Direktur Infinity Continuity Singapore Gary Ng Bahas Ketahanan BUMD di FOKUS HIBRA 2026
PRINDONESIA.CO | Rabu, 17/06/2026
Direktur Infinity Continuity Singapore Gary Ng Bahas Ketahanan BUMD di FOKUS HIBRA 2026
Founder & Director Infinity Continuity Singapore Gary Ng di FOKUS HIBRA di Jakarta, pada Kamis (11/6/2026).
Dok. HUMAS INDONESIA

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID —Forum Kebijakan Komunikasi Strategis & HUMAS INDONESIA BUMD Reputation Awards (FOKUS HIBRA) 2026 telah digelar pada Kamis, (11/6/2026) di Gedung Peruri, Jakarta Selatan. Salah satu sesinya menghadirkan Founder & Director Infinity Continuity Singapore Gary Ng. Dalam kesempatan tersebut, kepala dari lembaga konsultasi dan penyedia pelatihan independen tersebut membahas ketahanan organisasi, kesiapsiagaan darurat, manajemen krisis, serta keberlanjutan bisnis Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Dalam pemaparannya, Gary menyebut, lebih dari 75 persen korporasi gulung tikar dalam tiga tahun berkat abainya jajaran direksi menyusun perencanaan keberlangsungan bisnis. Sebanyak 80 persen perusahaan yang lambat pulih dalam satu bulan pasti hancur perlahan. Data ini, menurutnya, mengancam nyawa operasional BUMD se-Indonesia. “Penerapan rumusan ketahanan organisasi mengunci selamatnya pelayanan publik tingkat wilayah,” ungkap Gary.

Menurut Gary, para eksekutif sering keliru menyamakan ketahanan organisasi dengan perencanaan keberlangsungan bisnis. Padahal, terangnya, praktik business continuity planning (BCP) hanya sebatas menyediakan dokumen panduan teknis merespons gangguan. Taktik ini menargetkan pemulihan pengiriman produk atau jasa kembali ke kapasitas operasi minimum. Sementara ketahanan menuntut kapabilitas bermanuver lebih radikal. “Organisasi wajib tajam mengantisipasi ancaman, tangguh menyerap guncangan, lalu gesit beradaptasi mengubah pola kerja secara utuh,” tegasnya.

Skala disrupsi mendobrak batasan definisi bencana bagi korporasi. Bahaya hari ini, kata Gary, melampaui kerusakan fisik akibat kebakaran fasilitas atau banjir bandang. Untuk itu, direksi korporasi pelat merah perlu siap menghadapi pergeseran wujud ancaman nonfisik berdaya rusak tinggi. "Organisasi yang akan berkembang pesat dalam dekade mendatang bukanlah organisasi terbesar atau yang paling maju secara teknologi. Mereka adalah organisasi yang mampu terus melayani pemangku kepentingan, berkomunikasi secara efektif selama masa perubahan, dan pulih dengan percaya diri," ucap Gary merumuskan fondasi ketahanan bisnis jangka panjang.

Tuntutan Komunikasi Publik

Dalam lanskap krisis hari ini, kata Gary, publik tidak lagi akan terpesona dengan seberapa cepat teknisi lapangan memulihkan jalur operasional. Sebab, mereka kini lebih menuntut kecekatan instansi dalam menyebarkan informasi terukur kepada pemangku kepentingan saat badai masalah menerjang. “Kini, saatnya praktisi komunikasi duduk sejajar menakhodai manajemen krisis perusahaan mencegah keruntuhan reputasi di mata pelanggan,” jelas Gary.

Bagi Gary, perubahan peta ancaman menuntut rombakan total taktik kelola korporasi. Kesiapan merespons krisis pantang berhenti hanya pada wacana perdebatan ruang rapat. Kelangsungan hidup instansi bergantung mutlak pada kecerdasan pimpinan merajut ketahanan bisnis adaptif menghadapi aneka wajah disrupsi normal baru. “Integrasi kepekaan membaca tren dan kecepatan mengambil keputusan mengunci pelayanan sipil jangka panjang,” tutup Gary dalam pemaparannya. (Arfrian R.)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI