Nuraini Razak, Tokopedia: "Mulai Aja Dulu"
06 July 2020
Ratna Kartika
0
Nuraini Razak, Tokopedia:
Esensi PR itu selalu sama apa pun industrinya. Yaitu, merangkai narasi atau storytelling untuk membangun reputasi dan kepercayaan.
Dok.Pribadi

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Berawal Februari lalu, ketika kami memintanya menjadi salah satu narasumber Main Story. Aini, begitu ia karib disapa, menyanggupi. Namun, karena kesibukannya yang luar biasa padat, ia hanya bisa menjawab pertanyaan kami secara tertulis disertai janji akan saling menyempatkan waktu untuk bertemu. Apa daya pandemi Covid-19 terlanjur masuk ke tanah air, diikuti imbauan pemerintah untuk bekerja dari rumah hingga PSBB yang makin memisahkan jarak.

Meski begitu, Aini selalu sigap membantu, berbagi cerita dan pengalaman tiap kali kami butuhkan. Kesempatan untuk mengenal lebih jauh perempuan yang berlatar pendidikan jurnalisme, media dan komunikasi masing-masing dari RMIT University dan Deakin University, Australia, itu datang ketika kami meminta kesediaannya untuk menjadi sampul muka dan mengisi Rubrik Interview edisi Juni ini.

Karena masih dalam masa pandemi, ia bahkan bersedia melakukan pemotretan secara mandiri, bahkan hingga dua kali untuk memberikan hasil yang maksimal, khusus bagi pembaca PR INDONESIA.

Walaupun hingga saat ini kami belum sempat bertemu secara fisik, kami meyakini perempuan yang telah mengantongi banyak pengalaman di berbagai industri mulai dari migas, NGO hingga asuransi ini adalah sosok yang hangat dan menyenangkan. Ini tercermin dari setiap interaksi dan jawaban tertulisnya. Sosoknya juga terasa spesial karena ia adalah satu dari sedikit perempuan yang memimpin Divisi Corcomm di industri teknologi digital. Kepada PR INDONESIA, ia berbagi kisah.

 

Kami dengar Anda sudah lama memiliki ketertarikan di bidang media dan komunikasi?

Benar. Saya sudah tertarik dengan dunia komunikasi sejak kuliah. Di RMIT University, Australia, saya mengambil gelar Sarjana di bidang Jurnalisme. Setelah itu, saya melanjutkan pendidikan pascasarjana di bidang Media and Communication di Deakin University. Selepas kuliah hingga saat ini, perjalanan karier saya konsisten di area media/komunikasi, CSR dan hubungan pemerintah.

 

Lalu, bagaimana ceritanya sampai Anda bisa berlabuh di PR?

Saya memulai karier di Medco pada tahun 2005. Saya bergabung untuk memperkuat kegiatan CSR dari Medco Group. Lalu, berlanjut ke ExxonMobil Indonesia pada tahun 2007 sebagai Communications/Media Relations Coordinator dan kemudian menjadi Manajer sebelum akhirnya pindah ke UNICEF Indonesia.

Di ExxonMobil, saya membangun jejaring dengan rekan-rekan jurnalis baik di Jakarta kantor pusat, maupun di lapangan, di area lokasi operasi perusahan, dari Aceh, sampai ke Sulawesi. Sekaligus, belajar mengembangkan strategi media relations bagi perusahaan.

Sementara itu, saat di UNICEF Indonesia, saya mengemban tanggung jawab sebagai Communication Specialist. Selama di UNICEF, saya banyak bekerja sama dengan pemerintah Indonesia. Terutama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk berkolaborasi mengedepankan hak-hak anak.

Setelah hampir empat tahun di UNICEF Indonesia, saya pindah ke Prudential Indonesia sebagai Senior Manager of Government and Industry Relations dan kemudian menjadi AVP - Head of Government and Industry Relations. Di posisi tersebut, saya banyak membangun komunikasi dengan pemerintah dan asosiasi di industri dalam membantu meningkatkan literasi finansial masyarakat Indonesia.

 

Selanjutnya?

Setelah hampir lima tahun di Prudential Indonesia, saya lalu hijrah ke perusahaan teknologi Tokopedia, yang kebetulan memang selalu jadi tempat favorit saya belanja on-line, sebagai Vice President of Corporate Communications (Corcomm). Di Tokopedia, saya bersama tim bertanggung jawab atas segala bentuk komunikasi ke dalam maupun ke luar perusahaan serta membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan di industri.

 

Apa yang melatarbelakangi Anda menjadi bagian dari perusahaan teknologi digital/e-commerce seperti Tokopedia?

Alasannya sangat personal. Saya adalah pengguna setia Tokopedia sejak dulu. Setiap kali terlintas ingin bekerja di industri teknologi, saya kepinginnya, ya, di sini.

Selain itu, saya merasa teknologi itu sudah menjadi bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, saya percaya dengan bekerja di perusahaan teknologi seperti Tokopedia, saya bisa memenuhi keinginan dalam diri untuk bisa berkontribusi membantu memudahkan kehidupan orang banyak.

 

Sebagai PR di industri teknologi digital yang perkembangan dan perubahannya begitu dinamis, bagaimana cara Anda mengejar,  bahkan menyamakan kecepatan?

Saya sangat bersyukur dikelilingi tim yang hebat dan kompeten di bidangnya. Saya juga belajar banyak dari mereka, bertukar pikiran dan berbagi tren-tren baru. Jadi, kita belajar dan bisa lari sama-sama.

Di waktu luang, saya juga kadang menyempatkan waktu membaca dan mengobrol dengan teman-teman dari praktisi PR untuk saling menyampaikan informasi terkini di bidang pekerjaan masing-masing dan informasi terbaru yang terjadi di industri ini.

 

Ketika mendapat amanah sebagai VP of Corcomm Tokopedia, apa yang menjadi perhatian utama Anda?

Fokus utama saya saat itu adalah memperkuat struktur dan fungsi tim Corcomm. Saat ini, Divisi Corcomm Tokopedia terbagi ke dalam empat meliputi Internal Communications, External Communications, Media Intelligence, dan Community.

Dengan struktur yang terpetakan secara rinci dan spesifik, fungsi komunikasi di perusahaan ini bisa semakin maksimal dan efektif dalam menjangkau seluruh pemangku kepentingan.

Di sisi lain, sebagai perusahaan teknologi yang hanya berfokus pada Indonesia, salah satu perhatian utama saya saat itu adalah semakin memperkuat brand Tokopedia di daerah-daerah di Indonesia lewat narasi yang kreatif, relevan dan humanis.

 

Di tengah banyaknya tantangan dan tuntutan kepada profesi PR, menurut Anda, hal apa saja yang harus diperhatikan oleh PR? 

Dengan dinamika industri PR saat ini, terlebih di industri teknologi yang berkembang begitu pesat, banyak sekali keterlibatan PR dengan fungsi lain di dalam maupun di luar perusahaan. Untuk itu, praktisi PR dituntut harus mampu melihat semua hal secara lebih menyeluruh  atau helicopter view dalam merumuskan strategi komunikasi.

Selain itu, praktisi PR juga harus selalu up-to-date dan belajar cepat. Di era digital ini, informasi menyebar begitu cepat sehingga praktisi PR harus mampu melihat peluang dari sebuah tren. Serta, mengambil langkah-langkah strategis dan antisipatif jika ada sinyal-sinyal terjadinya krisis.

Dengan peran PR sebagai penyambung lidah perusahaan, saya rasa penting bagi praktisi PR untuk memiliki pemahaman yang baik di luar PR itu sendiri, seperti marketing, tren bisnis, finansial, dan lain-lain.

 

Saat berhadapan dengan isu/krisis, apa langkah taktikal (dos and don'ts) yang Anda bersama tim lakukan?

Pertama, bentuk tim krisis dan jangan reaktif. Kumpulkan semua fakta secara jelas dan analisis secara teliti sebelum merespons. Kedua, transparan dalam berkomunikasi.

 

Terbuka terhadap informasi ini bertujuan untuk memastikan kita tetap menjadi sumber informasi pertama. Sekaligus, sebagai upaya untuk mengontrol narasi yang beredar di publik. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi potensi munculnya informasi-informasi dari pihak lain yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

 

Adakah pengalaman menarik dan menantang selama berkarier di Tokopedia?

Banyak. Dengan pesatnya pertumbuhan Tokopedia sekarang, tantangannya lebih kepada “pintar-pintar” merangkai narasi yang kreatif dan relevan untuk setiap inovasi produk, pesan dan inisiatif perusahaan yang kami luncurkan. Apalagi saat ini Tokopedia memiliki empat lini usaha dan 35 produk digital yang tentunya perlu upaya komunikasi yang konsisten.

Pengalaman yang paling menarik dan berkesan, salah satunya, adalah ketika saya bertemu dan mendengar cerita kesuksesan penjual. Setiap kali diskusi dengan penjual, saya benar-benar melihat bagaimana mereka menerapkan semangat “Mulai Aja Dulu”. Dari awal coba-coba membuka toko sampai akhirnya usaha mereka berkembang, bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan baru.

Ketika pekerjaan dan jadwal sedang padat, cerita-cerita mereka bisa selalu jadi angin segar dan semangat baru buat saya karena saya tahu pekerjaan ini benar-benar  berdampak nyata bagi kehidupan banyak orang.

 

Sejak kapan menemukan passion di bidang PR?

Sebenarnya menemukan passion saat masih muda itu susah-susah gampang. Kalau saya sendiri terinspirasi dari ayah saya. Saya ingin sekali menjadi seorang jurnalis. Itulah mengapa saya akhirnya mengambil jurusan Jurnalisme saat kuliah S1.

Namun, saat belajar jurnalisme, saya sadar bahwa storytelling tidak hanya bisa dilakukan seorang jurnalis, namun seorang PR juga bisa menjalankan fungsi yang sama.

 

Adakah tokoh yang Anda kagumi dan menginspirasi? Mengapa?

Ibu Sri Mulyani. Alasannya, yang pasti karena prestasinya yang tidak hanya sebagai perempuan Indonesia, tapi sebagai warga negara Indonesia, sangat membanggakan.

Dengan prestasinya itu pula, beliau mampu membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan, terutama di pemerintahan, sudah berjalan di luar stereotip perempuan yang hanya bisa bekerja di bidang feminin.

 

Selain contoh yang baik untuk saya pribadi, Ibu Sri Mulyani juga dapat menjadi contoh bagi perempuan di seluruh Indonesia bahwa kita semua juga punya kemampuan menjadi pemimpin. Karena kemampuan itu, perempuan juga perlu panutan yang baik. Dan, untuk saya panutan tersebut adalah beliau.

 

Seperti apa dukungan keluarga terhadap karier Anda?

Keluarga sangat mendukung penuh karier saya. Kebetulan pekerjaan suami saya juga di industri teknologi. Jadi, kami sangat mengerti tuntutan pekerjaan masing-masing, dan juga dapat saling mendukung pekerjaan di kantor maupun di rumah, we are a team.

 

Bagaimana Anda membagi waktu antara pribadi, keluarga dengan pekerjaan?

Semua orang pasti ingin selalu berusaha untuk menemukan keharmonisan yang tepat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Saya percaya dengan konsep work-life harmony, di mana waktu untuk keluarga, pekerjaan dan pribadi sebagai sebuah lingkaran yang harus dijalani dan ditemukan keselarasannya saja.

Dalam arti, ada suatu masa di mana saya akan lebih banyak fokus kepada pekerjaan, dan ada waktu di mana saya akan lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga dan pribadi. Jadi, cukup ditemukan iramanya saja. Tidak harus semua seimbang di saat yang bersamaan.

 

Apa yang Anda lakukan saat “me time”?

Browsing dan belanja di Tokopedia ha-ha-ha! Terus terang sebagai ibu dari seorang batita, saya sudah jarang sekali punya waktu belanja kebutuhan di toko off-line. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan dapur pun saya lebih sering beli secara on-line.

Selain itu, me-time saya adalah mendengarkan podcast dan mencoba untuk tetap update dengan berbagai perkembangan yang terjadi di dunia.

 

Apa prinsip hidup Anda?

Mulai aja dulu. Kadang kita kebanyakan berpikir dan menyabotase diri sendiri ketika ingin memulai sesuatu. Akhirnya, kita tidak pernah mulai. Yang paling penting cukup mulai dulu. (rtn)

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI