Bergesernya “Personal Branding” Saat Pandemi
04 July 2020
Ratna Kartika
0
Bergesernya “Personal Branding” Saat Pandemi
Personal branding adalah proses yang dilakukan seseorang untuk memperkenalkan kompetensinya kepada stakeholder secara efektif dan efeisien.
Dok. Young on Top

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Demikianlah yang disampaikan Silih Agung Wasesa, pakar personal branding yang juga penulis buku Personal Branding Code di acara Indonesia Brand Forum 2020 bertema “Personal Branding in the Post-Pandemic World”, Kamis (2/6/2020).

Menurutnya, hal ini dikarenakan ada prubahan arus yang terjadi selama pandemi Covid-19. Di masa itu, ketika sebagian besar masyarakat lebih banyak beraktivitas bahkan bekerja dari rumah lahir telah mendorong perilaku yang dikenal dengan istilah emphatic society. “Kepedulian antarsesama manusia menjadi semakin kuat,” kata pria yang sudah 25 tahun menggeluti strategi komunikasi dan branding itu.

Jadi, kata Silih, personal branding seseorang itu bisa berubah dan bertumbuh. Tapi, ada baiknya direncanakan. Ia mencontoh pasta gigi, meski fungsi utamanya membersihkan dan merawat gigi, tetapi setiap kurun waktu tertentu mengalami perkembangan seperti mencegah gigi berlubang, membuat gigi menjadi lebih putih, dan seterusnya. “Selain berkembang, keberadaannya semakin memberikan banyak solusi,” ujarnya.  

Karena pada dasarnya, personal branding adalah proses yang dilakukan seseorang untuk memperkenalkan kompetensinya kepada stakeholder secara efektif dan efisien. “Kepentingan membangun personal branding itu tidak harus terkenal, tapi dikenal,” katanya.

 

Tiga Elemen

Ada tiga elemen yang harus diperhatikan dalam membangun personal branding. Pertama, masuk ke lingkaran keberuntungan. Untuk masuk ke lingkaran itu, maka jadilah pintu pembuka bagi orang lain. “Sebab, personal branding bukan soal yang bersangkutan harus terkenal, tapi dikenal. Salah satunya dengan cara memberikan solusi bagi orang lain melalui kompetensi yang dia miliki,” kata Silih.

Kedua, memiliki inner beauty. Cantik dari dalam itu penting, namun kita tidak boleh melupakan kecantikan dari luar. “Bukan berarti harus operasi plastik, tapi belajarlah untuk berpenampilan rapi, nyaman dan menarik bagi diri sendiri dan mereka yang sedang bersama kita,” ujarnya.

Ketiga, kompetensi yang unik dan beda. Ia mencontoh pendongeng yang ingin membangun personal branding. Ia memiliki keahlian menirukan berbagai suara hewan. Keahlian ini sangat diperlukan bagi seorang pendongeng, tapi tidak istimewa karena hampir semua pendongeng memiliki keahlian serupa.

Ketika digali ternyata ada salah satu fungsi mendongeng yang luar biasa manfaatnya, namun belum banyak diketahui orang lain. Mendongeng ternyata mampu membangkitkan trauma. Ia lantas membangun personal branding sebagai pendongeng yang memiliki spesialisasi terapi mendongeng. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai keahlian yang menjadi solusi bagi orang lain. “Fokus ke dalam. Gali kompetensi yang ada di dalam diri kita,” katanya berpesan.  

Silih melanjutkan, jika sudah memenuhi kaidah tadi, maka kita bisa menyebutnya personal branding, bukan pencitraan. “Menjadi pencitraan ketika antara kemasan dengan isi tidak sesuai,” tutupnya. (rtn)

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI