Transformasi digital yang dijalankan secara konsisten dinilai mampu mempercepat layanan publik, memperkuat tata kelola perusahaan, sekaligus meningkatkan kepercayaan stakeholder yang menjadi fondasi reputasi BUMD di era digital.
JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Reputasi badan usaha milik daerah (BUMD) di era digital tidak lagi dibangun hanya melalui komunikasi dan publikasi semata. Di tengah tuntutan masyarakat yang makin tinggi terhadap kualitas layanan publik, transformasi digital menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kepercayaan stakeholder sekaligus citra organisasi.
Hal tersebut ditegaskan Manajer Tata Usaha dan Humas Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya Louis Andilun Gatu, saat menjadi salah satu narasumber dalam agenda Forum Kebijakan Komunikasi Strategis & HUMAS INDONESIA BUMD Reputation Awards (FOKUS HIBRA) 2026, yang berlangsung di Gedung Peruri, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).
Dalam paparannya bertajuk Reputasi BUMD di Era Digital, Louis menjelaskan bahwa transformasi digital yang dijalankan Perumda Air Minum Surya Sembada (PDAM Surya Sembada) merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi perusahaan sebagai perusahaan air minum modern sekaligus menjawab tantangan pengelolaan layanan publik yang makin kompleks.
Saat ini, ungkap dia, PDAM Surya Sembada melayani lebih dari 640 ribu pelanggan dengan cakupan layanan mencapai 100 persen di Kota Surabaya. Perusahaan juga mengelola jaringan pipa sepanjang lebih dari 6.500 kilometer dengan kapasitas produksi mencapai 12.581 liter per detik.
Dengan berkaca pada skala layanan yang besar tersebut, kata Louis, perusahaan dituntut untuk terus berinovasi dan beradaptasi melalui pemanfaatan teknologi digital. "Kami terus melakukan terobosan-terobosan untuk menuju visi menjadi perusahaan air minum modern,” ujar Louis.
Louis juga menyampaikan sejumlah inisiatif digitalisasi yang telah diterapkan perusahaan. Di antaranya mulai dari aplikasi personal pegawai untuk mendukung mobilitas kerja, sistem informasi geografis (GIS) untuk pemetaan jaringan pipa, layanan pelanggan berbasis mobile melalui Customer Information System (CIS), digitalisasi pengelolaan sumber daya manusia melalui HRIS, hingga sistem pengelolaan anggaran dan aset yang terintegrasi. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan Unmanned Pump House berbasis Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi operasional rumah pompa.
Menurut Louis, digitalisasi tidak hanya berdampak pada efisiensi internal perusahaan. Implementasi teknologi juga membantu mempercepat deteksi kebocoran jaringan, mempermudah pengelolaan pelanggan, meningkatkan akuntabilitas kinerja pegawai, hingga memperkuat pengambilan keputusan berbasis data.
Percepatan Layanan
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa transformasi digital memiliki keterkaitan langsung dengan pembentukan reputasi perusahaan. Ketika layanan menjadi lebih cepat, transparan, dan mudah diakses, kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan akan meningkat. "Digitalisasi memberikan dampak positif berupa percepatan layanan kepada masyarakat dan pelanggan, peningkatan kepercayaan stakeholder, serta penguatan tata kelola, produktivitas, dan kesehatan finansial perusahaan,” jelasnya.
Menurut dia, reputasi yang kuat lahir dari pengalaman nyata yang dirasakan pelanggan dalam menerima layanan. Oleh karena itu, transformasi digital harus diposisikan sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas layanan alih-alih sekadar modernisasi teknologi.
Dengan mengutip pandangan George Westerman dari MIT Sloan School of Management, Louis mengingatkan bahwa inti transformasi digital sesungguhnya bukan terletak pada teknologi yang digunakan, melainkan pada perubahan pola pikir dan budaya kerja manusia di dalam organisasi. "Perlu dicatat, transformasi digital bukan hanya soal perangkat, tapi perubahan cara berpikir dan bekerja manusia di dalamnya," pungkasnya. (Fadhil Pramudya)