Desain Grafis Pelat Merah “Old School” Banget? Kata Siapa?
25 September 2019
Ratna Kartika
0
Desain Grafis Pelat Merah “Old School” Banget? Kata Siapa?
Bebas berekspresi, tapi tetap sesuai aturan.
Dok. Pemkot Tangerang

TANGERANG, PRINDONESIA.CO – Desain grafis atau rancang grafis merupakan proses komunikasi menggunakan elemen visual, seperti tulisan, bentuk, ruang dan gambar yang jamak digunakan di era digital. Tujuannya, untuk membentuk persepsi pesan yang ingin disampaikan. Profesi desainer grafis pun menjadi sangat dibutuhkan. Termasuk oleh instansi pemerintah.

Bedanya, tugas mengeksekusi desain grafis bagi pemerintah terasa menantang karena desainer yang mengedepankan unsur kreativitas ini harus berkompromi dengan beberapa aturan pemerintah yang harus dipatuhi. Yakni, memproduksi dan mengomunikasikan pesan, program, aktivitas, dan kebijakan pemerintah tanpa mengenyampingkan karakter instansi yang berwibawa dan elegan. Tentulah ini bukan pekerjaan mudah.  

Di Pemerintah Kota Tangerang, tugas mengampanyekan dan menginformasikan program serta kegiatan pemerinta melalui desain visual tersebut berada di bawah naungan Humas dan Protokol Setda Kota Tangerang.

Untuk menjawab tantangan tersebut, mereka merekrut dua desainer grafis. “Tugasnya, membantu humas dalam mendesain kebutuhan humas dan pimpinan. Misal, membuat pointer untuk paparan, infografis, videogram, hingga meme atau desain visual di media sosial,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Kota Tangerang Achmad Ricky Fauzan di ruang kerjanya, Tangerang, Selasa (24/9/2019), seraya menyebut akun IG resmi Pemkot Tangerang, @humas_kota_tangerang.

 

Bebas Berekspresi, Tapi...

Inilah Avicenna Fauzan Adrian, salah satu desainer grafis andalan Humas dan Protokol Setda Kota Tangerang. Sejak beberapa tahun bergabung dengan Pemkot Tangerang, ia makin fasih memahami keinginan, kebutuhan dan ritme kerja pemerintah daerah yang dipimpin oleh Arief R. Wismansyah selaku Wali Kota itu. “Yang pasti, kami harus memiliki kecepatan dan pemahaman terhadap bahan desain yang akan dibuat,” katanya.

Keputusan pria yang karib disapa Aviz ini bergabung awalnya karena gemas dengan bentuk desain Pemkot Tangerang, kota tempat tinggalnya. Belum lagi penyampaian informasinya juga tidak jelas dan sajian desain yang itu-itu saja. “Gemas setiap kali melihat desain spanduk,” katanya mengaku. Ketika akhirnya benar-benar terlibat, ia melakukan sejumlah perombakan yang tentu saja menyegarkan.

Meski begitu, desain yang dibuat masih berada dalam koridor yang sudah ditentukan. Seperti, pemilihan gambar, type visual image yang sesuai, mencerminkan dan mudah ditemukan di sekitar area Kota Tangerang. “Saya pernah menggunakan gaya memphis dengan sentuhan pop art, retro, papercut, desain simetris. Dan sekarang, water splash. Pokoknya, apa pun biar tidak membosankan,” imbuhnya.

Selain Aviz, ada Arum Sekar Wiranti. Sejak bergabung tujuh bulan lalu, ia merasakan tantangan tersendiri. Terutama,  dari segi konten dan ide untuk media sosial. “Kalau lagi mentok, saya biasanya menjelajah medsos untuk mencari informasi yang sedang tren atau hits,” ujarnya. Sehingga, meski menyuguhkan konten pemerintahan yang identik berat dan formal, masyarakat tetap mudah memahami dan mencerna.  

Ia melanjutkan, “Sebagai desainer grafis pemerintah, kami diberi kebebasan berekspresi. Tapi, tidak keluar dari template yang sudah ditentukan dan sepakati,” katanya. Misalnya, saat mengisi feed di IG, tim sudah memiliki template cover dan font/tipe huruf yang harus dipakai. (humas pemkot tangerang/rtn)

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI