Peran public relations (PR) mengalami pergeseran signifikan dari fungsi eksekusi di tahap akhir menjadi bagian inti dalam strategi bisnis. PR kini dituntut terlibat sejak awal untuk membangun narasi, kepercayaan, dan arah komunikasi organisasi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Praktisi public relations (PR) kini tidak lagi berada di posisi last mile atau sekadar menjalankan komunikasi setelah strategi ditetapkan. Dalam lanskap komunikasi modern, PR justru makin diandalkan sebagai mitra strategis yang terlibat sejak tahap perencanaan hingga pengambilan keputusan.
President of International Communications Consultancy Organisation (ICCO) Nitin Mantri menjelaskan, perubahan ini dipicu oleh meningkatnya kompleksitas komunikasi, tekanan reputasi, serta kebutuhan organisasi untuk membangun kepercayaan secara berkelanjutan di tengah ekosistem digital yang dinamis. “PR tidak lagi berada di tahap akhir, tetapi menjadi tempat di mana kompleksitas diubah menjadi kejelasan,” ujarnya dikutip dalam tulisannya di BW Marketing World, Selasa (5/5/2026).
Perubahan ini, kata Mantri, turut menggeser posisi komunikasi di dalam organisasi. Ia menerangkan, jika sebelumnya aspek komunikasi baru dilibatkan setelah keputusan selesai dibuat, kini fungsinya hadir lebih awal, yakni dengan ikut membentuk arah keputusan sejak proses perumusan dimulai. “Konsekuensinya, tantangan yang dihadapi juga semakin besar: pertanyaan publik kian kritis, sorotan datang lebih cepat, dan setiap keputusan memiliki dampak yang bertahan lebih lama di ruang publik,” tutur dia.
Kompleksitas Ekosistem Komunikasi
Lebih lanjut Mantri menilai, perubahan tersebut tidak lepas dari meningkatnya kompleksitas ekosistem komunikasi. Dengan miliaran pengguna internet dan media sosial, lanjutnya, arus informasi tidak lagi berjalan linear. Sehingga, pesan yang disampaikan dapat menyebar lintas platform, diinterpretasikan ulang, bahkan kehilangan konteks.
Dalam situasi ini, Mantri pun menekankan bahwa praktisi PR perlu memahami tantangan yang dihadapi di tengah dinamika komunikasi yang makin terfragmentasi. “Tantangannya bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi memastikan pesan dipahami dengan kejelasan, kepercayaan, dan sisi kemanusiaan,” ucapnya.
Di samping itu, CEO Avian Media itu juga menegaskan bahwa PR modern tidak lagi bisa hanya berfokus pada penyebaran pesan, tetapi membangun legitimasi agar sebuah isu dapat diterima dan berdampak di tingkat kebijakan maupun publik.
Untuk menjalankan pendekatan ini, sambungnya, praktisi PR perlu melibatkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan atau stakeholder, mulai dari media, komunitas, regulator, hingga institusi. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk memastikan pesan dapat dipercaya alih-alih hanya sekadar terdengar oleh publik. “Dengan demikian, keberhasilan PR diukur dari kemampuannya membangun pengaruh yang berkelanjutan, bukan sekadar visibilitas sesaat,” kata dia.
Tak hanya itu, Mantri mengungkapkan bahwa peran kreativitas yang diemban PR juga mengalami perubahan. Ia menyebut, ide tidak lagi dinilai dari seberapa menarik perhatian, tetapi dari kemampuannya menyederhanakan isu dan mendorong tindakan nyata.
Peraih gelar MBA dari Birla Institute of Management Technology itu menjelaskan, di tengah audiens yang kritis dan skeptis, praktisi PR perlu memahami bahwa kreativitas bukan hanya sekadar menghias pesan. “Akan tetapi, membuatnya lebih jelas, lebih manusiawi, dan lebih mudah ditindaklanjuti,” terangnya.
Menutup pandangannya, Mantri menyebut bahwa perubahan lanskap komunikasi membuat reputasi tidak lagi dipandang sebagai isu komunikasi semata, melainkan sebagai bagian dari risiko bisnis yang nyata. Dalam konteks ini, katanya, PR tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan komunikasi korporat, hubungan pemerintah, hingga komunikasi internal. (Fadhil Pramudya)