Inadia Aristyavani, Tugu Insurance: Empati dan Etika
PRINDONESIA.CO | Jumat, 27/12/2019
Inadia Aristyavani, Tugu Insurance: Empati dan Etika
Mesti ada keseimbangan antara otak kanan dan kiri
Freandy/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Beberapa bulan berselang, kami bertemu lagi. Kali ini ia berpartisipasi untuk menjadi salah satu peserta PR INDONESIA Fellowship Program. Tentulah, kompetensi dan pengalamannya menulis sebagai salah satu kriteria penilaian, tak perlu diragukan. Selain sebagai dosen, ia sudah menelurkan text book ilmiah. Bersama dua rekannya sesama peserta Fellowship periode 2017 – 2018, mereka membuahkan karya buku public relations (PR) berjudul PR dan Disrupsi: Apa yang Harus Dilakukan Praktisi PR Menghadapi Perubahan Era Digital.

Peraih Gold kategori Insan PR INDONESIA 2019 ini adalah contoh praktisi PR yang awalnya bukan berlatar belakang Ilmu Komunikasi. Ia mengejar ketertinggalannya dengan mengikuti banyak kursus intensif dan pelatihan. Hingga akhirnya meraih gelar master Ilmu Komunikasi, tiga tahun lalu. Tahun 2006, ia resmi melakoni perannya sebagai PR dan enggan berpaling.

Kami menemuinya di salah satu tempat ngopi di Bali, usai puncak JAMPIRO #5, Kamis (31/10/2019). Meski suasananya sedang diliputi euforia Halloween yang semua interior serta pramusajinya bersolek menyeramkan, obrolan berlangsung tanpa kendala. Bahkan, terkesan dalam. Kepada Ratna Kartika, Nadia, sapaan karib Inadia, berkisah.

Anda termasuk sosok PR yang aktif mengikuti apresiasi/kompetisi. Yang terakhir, Insan PR INDONESIA. Apa yang melatarbelakangi?

Sebenarnya tujuan mengikuti kompetisi adalah untuk mendapatkan feedback dan evaluasi secara obyektif dari para profesional yang ahli di bidangnya. Termasuk saat awal Tugu Insurance mengikuti penyelenggaraan event PR INDONESIA Awards (PRIA) 2017, dan seterusnya hingga saat ini.

Ajang seperti ini juga menjadi peluang bagi kami untuk mendapatkan informasi terbaru, khususnya mengenai PR, dari berbagai industri. Sekaligus, business networking dan upaya mengasah teamwork spirit and brand culture kami, yaitu #ReachingNewHeights atau #BeraniLebihBaik. Sementara khusus Insan PR INDONESIA, motivasinya untuk evaluasi dan aktualisasi diri. Sekaligus, mempraktikkan secara pribadi spirit culture #BeraniLebihBaik tadi.

Menurut Anda, seberapa penting perusahaan mengikuti kompetisi?

Kalau di Pertamina Group, kami tidak bisa mengakomodir semua ajang kompetisi/ apresiasi. Kompetisi yang kami ikuti harus kami yakini benar kredibilitas dan kualitasnya. Pencapaian dalam bentuk kompetisi atau apresiasi ini penting bagi Tugu Insurance.

Selain dengan tujuan seperti yang sudah saya sebutkan di atas, tentu juga akan menjadi perhatian bagi para pemegang saham dan regulator. Salah satunya, berhasil mempertahankan peringkat rating A- dari A.M. Best selama empat tahun ini. Sementara apresiasi di bidang PR, kami klasifikasikan ke dalam kategori PR and Brand Communication.

Seperti apa latar belakang karier Anda?

Alhamdulillah, perjalanan karier saya cukup berbanding lurus dengan latar belakang pendidikan yang saya miliki. Awal tahun 2000-an, selepas lulus D3 dari LPK Tarakanita, saya berkarier sebagai sekretaris di beberapa perusahaan multinasional.

Tahun 2004, saya bergabung dengan salah satu perusahaan TEMASEK Group. Ketika itu saya masih menjadi secretary country director. Atasan saya melihat bakat saya yang lain. Kebetulan saat itu saya sedang menempuh kelas karyawan guna meraih gelar Sarjana Ekonomi, konsentrasi Marketing Management. Saya pun ditawari bidang yang lain. “Sudah, enggak usah jadi sekretaris lagi. Jadi project coordinator saja,” katanya ketika itu. Akhirnya, saya ditempatkan sebagai Project Coordinator untuk Sales and Marketing Division di salah satu perusahaan TEMASEK Group.

Melihat keseharian saya melakukan lobi, atasan saya lagi-lagi melihat saya punya potensi lain. “Belajar PR, deh,” pintanya. Saya pun mengikuti berbagai executive course dan training di bidang PR, brand and Integrated Marketing Communication (IMC). Tahun 2006, masih di business group yang sama, saya resmi berkarier di bidang PR. Februari 2007, saya berlabuh di PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk, atau sekarang dikenal dengan nama Tugu Insurance yang merupakan anak perusahaan Pertamina. Praktis hingga saat ini saya sudah lebih dari satu dekade berprofesi sebagai seorang komunikator.

Sejak mendapat amanah ini, seperti apa suka dukanya?

Lebih banyak suka citanya, meski departemen ini terbilang baru. Yang pasti, saya harus menghadapi berbagai peluang dan tantangan secara proaktif. Sebab, jika sebelumnya hanya berkutat di area Corporate Communication and Brand yang bersinggungan erat dengan IMC, sekarang saya harus benar-benar fokus di bidang PR. Termasuk, di dalamnya jobdesk government relations, media relations and engagement, issue and crisis handling management, communication audit/ research, hingga stakeholder management mapping.

Pesan bagi para generasi muda yang ingin mengikuti jejak sebagai PR?

Sebagai praktisi PR, dosen praktisi dan creative trainer, saya berharap para generasi muda yang bercita-cita menjadi  PR memiliki passionate untuk selalu memiliki semangat perbaikan secara terus menerus, bangun brand personality masing-masing, stay hungry, smart but be kind dengan tetap memiliki empati dan etika.

Dan, tolong, ya, jangan alergi untuk mempelajari analisa laporan keuangan. Karena, untuk membuat siaran pers atau menjawab berbagai pertanyaan media, seorang PR harus memiliki pemahaman yang cukup tentang highlights laporan keuangan untuk kemudian dijadikan news value.

Jadi, untuk menjadi seorang PR itu tidak hanya soal kemampuan otak kanan atau materi-materi yang bersifat art, kreatif, intangible, dan kualitatif. Tapi, mesti ada keseimbangan dengan pemanfaatan otak kiri yang berkaitan dengan kuantitatif dan tangible. Input + output = outcome.

Apa prinsip hidup Anda?

Gratitude brings us happiness, so have courage and be kind. Prinsip ini juga yang sedang terus menerus saya pelajari dan tekuni. Ikhlas dan sabar itu tidak berbatas dan hanya bisa dilakukan dengan terus belajar, tapi bersyukur itu pilihan. Jadi, bukan bahagia lantas bersyukur. Tapi kalau mau bahagia, bersyukur dulu, maka kita bisa belajar untuk bahagia.

Untuk memupuk kebiasaan selalu bersyukur itulah, saat ini saya sedang menerapkan gaya hidup minimalis. Belajar mencintai dan memaksimalkan apa yang kita miliki. Cukup sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Ternyata dengan cara ini, saya merasa hidup menjadi lebih ringan dan membantu lebih khusyuk.

Apa mimpi yang ingin Anda capai?

Meraih doktoral di bidang Ilmu Komunikasi, menerbitkan beberapa science text book yang dapat bermanfaat di dunia praktisi maupun akademisi. Dan, memiliki jewelry brand line sendiri. Sebagai muslimah, kita kan disunahkan untuk belajar berdagang, ya. (rtn)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI