Pakar Komunikasi sekaligus dosen S3 Ilmu Sosial Universitas Airlangga Dr. Suko Widodo menekankan bahwa menjaga kualitas komunikasi di tengah cuaca panas berkepanjangan tidak hanya berkaitan pada kemampuan menyampaikan pesan tetapi juga kesadaran untuk memahami kondisi fisik dan emosional diri.
SURABAYA, PRINDONESIA.CO – Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026, dengan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami cuaca panas hingga kekeringan pada Oktober 2026. Salah satunya Surabaya, suhu udara di kota tersebut menembus 37 derajat celcius pada Rabu (21/10/2026) di siang hari.
Kondisi tersebut, kata pakar komunikasi sekaligus dosen program Magister Ilmu Sosial Universitas Airlangga Dr. Suko Widodo, telah memicu sejumlah tekanan terhadap aspek psikologis dan pola komunikasi masyarakat, lantaran cuaca panas membuat orang cepat kehilangan konsentrasi. “Panas berlebihan berisiko menyebabkan dehidrasi, kelelahan, menurunkan konsentrasi, dan meningkatan rasa mudah tersinggung sekaligus berdampak pada cara seseorang bersosialisasi,” ujarnya dikutip dari Beritajatim.com, Rabu (21/10/2026).
Dijelaskannya, dalam konteks bersosialisasi, ketidaknyamanan tubuh akan merusak kendali emosi saat berinteraksi dengan orang lain di ruang publik. Ia mengatakan, sensivitas emosi ini secara tidak langsung akan memengaruhi pilihan kata, nada bicara, dan cara merespons sesama. Untuk itu ia mengingatkan akan perhatian terhadap komunikasi, karena kesalahpahaman kecil di kondisi sekarang dapat berkembang menjadi pertikaian besar.
Menahan Diri
Untuk itu, Suko menyarankan agar masyarakat dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan dengan memperbanyak konsumsi air putih, beristirahat saat lelah, serta menahan diri dari perdebatan saat berkendara. “Mari lebih sabar, termasuk di rumah, kampus dan tempat kerja. Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan,” jelasnya.
Pandangan Suko sejalan dengan penelitian bertajuk Emerging Effects of Temperature on Human Cognition, Affect, and Behaviour (2024) yang ditulis oleh Fischer dkk,. Penelitian ini menyimpulkan bahwa paparan suhu tinggi berkaitan dengan perubahan kondisi afektif termasuk kecamatan dan iritabilitas, serta gangguan kinerja kognitif.
Dengan demikian, kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus dan mengelola respons emosional dapat ikut terpengaruh, meskipun besaran dampak bergantung pada tingkat paparan panas, kondisi individu, dan situasi yang dihadapi. (Evira Anyelia)