Olahraga yang Menginspirasi
02 Oktober 2016
Ratna Kartika
0
Olahraga yang Menginspirasi

Ibarat sayur tanpa garam, begitulah olahraga tanpa drama rivalitas. MotoGP sepertinya kurang greget tanpa perseteruan Valentino Rossi dengan Jorge Lorenzo di race pacu. Kalau di ring tinju, rivalitas yang melegenda tentu saja antara Mike Tyson versus Evander Holyfield. Rivalitas kedua petinju kelas berat ini bahkan sempat diwarnai insiden gigit kuping. “Si Leher Beton” Tyson pada akhirnya harus mengakui kekuatan fisik, stamina dan strategi jitu Si “The Real Deal” Holyfield.

Rivalitas yang melibatkan olahragawan nasional juga tidak kalah seru. Ada Icuk Sugiarto dengan pebulutangkis kidal China Yang Yang di era 80-an, atau Susi Susanti dengan Ye Zhaoying di era 90-an.

Di dunia olahraga, adanya rivalitas justru dapat membentuk persepsi publik tentang kehebatan seorang atlet. Meski setelahnya atlet-atlet hebat yang berival itu pensiun, kemudian digantikan generasi-generasi penerus yang berival juga, namun reputasi atlet sebelumnya tetap melekat.

Reputasi seorang olahragawan sejatinya bermuatan pesan-pesan komunikasi publik yang kuat dan mampu menjadi inspirasi. Susi Susanti, Ye Zhaoying, Yang Yang, Icuk Sugiarto, adalah segelintir olahragawan yang berival namun tetap mengedepankan sportifitas.

Apalagi sikap-sikap sportif atlet-atlet tersebut gamblang dibaca masyarakat. Sebab mereka memang termasuk sosok Public Relations handal dalam dunia olahraga ketika masa jayanya. Selain hebat di lapangan, mereka juga cakap berkomunikasi di depan kamera televisi, talkshow, jumpa fans, bintang iklan dan lainnya. Mereka berprestasi, berkomunikasi, dan menginspirasi publik sama baiknya.

Bagaimana dengan olahraga beregu seperti sepakbola atau basket? sudut pandang yang berbeda dapat kita apungkan untuk melihat perbedaan itu.

Di sepakbola kita mengenal adanya tradisi tim-tim unggulan. Jerman, Italia, Brazil, dan Argentina masuk ke dalamnya. Semua tim itu masing-masing punya reputasi yang membuat mereka selalu ditunggu dan diperhitungkan dalam berbagai kompetisi. “Der Panzer” Jerman yang kerap bermain semakin lama semakin panas, Brazil yang selalu bermain cantik melalui sentuhan-sentuhan bola yang akurat, Italia dengan sepakbola Catenaccio atau menumpuk pemain di daerah pertahanan, dan Argentina yang punya skill individu kelas wahid seperti Diego Maradona dan Lionel Messi.

Ketika kita berbicara basket maka Amerika Serikat menjadi acuannya. Mereka punya kompetisi NBA yang bergengsi dan digemari seantero remaja dan prestasi juara dunia sebanyak 10 kali. Di level Asia, China dan Iran menjadi yang terdepan. Sedangkan pada level Asia Tenggara Filipina masih menjadi penguasa. Kalau basket Indonesia belum bisa dibilang maju meski saat ini sudah mengalami kemajuan pesat.

Tradisi tim-tim unggulan akan terus dikomunikasikan sepanjang masa karena sifatnya bisa turun temurun, sampai mata rantai hegemoni terputus oleh tradisi baru yang diukir. Dalam gelaran EURO 2016 lalu Wales dan Islandia hampir saja merubah tatanan tradisi turnamen paling bergengsi antar negara di Eropa ini, dimana tim-tim unggulan selalu menguasai. Sayangnya, citra dan reputasi Wales dan Islandia dalam percaturan sepakbola Eropa dalam beberapa tahun terakhir sebelum EURO belum mentereng.

Wales dan Islandia berangkat dari tradisi sebagai tim pelengkap penderita. Jika mereka ingin masuk ke dalam deretan tim unggulan, maka pasca EURO 2016 mereka harus terus berbenah dan lebih keras berjuang. Prestasi yang kemarin mereka ukir harus ditingkatkan. Karena semakin banyak prestasi yang bisa mereka capai, maka semakin banyak pula cerita-cerita sukses yang bisa dikomunikasikan.

Cerita tentang perjuangan tim pelengkap, tim penderita, yang akhirnya bisa sukses menjuarai kompetensi bergengsi adalah kisah from zero to heroes. Tentu kisah seperti itu sangat menyenangkan dan menginspirasi masyarakat yang kerap terjebak dalam realitas pesimis.

 

Oleh: L. Hadi Pranoto 

Pemerhati Olahraga dan Hukum Media

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST