Ragam Cara Mengomunikasikan AKB: Ubah Diksi
PRINDONESIA.CO | Selasa, 04/08/2020
Ragam Cara Mengomunikasikan AKB: Ubah Diksi
pemilihan diksi yang tepat turut memengaruhi trust masyarakat kepada pemerintah.
Dok. Istimewa

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Perubahan situasi yang cepat ditambah tidak adanya rujukan, tak ayal membuat pemerintah gagap saat merespons. Di sisi lain, masyarakat tidak bisa menunggu. Inilah yang dirasakan Adita Irawati, anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Guna menjembatani ekspektasi masyarakat terhadap pemerintah itu, Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas terus melakukan evaluasi dan pembenahan dari waktu ke waktu. “Kami senantiasa mengidentifikasi isu yang sedang sensitif dan berpotensi membuat blunder. Termasuk, jika ada pernyataan yang inkonsisten antara satu kementerian dengan yang lain,” ujarnya saat menjadi pembicara di diskusi bertema “Branding Practice, PR in the New Normal: Building Stakeholders Connection with Empathy” yang diselenggarakan secara virtual oleh Inventure, perusahaan konsultan, riset, pelatihan di bidang marketing dan branding, Kamis (2/7/2020).

Untuk mengantisipasi hal tersebut, mereka memperkuat koordinasi internal dengan menggiatkan rapat-rapat antarkementerian koordinator. Mereka juga menyusun narasi tunggal yang nantinya diturunkan dan disesuaikan oleh masing-masing sektor kementerian/lembaga. “Jika keluar pernyataan yang tidak sesuai keluar, kami segera melakukan klarifikasi kepada K/L yang bersangkutan,” kata Adita yang merupakan Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Komunikasi. “Ini penting. Sebab, akan menimbulkan kesalahpahaman saat framing media,” imbuhnya.

 

“Trust”

Pemilihan diksi yang tepat juga perlu mendapat perhatian serius di tengah situasi seperti ini. Untuk itu, mereka melakukan pendekatan, analisis, hingga membangun engagement dengan target audiens. “Penggunaan kata dari new normal menjadi adaptasi kebiasaan baru itu juga berdasarkan hasil analisis dan evaluasi. Ternyata, tidak semua kalangan memahami istilah new normal,” ujarnya.

Menurut Adita, pemilihan diksi yang tepat turut memengaruhi trust masyarakat kepada pemerintah. Langkah ini juga harus diikuti dengan kemasan dan saluran komunikasi yang digunakan baik secara verbal maupun nonverbal. “Pastikan setiap pesan mengandung muatan empati dan memahami situasi yang terjadi. Kita juga perlu mendalami suasana hati masyarakat,” katanya. Masyarakat saat ini sedang dihadapkan pada situasi yang serba tidak pasti, panik, dan khawatir. Pendekatan yang tepat sangat diperlukan agar pemerintah dapat membangun koneksi dengan masyarakat. 

Perempuan yang pernah menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi itu tak memungkiri, kondisi yang sedang dihadapi negeri ini ditambah latar belakang budaya dan karakter yang beragam menjadi tantangan tersendiri bagi humas pemerintah. Di sisi lain, pandemi juga mendorong mereka untuk cepat beradaptasi. Salah satunya, memaksimalkan keberadaan teknologi digital untuk membangun komunikasi dan mendistribusikan pesan. Termasuk, memahami setiap karakteristik saluran komunikasi, membuat konten yang relevan sesuai mediumnya, serta menjadikan monitoring dan social listening sebagai bagian dari rutinitas yang wajib dilakukan. (ais)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI