Membuka sesi conference PR INDONESIA Awards (2026), Sekretaris Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Ni Made Dwipanti Indriyani ingatkan praktisi PR bahwa narasi yang berhenti di tataran wacana akan mudah dipersepsikan sebagai pencitraan.
YOGYAKARTA, PRINDONESIA.CO – Peran praktisi public relations (PR) hari ini bukan lagi sebatas menyampaikan pesan. Hal tersebut ditegaskan Sekretaris Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ni Made Dwipanti Indriyani, saat membuka conference PR INDONESIA Awards (PRIA) 2026 di Gedung Pracimosono, Komplek Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (11/2/2026).
Ni Made mengatakan, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, PR dituntut melampaui fungsi teknis. Dalam konteks ini, terangnya, tema Merajut Narasi dan Menguatkan Reputasi untuk Negeri pada conference PRIA 2026 menemukan relevansinya. “Kita (harus) sadar, narasi yang hanya berhenti pada tataran wacana akan mudah dipersepsikan sebagai pencitraan semata. Reputasi hanya bisa lahir dari konsistensi antara kata dan karya,” ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Ni Made, praktisi PR harus mampu jadi jembatan kebijakan dan masyarakat, juga jembatan antara informasi dan empati. “Narasi yang baik adalah narasi yang jujur, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat,” imbuhnya.
Terencana, Santun, dan Berakar Nilai Budaya
Seakan menyambung Ni Made, Kepala Dinas Kominfo DIY Hari Edi Tri Wahyu Nugroho memberikan gambaran tentang praktik komunikasi Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Ia menjelaskan, komunikasi publik bagi humas Pemda DIY dijalankan sebagai proses yang terencana, santun, dan berakar pada nilai Yogyakarta. “Tujuannya untuk menjaga konsistensi narasi dan kepercayaan publik,” katanya.
Adapun nilai Yogyakarta dalam praktik humas di Pemda DIY, terangnya, seperti unggah-ungguh dalam komunikasi, keteladanan dan kehati-hatian dalam penyampaian pesan, hingga guyub dan inklusif dalam membangun dialog publik. Hal-hal tersebut, lanjut Wahyu, dijalankan demi menjaga reputasi dan terhubung dengan publik lewat pengelolaan narasi kebijakan dan pelayanan publik, hingga penyelarasan pesan lintas OPD.
Kembali kepada Ni Made, ia mengingatkan bahwa perkembangan media komunikasi hari ini perlu dibarengi dengan strategi komunikasi yang makin adaptif. Dalam konteks ini, pesannya, narasi harus menjadi kerangka utama komunikasi. “Saya berharap melalui forum ini, teman-teman PR bisa saling berbagi praktik terbaik demi komunikasi publik yang berkualitas. Semoga acara ini bisa memberi inspirasi dan semangat nyata bagi kemajuan komunikasi,” tandasnya. (LTH)