Manajemen krisis bukan sekadar respons sesaat, tetapi kesiapan organisasi yang dibangun secara konsisten.
YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Pengelolaan krisis di perusahaan BUMN hampir terjadi setiap hari. Hal tersebut disampaikan Vice President Public Relations PT KAI Anne Purba, yang berbagi panggung dengan dua perusahaan pelat merah lainnya yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada sesi workshop management crisis dalam rangkaian acara puncak Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2026, Kamis (12/2/2026) di Yogyakarta.
Perempuan yang karib disapa Anne itu menyebut, KAI yang memiliki lebih dari 500 juta pelanggan sepanjang 2025 harus senantiasa bersiap akan segala potensi isu. Ini mengingat banyak hal seperti keterlambatan kereta, gangguan perjalanan, kenyamanan di dalam kereta, hingga perkara botol minum dapat menjadi krisis bagi KAI. “Everyday is a crisis kalau di KAI,” ujarnya disambut tawa para peserta.
Meski demikian, kata Anne, tugas unit komunikasi yang ia pimpin di KAI bukan memuaskan netizen. Dalam hal ini, tidak semua potensi isu harus direspons. Ia menegaskan, yang perlu ditindaklanjuti hanyalah hal-hal berkaitan dengan kebutuhan pelanggan, melalui solusi jangka pendek dan jangka panjang berbasis data serta empati.
Sementara itu PT Pertamina menekankan pentingnya respons cepat dan terukur. Namun, sebagaimana disampaikan Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron, respons tersebut selalu didasarkan pada verifikasi internal sebelum disampaikan kepada publik. “Prinsip kami, klarifikasi yang terlambat dapat membentuk persepsi negatif. Transparansi dinilai lebih efektif dibandingkan sikap defensif dalam menjaga reputasi,” ujarnya.
Lain padang lain ilalang, PT Antam lebih mengedepankan komunikasi proaktif dan kebijakan satu narasi guna memastikan konsistensi pesan, baik di internal maupun eksternal. Disampaikan oleh Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Wisnu Danandi Haryanto, hal terssebut diwujudkan dengan menggandeng pihak ketiga dan memperkuat pengelolaan media, perusahaan berupaya meluruskan isu berbasis fakta.
Terlepas dari pendekatan yang berbeda, ketiga perusahaan pelat merah tersebut sepakat bahwa krisis merupakan suatu hal yang tak terhindarkan, tetapi kepercayaan publik tetap bisa dijaga melalui strategi komunikasi yang terukur dan berkelanjutan. “Untuk memenangkan kepercayaan publik, pastikan komunikasi yang dijalankan tidak berbeda-beda. Pesan yang disampaikan harus sama,” pesan Wisnu.
Diskusi Interaktif dan Pembelajaran Praktis
Pemaparan ketiga BUMN di atas berlangsung dinamis dan diselingi diskusi bersama peserta workshop. Pertanyaan-pertanyaan pun mengemuka seputar media monitoring, penentuan timing komunikasi, hingga pengelolaan isu lokal yang berpotensi meluas secara nasional. Interaksi ini menunjukkan bahwa setiap organisasi memiliki kompleksitas krisis yang berbeda, bergantung pada karakter industri dan pemangku kepentingan.
Menanggapi berbagai pertanyaan tetrsebut, para narasumber menekankan pentingnya sistem yang terstruktur mulai dari pemantauan isu, koordinasi internal berjenjang, hingga penetapan juru bicara. Mereka juga mengingatkan bahwa percakapan di media sosial tidak selalu merepresentasikan realitas di lapangan. Secara garis besar, sesi ini menegaskan bahwa manajemen krisis bukan sekadar respons sesaat, tetapi kesiapan organisasi yang dibangun secara konsisten. (Diandri Putri)