Kunci Berkawan dengan Rekan Media
PRINDONESIA.CO | Kamis, 12/11/2020
Kunci Berkawan dengan Rekan Media
Membangun hubungan dengan media lebih menentukan daripada isi berita.
Dok. Istimewa

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Emmy Kuswandari, National Media, Global Communications APP Sinar Mas, tidak sependapat. Perempuan yang malam hari itu didapuk sebagai pembicara di acara Dari Surabaya Menuju Konvensi Nasional Humas (KNH) 2020, Rabu (11/11/2020), tersebut mengaku selama ini tulus berkawan dengan media.

Apalagi pengalamannya selama sebelas tahun sebagai jurnalis membuat Emmy memahami psikologis rekan-rekan pewarta. “Berkawan dengan media tidak ada bedanya seperti kita berkawan dengan teman-teman yang lain,” ujar perempuan yang juga merupakan anggota Bidang Pelatihan dan Keanggotaan BPP PERHUMAS. “Bukan bermaksud mendekati hanya saat ada perlu. Tapi, memang kalau ada yang tidak tepat, kita pasti akan lebih mudah untuk menyampaikan dan meluruskan,” imbuh Emmy.

 

Berbagi Tips

Menurut Emmy, ada beragam cara yang bisa dilakukan oleh PR untuk lebih mengenal rekan-rekan media selain melalui jalur formal. Antara lain, terlibat dalam forum wartawan, termasuk komunitas yang mereka ikuti. “Setiap wartawan itu punya komunitas. Mulai dari komunitas wartawan yang meliput sektor tertentu, misalnya ekonomi, sampai komunitas wartawan sesuai minat atau hobi masing-masing,” kata Emmy seraya mencontoh kelompok wartawan yang tergabung dalam komunitas memancing, runners, sampai off-road.

Gara-gara itu pula, perempuan yang sudah malang melintang sebagai PR selama 13 tahun tersebut kini aktif sebagai pelari. Padahal tadinya ia tak suka melakukan olahraga lari. “Saya berlari bersama mereka. Mereka juga yang mendorong saya untuk ikut lomba lari dari 5 km sampai akhirnya maraton,” ujarnya. Lewat komunitas itu pula, ia lebih mengenal rekan-rekan media secara personal, bahkan sampai berhubungan akrab dengan keluarga masing-masing. Hingga akhirnya, tercipta pertemanan yang tulus dan penuh empati.

Tips berikutnya, memahami kerja media dan susunan organisasinya. “Media itu terus bertumbuh, termasuk pelaku di dalamnya. Untuk itu, kita harus terus menerus membina relasi dengan mereka,” katanya seraya berpesan. “PR tidak bisa menyampaikan atau meluruskan informasi yang tidak tepat jika tidak memiliki hubungan yang baik dengan media, baik dari level terbawah sampai tertinggi,” tambahnya.

Selanjutnya, membuat media mapping. Emmy melakukan pemetaan media baik nasional maupun lokal, konvensional sampai on-line. Pemetaan itu berdasarkan relasi yang sudah terjalin selama ini. Mulai dari media yang hubungannya sudah baik sampai yang relasinya masih belum baik atau mesti ditingkatkan.

Lain Emmy, lain juga Suko Widodo, Ketua BPC PERHUMAS Surabaya. Pria yang akhir Oktober lalu baru saja pensiun dari Universitas Airlangga dengan jabatan terakhir sebagai Ketua Pusat Informasi dan Humas ini tak memiliki latar belakang sedikit pun sebagai jurnalis. Meski begitu, ia percaya prinsip membangun hubungan lebih menentukan daripada isi berita.

Sehingga, Suko melanjutkan, ketika ada misinformasi atau terjadi krisis yang sifatnya krusial, PR bisa menyelesaikannya dengan cara baik. Bukan “membeli” berita atau yang sifatnya transaksional. “Karena saya memiliki hubungan yang relatif baik dengan rekan-rekan media, saya bisa memberikan cerita yang utuh kepada mereka,” ujar pria yang dikenal sebagai pakar komunikasi politik tersebut.  Di sisi lain, mereka juga menghormati hal-hal yang sebaiknya tidak disampaikan ke publik agar tidak menambah atau menciptakan keresahan baru. (rtn)

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI