Hermansyah Yuliandri Nasroen, Pertamina EP: Integritas
PRINDONESIA.CO | Jumat, 08/05/2020
Hermansyah Yuliandri Nasroen, Pertamina EP: Integritas
Perjalanan kariernya sebagai humas di berbagai daerah dengan segala dinamikanya membentuk Herman menjadi pribadi yang selalu mengedepankan good relations.
PR INDONESIA/ Mellisa

Hermansyah Yuliandri Nasroen - PR Manager Pertamina EP

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Awalnya, Hermansyah yang merupakan lulusan Sarjana Hubungan Internasional FISIP Universitas Parahyangan Bandung ini berkeinginan menjadi diplomat. Takdir berkata lain.   Keikutsertaannya dalam program Bimbingan Profesi Sarjana (BPS) yang diselenggarakan oleh PT Pertamina (Persero) tahun 2001 mengantarkannya pada dunia humas. Setelah menyelami, ia mengaku beruntung. “Tidak semua orang memiliki kesempatan ke mana saja, mulai dari hulu sampai hilir, jika bukan humas,” ujar pria berdarah Minang yang kerap disapa Daging oleh rekan-rekan sejawatnya itu.

Kepada PR INDONESIA yang menemuinya di Jakarta, Senin (24/2/2020), petualangannya sebagai humas berawal di Daerah Operasi Hulu Kalimantan Sangatta Field. Lima tahun kemudian, ia bergabung dengan Tim Konversi Minyak Tanah ke LPG, lalu ditugaskan di Corporate Secretary Pertamina pusat untuk menangani komunikasi internal sekaligus kegiatan perusahaan. Ia kembali ke daerah, tepatnya Operation Region 7 di Makassar, lalu Unit Pengolahan 3 di Plaju, Palembang, hingga saat ini, sebagai PR Manager Pertamina EP.

 

Tulus

Perjalanan kariernya sebagai humas di berbagai daerah dengan segala dinamikanya membentuk Herman menjadi pribadi yang selalu mengedepankan good relations. “Proses bisnis perusahaan mengharuskan kami menjalin hubungan baik dengan stakeholders,” ujar pria yang hobi olahraga lari dan golf itu. 

Menurutnya, bukan perkara mudah membangun dan menjalin relasi. Apalagi memberikan pengertian kepada masyarakat di daerah mengenai proses produksi migas dari hulu hingga hilir Pertamina EP yang kaitannya erat dengan mempertahankan ketahanan energi nasional. “Kuncinya, selalu mengedepankan ketulusan saat berinteraksi dengan seseorang atau sekelompok masyarakat, tanpa dugaan apapun. Kosongkan dulu asumsi dan persepsi terhadap orang tersebut. Nanti, ada saatnya kita menemukan wow moment,” katanya.

Adapun hal pertama yang ia lakukan ketika pertama kali berhadapan dengan masyarakat di daerah baru adalah melakukan pendekatan kepada humas senior. Tujuannya, untuk menggali informasi tentang karakteristik masyarakat sekitar. Lalu, lakukan pendekatan kepada perangkat daerah/pemerintah terkecil seperti kepala desa atau camat. “Pelajari dulu budaya, adat istiadat, dan kebiasaan masyarakat lokal. Aspek-aspek itulah yang pertama harus kita hormati,” jelasnya. Pun dengan rekan wartawan, ia selalu membangun kedekatan personal.

Pengalaman kerja di daerah menuntutnya tidak bisa bercengkerama dengan istri dan kedua anaknya. Pria yang masih terobsesi melanjutkan studi magisternya itu berupaya ikhlas. “Waktu masih bertugas di Sangatta Field, Kalimantan, saya tidak bisa sering pulang ke Jakarta. Sekalinya pulang, saya mendapati anak saya bingung, ‘Ini siapa?’ Ha-ha!” katanya mengenang. “Jalani saja karena sudah komitmen. Pasti ada masanya kita kembali berkumpul dengan keluarga,” ujarnya.

Ia berpesan jadilah humas yang berintegritas. Maksudnya? Herman memberi contoh, “Humas itu mutlak harus memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Bagaimana caranya? Ya, harus pintar-pintar,” pungkasnya. (ais/rtn)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI