Maria Wongsonagoro, PR INDONESIA Guru: "PR yang Baik, Butuh Jam Terbang" (Bag. 4-Habis)
16 Januari 2018
Ratna Kartika
0
Maria Wongsonagoro, PR INDONESIA Guru:
Untuk menjadi PR yang baik memerlukan jam terbang.
Roni/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Selain sebagai founder dan President Director IPM Public Relations, nenek dari sembilan cucu ini juga dikenal sebagai PR INDONESIA Gurus. Ia kerap didapuk sebagai pembicara di tiap workshop yang diadakan oleh PR INDONESIA. Namun, siapa yang mengira, Maria sebenarnya tidak memiliki basic PR. Ilmu yang diperolehnya adalah kumpulan pengalaman selama 32 tahun mengarungi belantara PR. Kepada Ratna Kartika, Maria bercerita tentang pandangan, pesan, harapan, hingga mimpinya terhadap dunia yang dia cintai. Berikut petikannya.

 

Itu sebabnya, Anda mendirikan MISI (Merdi Intar Sinau)?

Ya. Tahun lalu didirikannya, tahun ini fokus memberikan pelatihan dan praktik PR. Di tempat ini saya melatih, mewariskan ilmu dan berbagi pengalaman tentang PR yang sudah terakumulasi selama bertahun-tahun kepada generasi berikutnya. 

 

Konsepnya seperti apa?

Sesuai namanya yang kami ambil dari bahasa Jawa. Merdi adalah mengajar atau memajukan. Intar itu menjadi pintar, berilmu pengetahuan tinggi. Sinau, melalui proses belajar.

Intinya, menyiapkan calon praktisi atau praktisi PR untuk siap bekerja. Kami memberikan kesempatan kepada mereka dari segala jurusan dari berbagai universitas, bahkan lulusan SMA jika mereka memiliki strategic thinking yang kuat dan memiliki passion untuk menjadi praktisi PR yang baik. Termasuk, mereka yang baru memasuki dunia bekerja, khususnya bidang PR dan masih belum memiliki pemahaman dan praktik yang mendalam tentang PR. Atau, mereka yang sudah mempunyai pengalaman tapi masih ada hal-hal yang belum dikuasai dapat mengikuti pelatihan yang ada di sekolah kami.  Metode pembelajarannya, 20 – 30 persen teori, sisanya praktik.  

 

Di saat yang lain berpendapat PR itu sudah 3600 communications, Anda salah satu yang bersikeras antara PR dan marketing itu berbeda. Mengapa?

PR dan marketing itu berbeda. Marketing fokus kepada produk, sementara PR fokus terhadap perusahaan. Ada kalanya mereka bekerja sama. Tapi, menurut saya, PR itu langsung bergandengan dengan pembuat keputusan tertinggi.

Contoh, CEO suatu perusahaan multinasional besar mau diwawancarai media, dia akan memanggil PR, lalu bertanya, “Apa yang harus kita sampaikan ke mereka?” Karena sudah terlatih, PR tahu bagaimana membuat key messages yang tepat. Jadi, PR harus berada di atas marketing. Saya tahu, pendapat saya ini pasti banyak diprotes, ya? He-he-he.

 

Saat ini PR adalah profesi yang belum memiliki kode etik yang berlaku secara nasional. Pendapat Anda? 

Penting sekali. Kode etik itu mengatur tindak tanduk profesi sesuai aturan yang sudah ditetapkan. Kode etik profesi PR yang diakui secara nasional itu diperlukan agar kita punya satu acuan baik bagi praktisi PR perorangan, organisasi, maupun agensi.

 

Apa pesan Anda kepada para praktisi PR muda?

Perbanyaklah mencari ilmu dan membaca. Karena kejadian yang terjadi di luar negeri itu sudah banyak memengaruhi bisnis maupun keadaan di Indonesia. Latihlah strategic thinking diri sendiri. Misalnya, ketika melihat suatu masalah, cobalah latihan seandainya saya menjadi PR di perusahaan tersebut. Apa yang akan saya lakukan?

Banyak bertanya kepada mentor. Saya rasa, kami akan dengan senang hati berbagi ilmu dan saran kepada siapa saja yang ingin berkonsultasi. Pertanyaannya, ada atau tidak niat dari generasi muda untuk bertanya kepada kami, atau cukup mendapat jawabannya hanya dari Google? Itu yang saya sayangkan.

Yang perlu saya tekankan kepada PR muda, jangan terlalu cepat merasa puas. Hanya karena berhasil melakukan satu hal, merasa, “Wah!” Bagaimana seandainya terjadi krisis? Apa kamu mampu menanganinya? Karena untuk menjadi PR yang baik itu memerlukan jam terbang.

 

Apa yang biasanya Anda lakukan saat senggang? 

Karena keseharian saya sebagian besar disibukkan dengan mengurusi strategi komunikasi, pembuatan modul, riset, dan sebagainya, saya perlu sesuatu yang membuat saya tenang. Saya memilih berkebun sayur mayur di rumah. Mulai dari seledri, selada, oyong, pare, sampai sayur untuk lalapan. Saya menikmati proses mulai dari membeli benih, menyemai, sampai akhirnya berkecambah dan tumbuh.

Baru-baru ini, kesempatan menjadi pemateri di acara workshop yang diselenggarakan PR INDONESIA di Bangkok, Thailand, saya manfaatkan untuk membeli benih. Saya beli empat benih. Ternyata, kok, tumbuhnya lebih cepat dari benih yang biasa saya beli di Indonesia? Dua hari sudah berkecambah dan banyak yang tumbuh.

 

Dari mana Anda belajar cara berkebun?

Saya belajar teknik menanam dari buku, majalah, hingga Google. Saya juga banyak belajar dan mendapat pengarahan dari komunitas Jakarta Berkebun. Yang pasti, dalam menanam, saya tidak menggunakan pupuk kimia. Semua serba organik, termasuk  pada saat membasmi hama. 

 

Dari keempat anak Anda, adakah yang mewarisi karier Anda sebagai PR?

Ada. Dua dari mereka berprofesi sebagai PR. Merekalah yang sekarang menjalankan IPM PR. Tapi saya menyiapkan mereka sudah dari jauh-jauh hari. Saya melihat mereka ada bakat dan niat. Mereka memulainya learning by doing, dari bawah, media monitoring. Jadi mereka mengetahui semua tingkatan yang harus dilakukan suatu agensi PR. Setelah 15 tahun, baru saya lepas. 

 

Apa mimpi yang belum tercapai?

Saya rasa kalau sekolah itu sudah berkembang menjadi besar dan banyak murid yang bisa saya tularkan ilmunya, saya anggap tugas saya sudah selesai. Karena tugas itulah yang menjadi fokus saya yang terakhir. Sebagai orang tua, saya sudah selesai membesarkan anak-anak. Selanjutnya, mendorong agar PR dapat terus beregenerasi. rtn

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI