Bedah Survei PR INDONESIA: Zoom, Aplikasi “Meeting” Terfavorit
01 July 2020
Ratna Kartika
0
Bedah Survei PR INDONESIA: Zoom, Aplikasi “Meeting” Terfavorit
Sebanyak 53,5 persen responden kementerian memilih menggunakan aplikasi besutan Eric Yuan, Zoom.
Malhaf/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Potret itu juga tampak dari hasil survei PR INDONESIA, akhir April 2020, terhadap 103 praktisi PR di seluruh Indonesia. Sebanyak 53,5 persen responden kementerian memilih menggunakan aplikasi besutan Eric Yuan ini, diikuti anak usaha BUMN (42,8%), agensi PR (41,7%), BUMN (41%), BUMD (40%), pemda dan lembaga (37,5%), perusahaan swasta (33,4%), dan perguruan tinggi (30,4%). Alasan mereka umumnya sama: mudah dan paling banyak digunakan.

“Zoom menjadi aplikasi paling mainstream yang digunakan selama pandemi. Terutama bagi mereka yang bekerja dari rumah,” kata Kabiro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Agustini Rahayu. Ia juga menggunakan aplikasi itu untuk melakukan rapat mingguan baik bersama keseluruhan tim maupun tim khusus kehumasan.

Sementara responden agensi PR, umumnya menggunakan Zoom untuk berkoordinasi dengan klien dan mengadakan konferensi/diskusi virtual dengan melibatkan audiens berskala besar. Sementara untuk berkoordinasi dengan internal umumnya mereka lebih banyak menggunakan Google Meet (23,6%) dan Google Hangouts (12,6%). “Selain sudah banyak yang familiar, Zoom juga lebih user friendly,” kata Ketua Umum APPRI Jojo S. Nugroho.  

Alasan serupa juga disampaikan oleh Kabag Humas dan Protokol Pemkot Tangerang Buceu Gartina. “Untuk konferensi pers secara virtual, kami menggunakan Zoom. Tapi, untuk diskusi internal, kami biasanya menggunakan video call/conference yang dimiliki WhatsApp,”ujarnya.

Zoom juga populer di kalangan korporasi swasta. Deputy Director Corporate Communications APRIL Group Anita Bernardus mengatakan, mereka kerap melakukan weekly, monthly progress and deliverables report, monthly progress Zoom meeting bersama tim Corporate Communications APRIL dan RGE di Singapura. Sementara untuk memaksimalkan koordinasi, mereka memanfaatkan e-mail, grup WhatsApp, phone check-in dan ada kalanya menggunakan Google Meet. 

Tim Corporate Communication Bio Farma merasa nyaman menggunakan Zoom. Yuni Miyansari, Corcomm Bio Farma, mengaku lebih efektif ketika berkoordinasi lewat aplikasi seperti Zoom. Pemateri didorong mampu mengemas pesan yang jelas, singkat, padat, tapi mudah dipahami. Sebab, jika bertele-tele, peserta menjadi tidak fokus dan jenuh. “Kuncinya terletak pada inti pesan yang mau kita sampaikan dan sebisa mungkin menyederhanakan konten agar mudah dipahami,” ujarnya.

Sementara di kalangan responden perguruan tinggi, aplikasi telekonforensi yang digunakan lebih beragam. Setelah Zoom, peringkat kedua ditempati oleh pilihan lainnya (21,7%), diikuti Go to Webinar (17,4%). Hal ini dibenarkan oleh dosen Prodi Humas FIKOM UNPAD yang juga Wakil Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Ade Kadarisman. Beberapa adaptasi kegiatan belajar mengajar dan kehumasan yang digunakan selain Zoom di antaranya Google Meet, Cisco Webex, dan Spoon yang berbasis audio. Khusus kuis dan evaluasi berbasis pilihan ganda, mereka menggunakan Quizizz. “Apapun aplikasinya, yang pasti materi harus disampaikan dengan visual menarik agar peserta tidak cepat bosan,” ujarnya.

 

Pengalaman Baru

Penggunan Zoom di kalangan agensi PR juga tinggi. Perbedaannya hanya terletak pada upaya memenuhi permintaan klien. Ketika selama pandemi semua pelaku PR memanfaatkan ranah aplikasi telekonferensi secara daring untuk mengadakan diskusi, pelatihan hingga event virtual dengan tampilan yang sama dan itu-itu saja, ada ekspektasi lain dari klien.

Mereka ingin menampilkan acara virtual dengan tampilan berbeda dan berkesan meski melalui platform yang sama. “Bukan perkara mudah karena medium berkreasinya hanya melalui aplikasi,” kata Jojo S. Nugroho, Managing Director IMOGEN PR.

Jojo membagikan pengalamannya. Ketika itu kliennya menunjukkan event virtual yang telah lebih dulu dilakukan oleh salah satu perusahaan BUMN sebagai benchmark. “Pertama kali menonton, jujur kami terkejut,” ujarnya mengaku. Sebab, meski sama-sama menyelenggarakan webinar melalui aplikasi telekonferensi daring dan disiarkan secara live, tapi tampilannya mirip seperti sedang menonton berita di televisi. “Ada transisi, bumper-in, bumper-out, setiap pemateri disertai nama dan jabatan, bahkan ada running text,” kata Jojo. Persoalannya, mereka tidak memiliki kompetensi di bidang itu. Jalan keluarnya, kolaborasi.

Permintaan lain yang tak kalah mengejutkan, acara Ramadan yang diselenggarakan melalui Zoom itu berlangsung untuk durasi yang panjang, 8 jam. Padahal webinar biasanya diselenggarakan paling lama dua jam. Audiensnya pun banyak, hingga 1.000 peserta. “Salah satu KPI kami adalah menjaga agar peserta yang jumlahnya seribu itu tidak leave meeting,” katanya.

Semua unsur mulai dari kemasan, susunan dan pengisi acara, hingga alur yang menarik, harus terpenuhi. Mereka juga harus meminimalisasi kendala yang mungkin terjadi selama acara berlangsung. Sepuluh co-host dilibatkan. Semua co-host berkoordinasi melalui WhatsApp Group.

Di sinilah perbedaan paling mendasar yang dirasakan oleh tim di balik layar. Koordinasi dan komando yang biasanya dilakukan di satu tempat dengan menggunakan HT, sekarang harus dilakukan di rumah masing-masing via WAG. “Walaupun acaranya diselenggarakan on-line, pelaksanaannya sudah seperti mempersiapkan konser. Sementara persiapannya hanya tiga hari,” katanya.

Pada akhirnya, pengalaman itu menjadi pembelajaran luar biasa. “Pengalaman yang tidak akan pernah kita dapatkan kalau tidak ada pandemi. Ternyata ketika kita dipaksa, kita bisa,” tutupnya. (rvh/rtn)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI