Bedah Survei PR INDONESIA: Komunikasi dan Koordinasi Jadi Kendala Terbesar
02 July 2020
Ratna Kartika
0
Bedah Survei PR INDONESIA: Komunikasi dan Koordinasi Jadi Kendala Terbesar
Hikmah pandemi luar biasa banyak. Salah satunya, peluang baru.
Malhaf/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Inilah yang tercermin dari survei yang diadakan PR INDONESIA kepada 103 pelaku PR, akhir April 2020. Sebanyak 24 persen responden mengaku kendala terbesar selama pandemi adalah terhambatnya komunikasi dan koordinasi.  

Disusul tantangan seperti kendala anggaran (16%), tuntutan untuk selalu kreatif menciptakan kegiatan daring (13%), sinyal (12%), belum terbiasa adaptasi dan terbatasnya ruang gerak karena adanya imbauan jaga jarak fisik dan sosial (9%), banyak event ditunda/dibatalkan, tapi key performance index (KPI) tetap (7%), lain-lain (6%), serta fokus pemberitaan masih tentang Covid-19 (4%).

Tak bisa berkomunikasi dan berkoordinasi tanpa bertemu secara fisik menjadi isu terbesar yang paling dirasakan Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Eva Chairunisa di awal pandemi. Pasalnya, KAI sebagai layanan publik menjadi salah satu industri yang paling terdampak selama pandemi. Banyak kebijakan pemerintah yang kemudian diturunkan menjadi kebijakan perusahaan dan harus disosialiasikan ke publik. Contoh, pembatalan tiket. Ketika itu KAI mendorong pelanggan yang ingin membatalkan perjalanannya agar tidak perlu datang ke stasiun. Cukup melalui aplikasi KAI Access. Ia dan tim juga harus memproduksi materi sosialisasi sendiri sebelum didistribusikan kepada rekan-rekan media.

Agustini Rahayu, Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf sependapat. “Tantangan humas di era pandemi ini adalah menenangkan masyarakat dengan menyajikan informasi yang berimbang,” ujarnya.

Menurut Buceu Gartina, Kabag Humas dan Protokol Pemkot Tangerang, tantangan terberat humas pemerintah saat ini adalah harus menyampaikan informasi, sosialisasi, edukasi, sampai mengubah perilaku masyarakat seperti beribadah di rumah dan tidak mudik di tengah banyaknya keterbatasan. “Kami tidak sekadar menyosialiasikan aturan, tapi harus disertai sosialiasi penegakan hukum atau sanksi,” imbuhnya. 

Sementara produsen vaksin seperti PT Bio Farma (Persero) justru sedang mendapat banyak perhatian selama pandemi. Aktif menyampaikan perkembangan terkini dan membuka akses seluasnya adalah kunci agar publik mendapatkan informasi yang benar, tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Di satu sisi, terpusatnya atensi publik terhadap berita tentang Covid-19 menjadi dilema tersendiri bagi PR ketika menyampaikan informasi terkait capaian perusahaan atau informasi di luar Covid-19. “Solusinya, kembali ke prinsip dasar perusahaan. Perusahaan kami menjalankan bisnis berdasarkan prinsip 5C: community, country, company, climate, dan customer,” ujar Anita Bernardus, Deputy Director Corporate Communications APRIL Group.

Sementara Jojo S. Nugroho, Managing Director IMOGEN PR, mengaku masih ada perasaan kurang nyaman ketika harus berkomunikasi dengan klien secara virtual. Apalagi jika harus bertukar pikiran guna mengetahui kebutuhan klien untuk waktu yang panjang via Zoom disertai lika-likunya.

Sebut saja, kendala sinyal, delay saat berbicara atau presentasi. “Seperti ada chemistry yang kurang. Enaknya sembari bertemu dan ngopi bareng, ha-ha!” kata pria yang masih merasa kurang nyaman apabila melakukan kesepakatan kontrak via telepon atau video conference.

Adanya pemotongan anggaran juga jadi kendala kedua terbesar yang dirasakan pelaku PR. Jojo dan tim, misalnya, terpaksa melakukan renegosiasi layanan. Bahkan ada proyeknya yang tidak dilanjutkan karena operasional perusahaan klien terhenti saat pandemi. “Yang penting bagi kami saat ini adalah mendapat kepastian dari klien. Kami juga lebih mengutamakan pembayaran cash yang cairnya cepat dan pasti dibayar agar cash flow tetap terjaga,” imbuhnya.

 

Adaptasi

Pemotongan anggaran dan banyaknya masyarakat yang melakukan aktivitas dari rumah, termasuk bekerja, membuat pelaku PR memilih untuk memindahkan kegiatan yang tadinya off-line ke on-line. Di sinilah kreativitas PR dibutuhkan. Menurut Ketua Umum BPP Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) Agung Laksamana, ada tiga mantra penting untuk PR dalam menghadapi era normal yang baru.

Pertama, adapt. Beradaptasi dengan normal yang baru. Kedua, adopt. Mengadopsi perubahan-perubahan terkait waktu, budget, konten dan mengeksplorasi kanal-kanal baru. Ketiga, adept. Setelah melalui dua proses tadi, PR menjadi kian mahir.

Apalagi KPI tetap berjalan selama pandemi. “Dari segi KPI digital, frekuensinya justru makin meningkat,” kata Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Boy Kelana Soebroto dan tim. “Kita dipaksa untuk terus kreatif karena the show must go on,” ujar Wakil Ketua Umum III BPP PERHUMAS itu.

Jojo menambahkan, “Jangan menunggu Covid sampai selesai, baru kita bergerak. Bisa jadi ketika pandeminya selesai, kita juga selesai (tutup),” katanya. Menurutnya, mulai saja dulu, jangan takut ambil risiko. “Prosesnya memang tidak mudah, tidak nyaman dan harus mau repot. Jika tidak bisa bergerak sendiri, maka berkolaborasilah,” ujar pria yang merupakan Ketua Umum APPRI itu.

 

Kolaborasi

Ya, kolaborasi menjadi kata kunci yang tak kalah penting setelah adaptasi di masa pandemi ini. Persis seperti IMOGEN PR berkolaborasi dengan agensi yang memiliki keahlian di bidang multimedia/video mapping ketika ada klien yang ingin membuat webinar via Zoom semenarik seperti sedang menonton televisi. “Mungkin yang kami tawarkan ini proyek ‘receh’ bagi mereka yang ahli di bidang multimedia dan terbiasa mengerjakan proyek besar. Tapi, inilah momentum bagi kita memiliki ruang yang luas untuk saling belajar,” kata Jojo, bijak.     

Hikmahnya pun luar biasa banyak. Salah satunya, peluang baru. Pengalaman menyelenggarakan event secara virtual bisa menjadi peluang bisnis menjanjikan ke depan. “Bisa jadi nanti akan ada usaha atau bagian baru bernama virtual event management,” ujarnya.

Tuntutan digitalisasi membuat agensi kebanjiran permintaan untuk merapikan atau meningkatkan traffic media sosial dan situs resmi agar reputasi perusahan tetap terjaga selama pandemi. “Terbukanya pintu dari perusahaan kepada karyawan untuk mengikuti pelatihan on-line selama bekerja dari rumah juga menjadi pasar baru yang kami tangkap dan bisa kami garap,” imbuhnya.                                    

Agung justru menilai pandemi membuat engagement antarsesama anggota PERHUMAS di seluruh Indonesia semakin kuat. Kesempatan berkomunikasi, berbagi pengetahuan dan berkolaborasi menjadi tanpa batas.

Mereka juga menyadari pentingnya PR berjejaring, melakukan pemetaan untuk mengetahui kebutuhan dan kekuatan masing-masing sehingga tercipta keterhubungan dan kolaborasi.

Bagi Kemenparekraf, pandemi menyempurnakan rencana cadangan (contigency plan) komunikasi krisis yang selama ini mereka miliki. Pun civitas akademika. Pandemi mendorong kampus melahirkan kebijakan yang kian relevan. Mereka makin adaptif dengan proses pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi informasi. Pada akhirnya, pandemilah yang telah memaksa kita untuk memahami arti disrupsi yang sesungguhnya. (ais/rtn)

  

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI