Sari Rezki Antika, PT RAPP: Berani Mencoba
PRINDONESIA.CO | Jumat, 06/12/2019
Sari Rezki Antika, PT RAPP: Berani Mencoba
Banyak belajar mengenai bisnis dan mengembangkan strategi PR dari kolonial menjadi milenial.
Dok. Pribadi

 

Sari Rezki Antika, Digital Media PT RAPP

 

JAKARTA, PRINDONESIA.CO -  Awalnya, bercita-cita sebagai dosen. “Setelah lulus kuliah, saya malah ‘nyemplung’ menjadi jurnalis,” kata Sari Rezki Antika, Digital Media PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), saat mengawali percakapan bersama PR INDONESIA di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Sebenarnya, bukan langsung ‘nyemplung’ seperti yang diistilahkan Rere, begitu Sari karib disapa. Kemampuannya menulis dan mengasah intuisi mengangkat peristiwa keseharian dan terkini ke dalam bentuk tulisan berawal dari kegemarannya bercerita dalam berbagai medium, terkhusus blog. Aktivitas menulis lewat blog itu sudah dilakukan sejak 2009. Tak heran, pemilik blog www.rantika.com ini lekas lolos saat melamar menjadi reporter di Tribun Pekanbaru. 

Setahun berjalan, dara kelahiran Pekanbaru, 14 Juli 1992, ini mendapat tawaran sebagai media relations officer di PT RAPP. Tadinya, lulusan Sosiologi Universitas Negeri Riau ini sempat ragu karena belum mengetahui banyak informasi dan ilmu tentang dunia PR/humas. Namun, ia memberanikan diri dengan alasan kesempatan tidak datang dua kali. “Saya masih muda. Saya harus  mencoba banyak hal dan belajar,” ujarnya bertekad.

Karena keputusannya itu, Rere pun harus banyak belajar tentang corporate communication. Mulai dari strategi membangun brand perusahaan, komunikasi, engagement dengan berbagai stakeholder. Termasuk, membangun relasi dengan warganet di media sosial, hingga menganalisis media konvensional dan digital. Ya, setelah tiga tahun meniti karier sebagai media relations, perempuan yang hobi mendengarkan Podcast, membaca, menonton, dan olahraga bola basket tersebut kini mengemban amanah baru mengelola digital media RAPP.  

Beruntung ia mendapat dukungan dan dorongan penuh dari manajemen dan pimpinannya agar PR selalu mengikuti perkembangan zaman. “Pesannya, banyak belajar mengenai bisnis dan mengembangkan strategi PR dari kolonial menjadi milenial,” kata pengagum Dimas Djayadiningrat dan almarhum Steve Jobs karena kreativitas, kerja keras dan inovasi mereka. 

Rere tak memungkiri, tantangan PR di era digital ini makin besar karena arus informasi mengalir cepat dan deras. “Kami harus cekatan dalam berbagai hal. Public relations tidak hanya soal membangun citra perusahaan, tetapi harus memahami proses bisnis dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

 

Kepercayaan

Jika dicermati lebih mendalam, Rere sebenarnya adalah sosok yang introvert. Ia sendiri mengakuinya. Tapi, tak lantas menjadi halangan untuk membangun jaringan. “Saya selalu membiasakan diri, bahkan memaksakan diri, untuk berani memulai dan menjalin percakapan dengan berbagai pihak,” katanya disertai derai tawa. “Dalam hati, saya selalu bilang, “Ayo, kamu bisa. All is well”,” lanjut perempuan yang berkomitmen menjadi praktisi humas berkualitas.

Tak lupa, ia kerap menantang diri dengan mengikuti berbagai program dan kompetisi. Rere adalah peraih National Champion Scholarship dari Tanoto Foundation pada 2011 - 2013. Ia juga turut berkontribusi membawa perusahaannya meraih trofi Silver untuk Kategori Sustainability Program di ajang PRIA 2019.

Selain aktif menulis di Kompasiana, ia juga mulai menjajal medium baru. Yakni, bercerita melalui kanal YouTube. Kontennya, tak jauh dari profesi dan aktivitas yang ia jalani sehari-hari. “Melalui kanal ini saya ingin mengajak penonton untuk mengetahui betapa banyak profesi di dunia industri. Sekalian belajar public speaking, he-he,” ujar perempuan yang selalu melibatkan kakak-kakaknya dalam pengambilan keputusan mengingat mereka tak lagi memiliki kedua orangtua. (mai) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI