Denny Abidin, Telkomsel: Layaknya Penyerang
05 July 2019
Aisyah Salsabila
0
Denny Abidin, Telkomsel: Layaknya Penyerang
Kunci kesuksesan PR terletak pada ketepatannya dalam merespons setiap kondisi.
Dok. Pribadi

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Itulah definisi (public relations) PR masa kini yang diyakini Denny Abidin, General Manager External Corporate Communications Telkomsel. Kondisi ini terjadi lantaran dinamika PR sudah jauh berbeda ketimbang sepuluh tahun lalu saat ia bergabung di anak perusahaan Telkom tersebut.

Apalagi di tengah era disrupsi di mana kompetisi sudah mengalami pergeseran tidak lagi menyangkut nilai-nilai yang bersifat komersial. Lebih dari itu, hingga ke tingkat regulasi, reputasi, sampai persepsi perusahaan. Sehingga, PR tak bisa lagi melakukan strategi komunikasi dengan cara lama seperti memasang iklan atau sekadar membuat rilis berita.

Perubahan ini juga menuntut PR untuk dapat memberikan respons yang tepat. Dalam kondisi dan kasus tertentu, ia dituntut mampu menempatkan diri layaknya pelari—sprinter, medium atau maraton. “Kunci kesuksesan PR terletak pada ketepatannya dalam merespons setiap kondisi. Sebab, tidak ada masalah yang salah. Yang ada adalah respons yang salah,” ujar pria kelahiran Bandung, 48 tahun lalu, yang ditemui PR INDONESIA di Jakarta, Rabu (24/4/2019), berkesimpulan. Untuk itu, pada saat merespons, pastikan secara jelas langkah mana yang akan kita ambil.

Adapun sosok yang dibutuhkan PR saat ini adalah mereka yang memahami industri yang digelutinya, visioner, multitasking, memiliki personal branding yang kuat, serta daya tahan tinggi. Selain itu, Abe, sapaan karib Denny berpendapat, kekuatan PR sebenarnya bukan terletak pada kemampuannya sebagai storyteller, melainkan caranya membuat cerita (create story) dari yang semula tidak ada menjadi ada. “Bottom line-nya itu bukan storytelling, tapi create story and know your corporate values,” ujar ayah dari tiga anak ini.

Maka dari itu, ia melanjutkan, insan PR tak ubahnya pekerja seni. Mereka dituntut untuk selalu kreatif dalam menentukan alur cerita yang ingin dibangun. “Mau emosional atau menginspirasi, semua tergantung kepada audiensnya. Tapi, yang paling penting dari semua itu adalah create story-nya,” tambah pria yang sebelumnya menjabat sebagai General Manager Marketing Planning and Transformation Telkomsel.

Pemberontak

Menarik menelusuri kisah hidup Abe. Siapa sangka, ia adalah PR yang semasa kecilnya pernah memiliki keterbatasan bicara alias gagap. Namun, pria berkacamata ini tak pernah menganggapnya sebagai kekurangan. Sebaliknya, anugerah. Bagaimana tidak, ketika ia tergagap membaca teks Pancasila saat Upacara, sejak saat itu pula namanya jadi terkenal seantero sekolah. “Saya dikenal karena sebagai anak yang tidak bisa baca teks Pancasila, he-he,” katanya sembari tertawa geli mengenang.

Menginjak dewasa, Abe tumbuh jadi pemberontak. Ia sempat keluar dari rumah dan memilih mengontrak. Saat kuliah, ia aktif berorganisasi hingga ikut berdemo jelang reformasi tahun 1998. Studinya pun sempat tertunda selama dua tahun karena ia memilih bekerja sebagai sales produk elektornik yang berjualan dari pintu ke pintu. Namun, dari semua pengalaman itulah ia menjadi pribadi yang tak pernah lupa mengucap syukur. (ais)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

BERITA TERKINI