Penjurian KaHI 2026: Meramu Kebiasaan Domestik Jadi StratKom Berdampak
PRINDONESIA.CO | Selasa, 08/09/2026
Penjurian KaHI 2026: Meramu Kebiasaan Domestik Jadi StratKom Berdampak
Rektor Universitas Lampung (Unila) Lusmeilia Afriani di penjurian KaHI 2026, Kamis (3/9/2026).
doc/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO— Prevalensi balita tengkes Nusa Tenggara Timur menembus angka 37 persen berbanding rata-rata nasional 19,8 persen pada pertengahan 2024. Krisis nutrisi akut ini mendesak Pelaksana Tugas Kepala Subbagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan Poltekkes Kemenkes Kupang Tutik Alawiyah menyulap rutinitas dapur harian menjadi perisai ketahanan pangan daerah. Ia membongkar taktik komunikasi publik inovatif tersebut bersama tiga kandidat lain pada penjurian Kartini HUMAS INDONESIA (KaHI) 2026, Kamis (3/9/2026).

Keempat tokoh perempuan itu sepakat menata ulang kebiasaan domestik demi memperbaiki nasib kesehatan dan ekologi masyarakat. Tutik spesifik merancang gerakan pengolahan kacang kedelai sejak sembilan tahun silam guna meredam ancaman kurang gizi balita kawasan pesisir daratan Kupang. Tim bentukannya proaktif mengedukasi warga pesisir mengenali kandungan protein sari kedelai bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan penderita intoleransi laktosa. “Saya meyakini banyak hal besar bisa dimulai dari dapur kecil kita sebagai ruang produksi, kreativitas, dan tempat lahirnya gagasan bermanfaat," ujar Tutik. 

Penjelasan singkat Tutik itu langsung memantik rasa penasaran dewan juri Dyah Rachmawati yang merupakan Pranata Humas Perpustakaan Nasiona (Perpusnas). Ia melayangkan pertanyaan tentang latar belakang gagasan tersebut. Menjawabnya, Tutik mengatakan bahwa posisi gerakan sosial ini berdiri secara mandiri untuk menopang ekonomi warga lokal. "Susu kedelai ini merupakan UMKM mandiri saya, namun tetap mendapat dukungan penuh dari Poltekkes Kupang," ucapnya.

Dengan semangat yang sama, Rektor Universitas Lampung (Unila) Lusmeilia Afriani hadir dengan pengelolaan tumpukan sisa sayur dan kulit buah. Ia menggerakkan mahasiswa memfermentasi limbah organik kampus menjadi cairan ekoenzim multifungsi. "Bagi sebagian orang, limbah dapur seperti kulit buah dan sisa sayuran sering kali dianggap sampah tidak bernilai," tuturnya seraya menjelaskan bahwa inisiatif tersbut telah menjernihkan lima embung kampus serta menghidupkan kembali ekosistem akuaponik. 

Merespons penjelasan Lusmeilia, Wakil Rektor LSPR Janette Maria Pinarya selaku juri tertarik dengan skema kolaborasi penggarapan program pengolahan limbah ini. Khususnya peran rektor dalam mendorong Humas UNILA agar benar-benar mantap dan berdampak luas dalam mengomunikasikan riset-riset seperti ini kepada stakeholders.

Menjawabnya, Lusmeilia menerangkan, secara prinsip ia menyatukan keahlian lintas disiplin ilmu untuk melatih pengurus Dharma Wanita dan santri pesantren setempat. Warga sekitar kampus itu dibimbung untuk menyulap cairan organik rumah tangga menjadi sabun, pupuk, dan sampo alami bernilai ekonomi tinggi. Sementara humas kampus, lanjutnya, melibatkan kelompok mahasiswa meracik literatur sains rumit menjadi siaran televisi edukasi berbahasa ringkas bagi khalayak awam.

Kampanye Pangan Nusantara

Serupa tapi tak sama, Pranata Humas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Yudhit Anatha lebih menyoroti mempersoalkan tingginya angka konsumsi sereal dan pasta gandum impor di kalangan anak muda. Dalam konteks ini, ia memproduksi tayangan edukatif yang bertujuan mengubah citra ubi jalar kukus kaya antioksidan menjadi menu kekinian melintasi platform TikTok. "Sampai kapan kita akan terus dijajah oleh panganan impor seperti mi instan, sereal, pasta, atau makanan olahan dari tepung gandum lainnya? Padahal di sekitar kita terdapat panganan Nusantara yang sangat padat nutrisi," ucapnya tegas.

Konten kreatif pancingan tersebut mendulang 9.000 penonton sekaligus membuka jalur kemitraan ekonomi sirkular. Yudhit berhasil menghubungkan petani ubi jalar Tasikmalaya dan Bandung dengan perusahaan pengolah komoditas lokal PT Arvoga. Pusat media kampus meneruskan hilirisasi hasil riset pangan universitas demi menjamin pasokan bahan baku perusahaan swasta tersebut.

Sementara itu isu pelestarian lingkungan menjadi landasan bagi strategi kampanye internal besutan Manager of Corporate Communications PT Elnusa Tbk Jayanty Oktavia Maulina. Di sini, Jayanty mendorong seluruh pekerja menanggalkan botol minuman sekali pakai dan mewajibkan penggunaan wadah minum pribadi. "Sering kali perusahaan memiliki program ESG yang baik secara data, namun belum tentu dirasakan relevansinya oleh pekerja maupun masyarakat sekitar," ungkap Jayanty membeberkan alasan peluncuran program aksi nyata Elnusa Sustainability in Action itu.

Dalam praktiknya, terang Jayanti, tim humas menyalurkan tumpukan botol bekas dari alat penukar otomatis kepada kelompok usaha mikro binaan pendaur ulang serat kain rajut. Adapun untuk meredam penolakan awal dari para pekerja, Jayanty mengatakan pihaknya mendirikan stasiun pengisian air minum gratis dan menetapkan aturan Hari Kamis Tanpa Plastik guna mendobrak budaya usang korporasi. (Arfrian R.)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI