Cara Tangguh Bangun "Brand" di Tengah Era Disrupsi
29 Januari 2019
aisyah
0
Cara Tangguh Bangun
Dalam membangun brand, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, perlu kampanye berkelanjutan dan konsisten.
Dok. PR INDONESIA/ Aisyah

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Yang paling kentara perbedaannya, eksklusifitas menjadi sesuatu yang kuno, bukan lagi hal yang membanggakan. Saat ini, inklusifitas adalah kuncinya. Bagaimana dengan perusahaan yang sudah memiliki nama besar? Berikut ini kita lihat seberapa tangguh korporasi BUMN memperkuat positioning brand-nya di tengah banyaknya gangguan.

Garuda Indonesia (GIA)

Menurut Director of Commercial Garuda Indonesia (GIA) Pikri Ilham Kurniansyah yang ditemui PR INDONESIA di acara sharing session di Jakarta, akhir November lalu, proses branding hingga akhirnya diakui dunia itu memerlukan tahapan mendalam dan menguras banyak energi.

Diakui Pikri, GIA memiliki diferensiasi yang berbeda dengan maskapai kelas dunia di mana pun. Yakni dengan menawarkan hospitality airlines, khususnya Indonesian hospitality. Layanan ini menjadi keunggulan sekaligus ciri khas yang tetap dipertahankan dari dulu sampai sekarang. Mereka juga menyakini “ramuan” itu masih relevan di era disrupsi.

PT Telin

Anak perusahaan dari salah satu korporasi raksasa milik BUMN, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, ini meneguhkan komitmennya sebagai connectivity enabler. Perusahaan yang bergerak di industri yang berkaitan dengan era disrupsi tersebut memiliki misi mulia: membawa positioning Indonesia di mata para digital players dunia sebagai negara yang mampu mengakselerasi digital bussiness expansion untuk lingkup Asia Pasifik.

“Kami masuk ke blockchain, bukan di cryptocurrency. Terutama soal bagaimana blockchain menjadi teknologi enabler untuk transaksi digital bisnis ke depan,” ujar Chief Commercial Officer PT Telin Budi Satria Dharma Purba. Selain itu Telin berupaya terus melakukan inovasi. Ciri khas dan inovasi inilah yang menurutnya dapat membuat brand mereka tetap kuat di tengah banyaknya gangguan.

DM-ID

Menurut Almira Shinantya, Managing Director DM-ID, dalam membangun brand, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, perlu kampanye berkelanjutan dan konsisten. Di samping itu, perlu membangun hubungan emosional yang intens dengan audiens. “Jangan hanya jualan produk atau service,” katanya. Ia juga mengimbau agar perusahaan jangan cepat puas dengan posisinya saat ini. “Disruption in digital technology itu membuat dunia cepat berubah dan tidak pernah bisa diam,” ujarnya.

Kesimpulannya, kata Almira, praktisi PR harus terus mempelajari perubahan yang terjadi di luar, membuka mata dan terbuka untuk berkolaborasi. “The more you collaborate,the stronger we are,” tutupnya. (ais)

 

Selengkapnya baca PR INDONESIA versi cetak dan SCOOP edisi 46/Januari 2019. Hubungi Sekhudin: 0811-939-027, [email protected]

BACA JUGA
tentang penulis
image profile
aisyah
.
komentar (0)

LATEST POST