Testimoni Juri PRIA 2020: Saatnya Membangun “Brand”
10 March 2020
rizka
0
Testimoni Juri PRIA 2020: Saatnya Membangun “Brand”
Sudah saatnya perusahaan juga terlibat dalam upaya membangun brand
Desti/PR INDONESIA

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Penjurian PRIA 2020 memasuki babak akhir. Delapan belas perusahaan kategori CSR dengan total 23 entri telah memberikan penampilan terbaik di hadapan ketiga juri. Ketiga juri yang dimaksud adalah Salman Noersiwan (Communication Director International Society of Sustainability Professionals), Sam August Himmawan (Direktur PT Dasa Strategik dan Direktur Majalahcsr.id), serta Ika Sastrosoebroto (Presiden Direktur Prominent PR).

Khusus subkategori Community Based Development, mereka sependapat program yang dipresentasikan cenderung seragam dan kurang inovasi. Contoh, dalam mengupayakan masyarakat sekitar korporasi agar lebih berdaya dan mandiri, mereka cenderung fokus hanya membuat produk.

Padahal, kata Salman, sudah saatnya perusahaan juga terlibat dalam upaya membangun brand. Sehingga, dari segi pemasarannya menjadi jauh lebih menarik, produknya pun makin bernilai jual. “Membangun brand suatu produk sehingga publik mengenal brand tersebut identik dengan produk yang berkualitas, berbeda, bahkan bisa menjadi bagian dari gaya hidup,” ujarnya.

Tentu, juri Sam menambahkan, untuk membangun brand, perusahaan harus memastikan strateginya tepat, peta jalannya jelas, dan produknya bernilai. “Mereka harus memastikan komunitas yang dibina sudah mengantongi semua perizinan yang diperlukan, kemasannya modern, strategi pemasaran, termasuk marketing communication juga dikelola dengan baik,” ujarnya.

Sementara untuk subkategori Sustainability Business, Sam mengapresiasi. Hanya, banyak peserta yang kurang menjelaskan relevansinya dengan proses dan risiko bisnis, termasuk tahap yang sudah dan sedang dilalui, hingga perkembangan dan dampaknya terhadap keberlanjutan usaha.   

Terintegrasi

Sebagai juri yang berlatar belakang PR, Ika berharap ada integrasi antara komunikasi dengan CSR. “Komunikasi yang tidak hanya sebatas publikasi untuk memenangkan hati publik, tapi berupa rangkaian komunikasi pemasaran yang kreatif,” ujarnya. “Aspek ini yang masih jarang saya temukan dari presentasi peserta,” imbuhnya. 

Ia memberi contoh ketika ada peserta yang mempresentasikan subkategori Community Based Development. Ketimbang hanya mengangkat produk jamur, sudah saatnya membangun brand.

Salah satunya, membuat kampanye berupa ajakan kepada para ibu rumah tangga untuk memasak beragam menu berbahan dasar jamur. Tujuannya, agar terbangun kebiasaan mengonsumsi jamur sebagai bagian dari gaya hidup. “Selama ini kita hanya melihat jamur sebagai produk. Padahal jika dikemas dengan strategi komunikasi ditambah memasukkan unsur user experience akan meningkatkan brand value dari produk tersebut,” ujarnya. 

Selanjutnya, diseminasi kampanye/program tadi ke berbagai platform media komunikasi. Harapannya, awareness meningkat dan masyarakat terdorong untuk membeli serta mengonsumsi jamur.

Kembali lagi, kata Salman, jika brand dikomunikasikan dengan baik, yang terdampak tidak hanya margin, tapi juga keberlanjutan bisnis. (rvh/rtn)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI