CEO Solopos Arif Budisusilo mengajak humas dan media ciptakan dampak nyata, bukan sekadar trafik. Sementara itu, AI percepat produktivitas kinerja komunikasi.
YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Diskursus menyoal sinergi public relations (PR)/humas dan media massa mencuat dalam diskusi panel conference Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2026 di Gedung Pracimosono, Komplek Kepatihan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (11/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, CEO Solopos Media Group Arif Budisusilo menyoroti tantangan kolaborasi kedua elemen komunikasi publik di atas.
Menurut Arif, ekosistem media kini kerap terjebak dalam pengejaran lalu lintas pembaca (traffic). Hal tersebut, katanya, membuat esensi dampak pemberitaan jadi terlupakan. “Belakangan, cara kerja media berubah mengejar traffic, lupa impact,” tuturnya.
Arif menilai fenomena tersebut tidak lahir dari ruang hampa, karena berkaitan erat dengan pola komunikasi publik pemerintah maupun korporasi. Dalam konteks ini, publik tidak lagi bisa dibujuk klaim semata, tetapi bukti konkret. “Sekarang eranya bukan trust me, tapi show me. Dan media yang kerap menampilkan fakta yang terjadi di lapangan,” tegasnya di hadapan peserta.
Oleh karena itu, imbau Arif, humas wajib menyajikan data dan fakta membumi agar pesan tersampaikan dengan baik. Arif mengingatkan bahwa kolaborasi humas dan jurnalis harus kembali pada nilai dasar penciptaan dampak nyata, bukan sekadar viralitas semu. “Tanpa dasar penyampaian yang baik, komunikasi yang manis dapat menimbulkan backlash,” tegasnya.
Integrasi Teknologi dan Pengalaman Pelanggan
Memperkaya pandangan Arif, CEO Infomedia Nusantara Eddy Sofryano membawa perspektif teknologi dalam konteks PR/humas. Ia menilai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mampu menjadi mesin komunikasi strategis yang membantu PR/humas bekerja empat kali lebih produktif dalam mengolah data pelanggan.
Bagi Eddy, muara dari pemanfaatan teknologi harus peningkatan pengalaman pelanggan (customer experience/CX) untuk membangun kepercayaan jangka panjang. Dalam konteks ini, katanya, pemisahan fungsi humas dan layanan pelanggan sudah tidak relevan lagi dalam lanskap bisnis modern. “Nilai tambah bagi reputasi perusahaan akan muncul secara otomatis dari kepercayaan tersebut,” ujarnya.
Kedua divisi ini, humas dan layanan pelanggan, tegas Eddy, harus berjalan beriringan dengan teknologi sebagai akselerator. Namun, ingatnya, sentuhan manusia tetap akan menjadi kunci utama. “AI mempercepat proses, tetapi kepercayaan tercipta melalui hubungan manusiawi,” tutup Eddy. (Arfrian R.)