Dari Perpusnas RI hingga Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus menegaskan sejatinya komunikasi publik bukan hanya tentang berbicara kepada publik, tetapi memastikan tidak ada publik yang tertinggal informasi.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Komunikasi publik pada praktiknya bukan hanya sekadar menyampaikan informasi. Lebih dari itu, ia adalah jembatan untuk memastikan masyarakat memperoleh akses informasi, literasi, dan pendidikan yang setara. Penegasan akan hal itu mengemuka dari sejumlah peserta dalam penjurian Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2026 hari pertama, Selasa (1/9/2026) pada kategori rogram Kehumasan Pemerintah.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI)misalnya, menunjukkan peran penting komunikasi sebagai jembatan lewat pendekatan yang lebih relevan bagi generasi muda. Melalui program “Kilas Perpusnas”, beragam aktivitas dan capaian lembaga dikemas secara ringkas berbentuk video Reels berdurasi tiga menit dan disebarluaskan melalui kanal digital Perpusnas.
Pranata Humas Ahli Madya Perpusnas RI Dr. Dyah Rachmawati Sugiyanto menyampaikan, segala informasi aktivitas perpustakaan menjadi bagian penting dari pertanggungjawaban lembaga kepada publik. “Karena itu, kami (tim Humas) menggagas Kilas Perpusnas sebagai inovasi komunikasi yang lebih modern dan sesuai tren yang menyajikan rangkuman peristiwa selama satu pekan dan tayang setiap Senin pukul 09.00 WIB di media sosial Perpusnas,” ujarnya di hadapan dewan juri.
Program tersebut, lanjut Dyah, dirancang menggunakan kerangka specific, measurable, achievable, relevant dan time bound (SMART) Objective dan mengoptimalkan model PESO melalui kanal earned, shared, dan owned media. Dalam implementasinya, Perpusnas turut memantau agenda pimpinan, kegiatan strategis, isu nasional dan tren yang berkembang di media sosial. Selanjutnya, informasi yang diperoleh kemudian dikemas menjadi konten video dan didistribusikan melalui Instagram @perpusnas.go.id sebagai kanal utama, dilanjutkan dengan pendistribusian konten ke Facebook, Linkedin, WhatsApp.
Hasilnya, terang Dyah, dari 48 konten yang telah diproduksimampu menjangkau 338.065 akun secara organik dan meraih lebih dari 400 ribu penayangan. Hal itulah memantik pertanyaan dari Strategic Business Director HUMAS INDONESIA Ainul Yaqin selaku dewan juri, tentang pengukuran program ini. Dyah menuturkan, pihaknya terus melakukan pengukuran setiap minggunya melalui media monitoring dan social listening dari media online hingga media sosial untuk membaca respons publik sekaligus menjadi bahan pengembangan program.
Narasi Inklusif dan Organik
Sementara itu dari sektor pendidikan, upaya memastikan kesetaraan akses melalui komunikasi turut digencarkan Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) melalui program “Training of Trainers (ToT) Al-Qur’an Bahasa Isyarat”
Disampaikan oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Direktorat PKPLK Cecep Somantri, setiap anak termasuk anak berkebutuhan khusus memiliki hak memperoleh akses pembelajaran termasuk pembelajaran Al-Qur’an yang sama. Untuk itu, pihaknya memiliki pendekatan program berbasis komitmen inklusi yang mengamplifikasi pengajar Al-Qur’an Isyarat dengan pendekatan cascade training. “Kami mengoptimalkan alumni ToT sebagai agen perubahan untuk menciptakan narasi kehumasan yang inklusif, mengakar, dan organik,” ujarnya.
Seperti Perpusnas, PKPLK juga mengoptimalkan model PESO tanpa mengandalkan media berbayar. Cecep menjelaskan, pihaknya memanfaatkan kanal yang tersedia dan jejaring sivitas untuk memperluas pesan secara organik. Hasilnya, kata Cecep, program ini telah melatih lebih dari 150 pendidik dan calon trainer sebagai agen perubahan dan lebih dari 35 sekolah atau lembaga turut aktif dalam jejaring mitra publikasi dan edukasi.
Pendekatan tersebut mendapat apresiasi dari juri Ainul Yaqin. Baginya, program komunikasi yang menyentuh kebutuhan masyarakat sekaligus memiliki strategi amplifikasi yang kuat berpotensi menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan publik. (Evira Anyelia)