Penjurian PRIA 2026 Kategori Komunikasi SR: Tentang Kesenjangan Talenta Digital
PRINDONESIA.CO | Kamis, 08/01/2026
Penjurian PRIA 2026 Kategori Komunikasi SR: Tentang Kesenjangan Talenta Digital
Sesi penjurian PR INDONESIA Awards (PRIA) 2026 pada kategori Komunikasi SR, Kamis (8/1/2026).
doc/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Dalam penjurian PR INDONESIA Awards (PRIA) 2026 pada kategori Komunikasi SR, Kamis (8/1/2026), sejumlah peserta menampilkan program unggulan untuk merespons tantangan sosial melalui perencanaan komunikasi yang strategis dan berdampak. Salah satu isu krusial yang disorot adalah kesenjangan talenta digital.

Berdasarkan data BPSDM Kominfo tahun 2024, Indonesia masih menghadapi kekurangan lebih dari 455 ribu talenta digital setiap tahun. Kondisi tersebut perlu direspons secara kolaboratif agar tidak menghambat inovasi, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif. Persoalan tersebut yang kemudian menjadi pijakan PT Bank DBS Indonesia dalam menghadirkan program Coding Camp powered by DBS Foundation.

Senior Vice President Impact Beyond Banking Nazla Mariza mengatakan, inisiatif pemberdayaan komunitas yang menyasar pelajar SMK, mahasiswa di kota-kota kecil, tenaga pendidik, hingga kelompok rentan itu dirancang tidak hanya sebagai program pelatihan, tetapi juga sebagai strategi komunikasi berdampak. “Kami ingin memastikan akses terhadap keterampilan digital tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi merata dan inklusif,” ujarnya terkait program yang telah melatih lebih dari 114 ribu peserta dan terus bertambah hingga mencapai 177.428 penerima manfaat pada 2025 itu.

Dalam konteks komunikasi, terang Nazla, pihaknya berhasil mendapat liputan media lokal dan nasional lebih dari 156 artikel. Kolaborasi 33 konten yang dijalankan di Instagram meraih 544.9 ribu views dengan total engagement sebesar 63.5 ribu. “Dampak reputasi tercermin melalui Brand Health Monitor yang menunjukkan persepsi publik terhadap komitmen Bank DBS Indonesia dalam berkontribusi bagi komunitas meningkat 8% secara tahunan menjadi 31%.

Pada aspek outcome, lanjutnya, lebih dari 80 persen lulusan program mengalami peningkatan literasi keuangan, kemampuan teknis, serta akses terhadap peluang kerja. Pada 2025 saja, kata Nazla, sebanyak 81,61 persen lulusan kelas expert tercatat memperoleh peningkatan akses kerja, dan 97 persen di antaranya mengalami peningkatan pemahaman finansial.

Mengapresiasi pemaparan Nazla, founder of Institute for Sustainability and Agility Maria R. Nindita yang duduk di bangku juri mengingatkan bahwa program corporate social responsibility (CSR) yang strategis idealnya harus memiliki keterkaitan dengan bisnis inti perusahaan, dan mampu menunjukkan dampak terukur terhadap kinerja operasional. “Dengan itu program dapat pula meningkatkan performa bisnis dan memperkuat keberlanjutan program dalam jangka panjang,” jelasnya.

Dampak Komunikasi Yang Terukur

Semangat serupa juga tercermin dalam program besutan Telkom Indonesia bertajuk Sobat Indibiz (SOBIZ). Disampaikan oleh CX Planning & Performance Telkom Indonesia Fressilya Caroline T, program berbasis komunitas tersebut dirancang untuk memberdayakan pelaku usaha kecil menengah (UKM) dan komunitas wirausaha melalui penguatan literasi digital, pelatihan bisnis, serta peluang penghasilan tambahan melalui skema afiliasi produk Indibiz.

Dengan memanfaatkan jaringan komunitas di tujuh wilayah Indonesia, Fressilya menjelaskan, Telkom membangun ekosistem kolaboratif yang mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Fressilya menyebut, pihaknya melakukan strategi komunikasi diintegrasikan ke dalam pelatihan seperti pada sesi berbagi pengalaman, konten edukatif yang terpersonalisasi, serta aktivasi multikanal mulai dari media sosial hingga pertemuan komunitas. “Hingga kini, program ini telah menjangkau lebih dari 1.350 komunitas, menyelenggarakan 700 pelatihan, dan melibatkan 1.000 pengguna aktif,” jelasnya.

Meski demikian, Sustainability and Communications Expert Melina Karamoy selaku dewan juri menilai bahwa komunikasi keberlanjutan dan dampak komunikasi pada program SOBIZ masih perlu dipertajam. Ia berpesan, banyaknya aktivitas dan program yang dilakukan harus diiringi dengan indikator pengukuran komunikasi sehingga hasilnya benar-benar terlihat.

PRIA 2026

PR INDONESIA Awards (PRIA) merupakan ajang kompetisi kinerja kehumasan/public relations (PR) paling komprehensif di Indonesia yang ditujukan untuk mengukur dan mengapresiasi kinerja komunikasi instansi pemerintahan maupun korporasi sepanjang satu tahun.

PRIA 2026 terbuka bagi peserta dari Kementerian, Lembaga Negara, Pemerintah Daerah (Provinsi/Kab/Kota), BUMN, Anak Usaha BUMN, BUMD, Korporasi Swasta Nasional, Korporasi Swasta Multinasional, Perguruan Tinggi (PTN/PTS), Non Government Organization (NGO), Badan Layanan Umum (BLU), Agensi PR, hingga Satuan Kerja Organisasi/Lembaga.

Adapun kategori yang dikompetisikan pada tahun ini meliputi OWNED MEDIA (Majalah Internal, Video Profil), KANAL DIGITAL (Aplikasi, Website, Media Sosial), MANAJEMEN KRISIS (Praktis, Krisis dan Paskakrisis), LAPORAN TAHUNAN (Annual Report, Sustainability Report), PROGRAM KOMUNIKASI SOCIAL RESPONSIBILITY (Keberlanjutan Bisnis Perusahaan (Sustainability Business), Pemberdayaan Masyarakat (Community Based Development)), PROGRAM PR (Program Marketing PR, Program Government PR, Program Corporate PR, Program Digital PR), DEPARTEMEN PR, PUBLIC AFFAIRS (Stakeholder Management Excellece), dan BEST OF THE BEST ACHIEVEMENT yang akan diberikan khusus kepada korporasi/lembaga/organisasi yang berhasil mendapat trofi terbanyak di seluruh kategori.

Pengumuman dan undangan pemenang PRIA 2026 akan dirikim pada 13 Januari 2026, dan puncak penghargaan akan berlangsung pada 13 Februari 2026.

Ikuti terus perkembangan PRIA 2026 hanya di prindonesia.co dan humasindonesia.id. (EDA)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI