Menurut Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin, public relations hari ini hadir untuk menciptakan narasi konstruktif demi dampak positif bagi masyarakat luas.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Sejalan dengan derasnya arus informasi, praktisi public relations (PR) hari ini menghadapi kompleksitas peran lebih dari sebelumnya. Hal ini diamini Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin.
Menurut Arif, peran PR di era digital seperti sekarang telah berkembang menjadi sangat strategis dengan tanggung jawab menghubungkan makna, menjaga reputasi, dan menata narasi organisasi secara komprehensif. “PR modern tidak lagi sekadar menyampaikan pesan saja, tetapi harus memastikan pesan tetap relevan di kanal tradisional maupun digital,” ujarnya dilansir dari DETIK.com, Senin (12/1/2026).
Menurut alumnus Universitas Indonesia itu, era digital melalui media sosial dan data analytics telah membuka peluang besar bagi praktisi PR untuk membangun narasi kuat. Namun, ingatnya, peluang ini datang dengan risiko seperti misinformasi, isu boikot, dan perubahan opini publik yang perlu diawasi. “PR harus terus belajar dan beradaptasi. Kepekaan terhadap tren teknologi dan pemahaman konteks sosial menjadi keharusan,” jelasnya.
Relasi dan Reputasi
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, Arif mengingatkan praktisi PR kiwari akan pentingnya membangun jejaring dengan beragam pemangku kepentingan mulai dari jurnalis, asosiasi profesi, akademisi, hingga pemimpin masyarakat. Bagi Arif, hal itu merupakan aspek penting dalam praktik komunikasi.
Jejaring yang kuat, kata Arif, tidak hanya berguna saat krisis. Di situasi normal relasi dapat menjelma ruang belajar bersama untuk terus memperkaya perspektif dan respons komunikasi. Namun, pesannya, hal tersebut harus dibarengi dengan reputasi pribadi yang otentik. Reputasi dalam konteks ini menurutnya bukan sekadar penghargaan atau titel, tetapi lebih kepada refleksi dari konsistensi, integritas, dan tanggung jawab profesional yang dijalankan setiap hari. (EDA)