Putiarsa, Elnusa Petrofin: Mengejar Impian Mengajar
PRINDONESIA.CO | Kamis, 20/08/2020
Putiarsa, Elnusa Petrofin: Mengejar Impian Mengajar
Impiannya yang belum tercapai adalah menjadi dosen.
Dok. Pribadi

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Migas merupakan salah satu sektor industri yang rentan terkena isu. Apalagi jika area operasionalnya meliputi seluruh Indonesia dan output bisnisnya bersentuhan langsung dengan kebutuhan vital masyarakat, seperti PT Elnusa Petrofin. “Publikasi negatif atau potensi benturan dengan stakeholder sekecil apa pun harus mampu kami tangani dengan cepat dan tepat,” kata Head of Corporate Communications Elnusa Petrofin Putiarsa Bagus Wibowo kepada PR INDONESIA, Jumat (26/6/2020).

Seperti ketika anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut berhadapan dengan penolakan dari stakeholder di salah satu wilayah operasionalnya. Menurut Arsa, begitu Putiarsa karib disapa, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan akar masalah beserta seluruh elemennya.

Selanjutnya, membangun hubungan dan komunikasi yang solid di lingkungan internal dari tingkat direksi sampai manajemen. Hal ini tidak mudah, sebab lingkup operasional perusahaan bergerak di bidang jasa logistik dan distribusi BBM tersebut luas, jumlah pekerja banyak dan tersebar di hampir seluruh Indonesia. Termasuk, membangun hubungan harmonis dengan rekan media dan stakeholder lainnya. “Jadi, perlu formulasi strategi yang sedemikian rupa agar kami dapat melakukan komunikasi tepat sasaran,” ujarnya.

Arsa mengatakan, dalam menghadapi krisis perlu ketenangan. “Kenali permasalahan secara mendalam, lalu berkolaborasilah dengan tim,” kata penganut prinsip “selalu melakukan yang terbaik” ini. Public relations (PR) juga harus membuat action plan sesegera mungkin dan aktif mengomunikasikannya kepada direksi.

Sementara agar komunikasi eksternal berjalan lancar, menurut Arsa, perlu ada sikap saling mendukung antara PR dengan direksi. Ia bersyukur Corporate Communication menjadi salah satu fungsi strategis di Elnusa Petrofin. Keberadaannya senantiasa dilibatkan dalam setiap gerak dan langkah perusahaan. “Kami diberi kepercayaan untuk memberikan advis dan masukan kepada direksi terkait pengelolaan reputasi perusahaan,” ujarnya.

Timnya juga diberi ruang untuk berdiskusi dengan direksi. Hal ini penting agar mereka dapat menggali arahan serta pesan kunci yang ingin disampaikan oleh direksi.  “Tentu, perlu upaya, tenaga dan kesungguhan yang luar biasa besar untuk membangun fungsi ini hingga menjadi besar dan dapat dipercaya,” ujarnya seraya mengenang awal-awal membangun divisi Corcomm. 

 

Penjembatan Komunikasi

Arsa telah memiliki ketertarikan terhadap PR sejak duduk di bangku sekolah. Ketika itu, ia aktif berorganisasi. Bahkan, ia bersama teman-temannya membuat grup kegiatan belajar jurnalistik di luar sekolah. “Rutinitas menulis dan berdiskusi untuk mencari solusi menumbuhkan keyakinan bahwa dengan menekuni profesi sebagai penjembatan komunikasi perusahaan, saya dapat menyalurkan bakat sekaligus berkontribusi kepada bangsa,” kata pria yang memilih membuat hidupnya lebih seimbang dengan mengeksplorasi tempat atau makanan baru, membaca buku hingga menonton film ini. 

Kariernya sebagai PR dimulai tahun 2008 sebagai Corporate Communication Officer di perusahaan rokok di Jawa Timur. Selanjutnya, ia berkecimpung di industri agrobisnis kelapa sawit, otomotif, hingga migas. Kesemuanya sebagai PR, sampai hari ini. Impiannya yang belum tercapai adalah menjadi dosen. Berbagi ilmu dan pengalaman bagi penerus generasi komunikasi di tanah air. (ais/rvh)

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI