Eddy Kurnia, Corsec Perum Peruri: PR adalah Jiwa Perusahaan (Bag. 1)
27 Pebruari 2018
Ratna Kartika
0
Eddy Kurnia, Corsec Perum Peruri: PR adalah Jiwa Perusahaan (Bag. 1)
"Kalau Anda bicara public relations (PR), itu adalah company interest. Sementara kalau Anda bicara media adalah public interest," kata Eddy.
Roni/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Eddy Kurnia, Head of Corporate Secretary and Strategic Planning, yang sesekali menjadi dosen di beberapa universitas itu juga pribadi yang terbuka terhadap perubahan. Ia merupakan sosok yang senang berdiskusi dan berbagi pengalaman. Tak heran di tengah kesibukannya, pria kelahiran 10 November 1957, ini masih menyempatkan waktu untuk menemui Ratna Kartika, Mellisa Purnamasari, M. Yamin dari PR INDONESIA di ruang kerjanya di Jakarta, Rabu (17/1/2018). Berikut kutipannya.

 

Seperti apa perjalanan karier Anda?

Saya mulai bekerja di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) terhitung 1 Januari 1982 dan pensiun 1 Desember 2013. Selepas berkarier di Telkom Group, saya bertugas di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) sejak 1 Desember 2014 sampai sekarang. 

Beberapa posisi yang saya pangku ketika di Telkom Group antara lain Vice President Pengembangan SDM, Direktur Utama Mitratel, Direktur Utama AriaWest Internasional yang kemudian dikonversi menjadi Telin, lalu dipercaya sebagai Vice President Public & Marketing Communication selama empat tahun sejak 2006. Tahun 2010, saya diberi mandat sebagai Head of Corporate Communication & Affair. Setahun kemudian, saya diangkat menjadi Direktur Utama Infomedia. 

Sementara karier saya di Peruri diawali sebagai Head of Transformation & Communication tahun 2014. Setahun kemudian, saya menempati posisi sebagai Head of Corporate Secretary, lalu  Head of Corporate Secretary & Strategic Planning sejak 2016 sampai sekarang.

 

Perjalanan karier Anda cukup panjang dan bervariasi, ya?

Saya beruntung dengan penugasan seperti itu. Saya jadi memiliki banyak pengalaman dan manfaat. O ya, sesekali juga, saya mengajar di kelas Magister Komunikasi Universitas Padjadjaran dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sangat menyenangkan berbagi pengalaman praktis dengan mahasiswa. Apalagi mahasiswa magister pada umumnya sudah bekerja. Kami sering kali terlibat diskusi hangat.

 

Apa perbedaannya ketika menjadi corporate secretary (corsec) di Peruri dengan saat masih di Telkom?

Bedanya, Telkom itu bisnis yang sangat besar, atraktif, dan kompetitif. Di sana—istilahnya—semua berita “seksi”, tidak ada yang tidak bisa dijadikan berita. Karena bersentuhan dengan teknologi terkini, maka selalu saja ada informasi yang bisa dikemukakan dan menarik untuk publik.

Sementara di Peruri, tantangan terbesarnya justru membangun kultur. Sebelumnya, Peruri tidak melakukan banyak ekspos keluar. Tidak ada yang salah soal itu. Karena apa yang dikerjakan Peruri—mencetak uang dan dokumen sekuriti—itu bagian dari rahasia negara. Tapi Peruri sebagai perusahaan tetap harus dikenal publik. Apalagi meski Peruri itu hampir 90 persen bisnisnya dari penugasan, tetapi lingkungan eksternal sudah berubah. Untuk itu, kami mengajak agar mereka lebih bergairah, terbuka, dan proaktif.

Digital menekan begitu cepat. Kondisi ini membuat lingkungan berubah, termasuk Peruri. Cashless society, misalnya, mau tidak mau mengubah cara berpikir teman-teman Peruri. Karena ketika cashless naik, percetakan uang tentunya akan terpengaruh—Anda bisa simpulkan sendiri dampaknya.

Jadi, kami dari corsec, bersama-sama mendorong seluruh karyawan untuk lebih sensitif terhadap perubahan. Dalam hal ini, menurut saya, karyawan Peruri termasuk cepat beradaptasi dengan perubahan itu.

 

Apa pesan Anda kepada Biro Komunikasi Peruri agar setiap informasi yang disampaikan Peruri semenarik atau “seseksi” seperti berita dari Telkom?

Komunikasi atau PR itu soal sudut pandang atau perspektif. Kalau Anda bicara public relations (PR), itu adalah company interest. Sementara kalau Anda bicara media adalah public interest. Tantangan mereka, bagaimana mereka bisa menarik company interest itu menjadi public interest supaya media tertarik untuk menulis.

Tapi, menurut saya, sekarang lebih mudah. Kondisinya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena saat ini saluran komunikasinya banyak, tidak tergantung lagi pada mainstream media. Semua informasi dapat disebarkan secara bersamaan melalui social media seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube.

Jangan salah, saat ini banyak headline di mainstream media maupun on-line media yang berawal dari media sosial. Dulu, kita harus “mengejar” narasumber untuk mendapatkan berita. Sekarang, informasi dari akun media sosial dan laman resmi bisa menjadi referensi untuk kemudian menjadi kutipan. (rtn) 

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST