Gaya Walikota Risma Menarasikan Perubahan
07 Februari 2019
Ratna Kartika
0
Gaya Walikota Risma Menarasikan Perubahan
Risma dinilai mampu menarasikan persoalan yang terjadi di masyarakat.
Aisyah/PR Indonesia

SURABAYA, PRINDONESIA.CO – Pada kesempatan itu, Risma tak menyia-nyiakan peluang untuk menyampaikan berbagai perubahan dramatis yang terjadi selama kepemimpinannya. Di awal periode kepemimpinannya, tahun 2010, persentase daya beli warga Surabaya termasuk ke dalam kategori rendah. Yakni, miskin sampai sangat miskin. Kategori daya beli tinggi hanya 13 persen.

Kini, kategori daya beli rendah hanya sekitar lima persen. Sebaliknya, warga yang termasuk ke dalam kategori daya beli tinggi, persentasenya melesat menjadi 64 persen. Hal ini dikarenakan para warga yang disebut Risma sebagai Pahlawan Ekonomi itu berkembang setelah ia bersama jajaran terkait membuka berbagai fasilitas pelatihan keterampilan sesuai keinginan dan kebutuhan warga. “Ada ibu yang membuka usaha setelah dua bulan ikut pelatihan. Sekarang pendapatannya sudah mencapai 1,6 miliar per bulan,” katanya seraya mengundang decak kagum para tamu.

Tak hanya itu, Risma bersama jajarannya juga berhasil menekan angka pengeluaran untuk alat tulis kantor hingga Rp 19 miliar dengan setelah mendorong seluruh jajarannya hijrah dengan cara memaksimalkan teknologi digital. Ia juga tidak hanya dikenal sebagai walikota sejuta taman, tapi juga walikota yang berhasil mengubah Dolly menjadi perkampungan yang tematik yang semua warganya berdaya. Selama kepemimpinannya, berdiri 50 perpustakaan baru dan memberikan perhatian khusus bagi 35 ribu warganya yang termasuk lansia miskin, anak yatim, difabel, HIV/AIDS, TBC, kanker dengan cara memberikan makanan gratis.

 

Mengawal Perubahan  

Dahlan Iskan, yang baru saja mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Umum SPS Pusat, membenarkan pernyataan Risma. “Saya termasuk salah satu saksi dari perubahan itu,” katanya mengaku. Menurutnya, kelebihan Risma terletak pada kemampuannya mengetahui secara makro, mendalami mikro secara mendetail serta mampu menarasikan persoalan masyarakat. “Tidak banyak pejabat yang mampu menarasikan persoalan yang terjadi di masyarakat,” imbuhnya.

Sebagai warga Surabaya, ia seperti juga warga Surabaya yang lain, risau menanti tiba saatnya pergantian walikota, orang nomor satu di  berjuluk Kota Pahlawan. Sudah rahasia umum, kepemimpinan perempuan yang sudah dua periode menjabat sebagai Walikota ini akan berakhir pada tahun 2020.  “Kami berkepentingan untuk mengawal mencari pemimpin yang layak dan mampu menggantikan posisi beliau. Sebab Surabaya akan rugi besar jika dipimpin orang yang salah,” tutupnya. (rtn)

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI