Komunikasi yang Relevan
27 November 2019
Ratna Kartika
0
Komunikasi yang Relevan
Pesan dan gaya kepemimpinan setiap pemimpin harus menyesuaikan dengan publik yang ia pimpin.
Dok. Istimewa

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Maksud Kang Emil, begitu Sang Gubernur karib disapa, agar pesan-pesan maupun gaya kepemimpinan setiap pemimpin harus benar-benar menyesuaikan diri dengan publik yang ia pimpin. Konkretnya, jika rakyat yang dipimpin hari ini banyak memanfaatkan gawai dalam berkomunikasi, ya, sang pemimpin haruslah memanfaatkan hal yang sama. Supaya pesan yang ia komunikasikan tepat sasaran.

Kendati sederhana, tapi pada praktiknya tidak mudah berkomunikasi agar selalu bisa relevan. Ada banyak faktor yang menyelimutinya. Sebutlah soal ego kepemimpinan. Ada banyak pemimpin yang terlalu yakin (over confidence) jika gaya kepemimpinannya selama ini sudah benar. Buktinya, dia terpilih kembali menjadi pemimpin melalui mekanisme demokrasi pemilihan langsung. Jadi, apalagi yang harus diubah supaya “relevan” tadi?

Ego kepemimpinan yang berkarat, juga sulit menyesuaikan perubahan program komunikasi yang dijalankan. “Jika program selama ini saja sudah berhasil, mengapa harus berubah lagi?” Begitulah kira-kira jawaban yang acap kali muncul saat berdiskusi tentang pembaruan program.

Tentu saja program yang berubah-ubah setiap saat juga tidak bagus. Kesinambungan program kerja dan komunikasi dibutuhkan sepanjang masih relevan dengan target yang dibidik. Jika demikian, bagaimana mendorong agar isu “relevan” bisa menjadi “kunci” setiap upaya komunikasi?

Salah satu jalan terbaik adalah dengan menguji produk/program komunikasi yang dijalankan melalui sebuah kompetisi. Cara yang lain bisa menggunakan pendekatan audit komunikasi. Bertanya kepada publik, apakah pesan-pesan yang dikomunikasikan selama ini masih relevan dengan kebutuhan yang ingin didengar dan diketahui publik? Jika tidak, sepatutnya sesegera mungkin melakukan perubahan.

 

Bertindak Strategik

Relevan dalam setiap situasi menjadi sangat urgen untuk terus-menerus dipastikan, dikawal, dan diingatkan terus-menerus. Pesan-pesan komunikasi yang tidak relevan, apalagi disampaikan oleh sosok yang tidak tepat dan pada situasi yang salah, hanya akan memperburuk situasi. Bahkan bisa berujung pada koreksi terhadap reputasi yang dimiliki.

Kabar bagusnya, jika setiap pesan komunikasi mampu diciptakan dan dikelola secara relevan, akan makin mempertebal kredit bagi institusi, pemimpin, dan siapapun yang menyampaikannya. Berkahnya, reputasi bakal terangkat tinggi, menjadi saldo positif untuk berjaga-jaga dari situasi krisis.

Membangun pesan yang relevan juga tak perlu menguras tabungan di brankas. Cukup bertindak strategik dalam memahami sebuah situasi, memetakan dengan jernih, menyusun strategi dan pesan yang ciamik, niscaya komunikasinya pun bakal berbuah apik. Dan, tentu saja relevan!

Sudah relevankah pesan dan cara Anda berkomunikasi? Jika belum, patutlah berintrospeksi, belajar kembali, dan ujilah setiap saat tanpa henti hingga menemukan titik relevannya untuk kemudian baru dikomunikasikan kepada publik. (Asmono Wikan)

 

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI