Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur menegaskan pentingnya pembenahan etika komunikasi publik di tengah masifnya penggunaan media sosial dan meningkatnya disrupsi komunikasi digital. Untuk itu, ruang digital dinilai membutuhkan pendekatan komunikasi yang lebih humanis, dialogis, dan bertanggung jawab.
SURABAYA, PRINDONESIA.CO - Pelantikan pengurus baru ISKI Jawa Timur periode 2026–2028 yang berlangsung di Surabaya pada Selasa (19/5/2026) menjadi momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat agenda komunikasi publik yang lebih sehat di tengah perubahan lanskap media digital.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum ISKI Atwar Bajari mengatakan, tantangan komunikasi publik saat ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut meningkatnya fragmentasi komunikasi yang kerap memicu konflik antarpihak di ruang publik. "Harapan ke depan bisa semakin menyusun agenda komunikasi yang lebih baik, terutama dalam penanganan komunikasi publik kita yang mungkin masih tercerai-berai, masih menimbulkan konflik antarpihak,” ujarnya dilansir ANTARA News, Selasa (19/5/2026).
Guru besar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) itu menekankan, pelantikan pengurus ISKI Jawa Timur menjadi langkah penting untuk mengaktifkan kembali peran organisasi di daerah. Selaras dengan itu, keberadaan organisasi tersebut juga diharapkan dapat memperluas kontribusi sarjana komunikasi dalam membangun kualitas komunikasi publik yang lebih sehat dan inklusif.
Seakan menyambut Atwar, Ketua ISKI Jawa Timur Suko Widodo menegaskan, kepengurusan baru akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan melibatkan akademisi, wartawan, manajer perusahaan, anggota DPR, hingga komisioner lembaga publik.
Menurut Suko, pengembangan ilmu komunikasi tidak cukup hanya berbasis teori, tetapi juga harus diperkaya pengalaman lapangan agar relevan dengan dinamika masyarakat digital saat ini. "Keilmuan komunikasi itu harus dikembangkan tidak hanya textbook, tapi juga belajar dari lapangan,” kata Suko.
Dehumanisasi Komunikasi
Salah satu perhatian utama ISKI Jatim saat ini, terang Suko, adalah persoalan etika komunikasi generasi muda di era media sosial. Ia memandang bahwa perkembangan teknologi membuat anak muda makin aktif di ruang digital.
Akan tetapi, kata Suko, pada saat yang sama mereka justru mengalami penurunan kualitas komunikasi interpersonal secara langsung. “Sinyal netizen di media sosial lantangnya luar biasa, tapi ketika bertemu di kelas kadang mereka diam. Kami harus menemukan jalan untuk menguatkan anak-anak agar lebih human dalam komunikasi,” tutur dia.
Menurut Suko, perkembangan teknologi digital berpotensi memunculkan dehumanisasi komunikasi apabila tidak diimbangi kemampuan membangun relasi dan empati dalam interaksi langsung. Oleh karena itu, sambungnya, ISKI Jatim mendorong penguatan budaya komunikasi yang lebih humanis dan etis di tengah derasnya arus percakapan media sosial.
Selain menyoroti komunikasi generasi muda, ISKI Jatim juga mengkritisi pola komunikasi pejabat publik yang dinilai masih terlalu berorientasi pada promosi dibanding membangun dialog dengan masyarakat. "Komunikasi itu bukan hanya bicara, tetapi juga mendengarkan. Banyak lembaga lebih banyak berpromosi daripada berkomunikasi,” ucapnya.
Dalam konteks itu, Suko menilai bahwa komunikasi publik yang sehat semestinya memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan aspirasi sebagai bagian dari proses komunikasi dua arah yang utuh. Dalam konteks tersebut, ISKI Jatim pun berkomitmen memperkuat budaya literasi komunikasi, dokumentasi gagasan, serta ruang diskusi publik yang lebih produktif dan berkelanjutan. (Fadhil Pramudya)