi wajib agar para perwira semakin bijak menggunakan media sosial.
Alumnus LSPR Jakarta itu juga menekankan pentingnya memiliki panduan krisis yang membantu Perwira memahami peran dan tindakan dalam menghadapi krisis. Selain untuk krisis, kesiapan yang sama juga dibutuhkan guna menjawab tantangan yang muncul ketika perusahaan harus menghadapi perubahan situasi secara mendadak.
Sarah mencontohkan dengan momentum Ulang Tahun Pertamina pada 10 Desember lalu yang bertepatan dengan kondisi bencana di Sumatera. Ia bersama timnya memutar otak bagaimana perusahaan tetap bisa merayakan hari jadi, tetapi tidak berlebihan dan berempati pada kondisi saat itu. “Di situlah, memang seni komunikasi seorang PR diuji untuk menghasilkan pesan dan acara yang sukses,” ujarnya.
Adapun dalam pengukuran produk komunikasi, lanjur Sarah, Pertamina menggunakan pendekatan AMEC untuk mengevaluasi efektivitas diseminasi komunikasi internal melalui indikator output, outtake, outcome, hingga impact. Pengukuran ini dilakukan dua kali dalam setahun dan menjadi dasar untuk menentukan strategi komunikasi berikutnya. (Evira Anyelia)