Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini: "Jadi Pemimpin Harus Berani Menderita"
26 May 2020
Ratna Kartika
0
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini:
Gaya kepemimpinan Risma yang khas selama ini ternyata terinspirasi dari khalifah Umar bin Khattab.
Dok. Pemkot Surabaya

SURABAYA, PRINDONESIA.CO - Ya, tahun ini perempuan yang karib disapa Risma itu akan mengakhiri masa jabatannya setelah dua periode memimpin Kota Surabaya. Ada perasaan tidak rela, tapi begitulah aturan mainnya. Kepada kami, ia mengenang sepak terjangnya selama memimpin Kota Surabaya.

Siapa yang menduga, gaya kepemimpinan Risma yang khas selama ini ternyata terinspirasi dari khalifah Umar bin Khattab. “Saya terinspirasi setelah membaca buku tentang khalifah Umar,” katanya mengaku. Ketika ditunjuk sebagai khalifah, Umar sempat menolak. Ia bahkan sampai menangis. Ternyata, Risma pun begitu. Awalnya, ia enggan menjadi wali kota.

Langkah pertama yang dilakukan Umar ketika itu adalah mencari warganya yang kesusahan. Mengapa? Sebab, kata Risma, saat orang tidak dalam kondisi kesulitan, dia mungkin tidak membutuhkan pertolongan. Tapi, ketika dia tidak punya uang untuk makan atau rumah sebagai tempat tinggal, di saat itulah pemimpin dibutuhkan. “Itulah prioritas pertama saya yang sebenarnya (ketika terpilih memimpin Kota Surabaya),” ujarnya.

 

Mau Mendengar

Seperti Umar, Risma pun berkeliling untuk mendengar apa yang menjadi keluhan dan keinginan masyarakat untuk kemudian dicari solusinya. Salah satunya, soal banjir yang selalu menjadi kekhawatiran warga Surabaya.  

Maka, di awal periode kepemimpinannya, Risma memutuskan gencar merevitalisasi pedestrian. Secara kasat mata, revitalisasi ini tampak sekadar bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi para pejalan kaki. Padahal, di bawah pedestrian itu membentang saluran air.

Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk mengatasi banjir. “Rasanya sedih sekali ketika ada warga yang hanyut karena banjir. Makanya ketika jadi Wali Kota, saya berusaha semaksimal mungkin agar warga Surabaya tidak lagi mengalami banjir saat musim hujan,” imbuhnya.

Pertengahan Januari lalu, Kota Surabaya kembali mendapat serangan banjir hingga menjadi trending topic. Namun, bukan karena alasan itu kota ini menjadi pembicaraan. Tata kelola saluran air yang baiklah yang membuat banjir berlangsung selama kurang lebih dua jam saja di kota ini hingga membuat warganet berdecak kagum. 

Ia juga gencar membangun taman. Saking banyaknya, Surabaya sampai memilki julukan baru: Kota Sejuta Taman. Sementara pemimpinnya, tak lain Risma, mendapat sebutan Wagiman alias Wali Kota Gila Taman. Ia tak tersinggung.

Begini ternyata ihwal Risma berinisiatif memperbanyak taman. Ketika sedang berkeliling dini hari, ada Ibu yang tinggal di kawasan padat penduduk mengeluh anaknya kerap rewel tiap malam, tidak bisa tidur karena kepanasan. Risma percaya, memperbanyak taman adalah jalan keluar untuk menjadikan kotanya makin sejuk. “Dulu kota ini panas banget. Sekarang, kalau malam mulai dingin, paling enggak suhunya 27 derajat. Bahkan, pernah mencapai 22-23 derajat Celcius,” ujarnya. 

Berikutnya mewujudkan sekolah, kesehatan gratis, dan rumah murah. Harga sewa rusunawa di Kota Surabaya berkisar antara Rp 22 ribu hingga yang paling mahal Rp 89 ribu per bulan, tipe 36 m2, isi dua kamar, lengkap dengan perabot. Barulah ia memerhatikan cara memperbaiki sanitasinya. Salah satunya, gencar memperbaiki kampung. Karena hal tersebut, ia sempat dianggap terlalu sosialis. Risma bergeming.  

Untuk meningkatkan taraf perekonomian warga, ia membangkitkan lagi semangat berdagang. “Dalam sejarahnya, kota ini dulu dikenal sebagai kota dagang,” kata perempuan kelahiran tahun 1969 itu. Awalnya, hanya ada 89 kelompok UMKM yang bergabung. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari 11 ribu kelompok. Hampir 50 persen dari mereka mampu mengantongi omzet Rp 1 miliar setiap bulan.

Kategori masyarakat Kota Surabaya pun melesat dari yang tadinya miskin menjadi kelas atas. “Selama sepuluh tahun, kelas miskin yang tadinya 46 persen, tinggal lima persen. Sementara masyarakat kelas tinggi yang tadinya 13 persen, sekarang sudah di atas 54 persen,” ungkapnya seraya tak mampu menyembunyikan raut bahagia.

 

Menderita

Menurut Risma, jadi pemimpin itu harus berani menderita. Maksudnya, mau turun ke lapangan, memastikan antara perbuatan sesuai dengan perkataan, dan mampu melunasi janjinya kepada rakyat. Hanya dengan cara itu pemimpin mendapat trust (kepercayaan) dari warganya. Maka, jangan heran melihat Risma sering kali ada di tengah masyarakat, entah itu ikut kerja bakti atau terjun langsung menyelesaikan masalah yang ada di lapangan.

Meski, ada kalanya ia berada di titik di mana ia sudah mau pingsan. Kalau sudah begitu, ia baru mau pulang. “Kan, malu kalau pingsan ketahuan masyarakat,” ujarnya sembari buru-buru melanjutkan,  “Kalau sudah sehat, aku balik lagi,” imbuhnya seraya tertawa.  

Yang penting, Risma menekankan, mereka sudah percaya. “Ketika kepercayaan itu sudah terbangun, warga akan dengan sukarela membantu apa yang kita kerjakan,” katanya berprinsip. 

Risma ternyata bukan pemimpin gila pujian. Ia justru heran setiap kali mendapat apresiasi, bahkan sampai tingkat internasional. Alasannya, ia tidak pernah menganggap dirinya berhasil. Ia juga merasa waktu sepuluh tahun masih kurang untuk menyelesaikan mimpinya bagi Kota Surabaya. Seperti, mencari solusi bagi anak-anak berkebutuhan khusus hingga meningkatkan taraf hidup warganya yang masih berada di garis kemiskinin. Kalau memikirkan hal itu, diam-diam ia menangis tiap malam. “Ya Allah, bagaimana aku menyelesaikan semua ini?” ratapnya.

Oleh karenanya, Risma kerap mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan hingga larut malam. Tak lain untuk mengurangi beban yang belum sempat ia tuntaskan sebelum habis masa baktinya sebagai Wali Kota. Ada kalanya ia merasa sudah mentok. “Tapi, bahwa saya berpikir terus untuk mereka, jawabannya, iya. Sampai sekarang pun masih begitu,” ujarnya.

Kepada warga Kota Surabaya, Risma berwasiat agar selalu semangat dan memiliki daya juang tinggi. “Perubahan fisik itu hanya simbol. Semoga ketika masyarakat sudah merasakan manfaat dari perubahan yang terjadi di Kota Surabaya, tumbuh keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” tutupnya. (rtn)

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI