“Menyatu” Bersama AI
PRINDONESIA.CO | Senin, 06/11/2023
“Menyatu” Bersama AI
Prof. Dorien Kartikawangi, Guru Besar Bidang Komunikasi Unika Atma Jaya, saat mengisi workshop Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2023 di Semarang, Kamis (2/11/2023).
karyasaka.id/HUMAS INDONESIA

SEMARANG, PRINDONESIA.CO – Teknologi terasa berkembang berkali-kali lipat lebih cepat semenjak hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain Chat Generative Pre-training Transformer (GPT) atau populer dengan nama ChatGPT,  kecerdasan buatan besutan OpenAI yang cara kerjanya memakai format percakapan, makin ke sini makin banyak kecerdasan buatan yang bisa digunakan untuk memudahkan kehidupan sehari-hari.

Prof. Dorien Kartikawangi, Guru Besar Bidang Komunikasi Unika Atma Jaya mengawali pemaparannya dalam acara workshop Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2023 di Semarang, Kamis (2/11/2023), tak memungkiri perubahan zaman yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi telah menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi para praktisi humas. “Humas dituntut harus lincah berhadapan dengan era digitalisasi,” katanya mengawali topik “Strategic Communication: Now and Future Trend”.

Di hadapan 23 peserta workshop, Dorien mengatakan, sudah saatnya humas “hidup bersama” digital. Alasannya, saat ini manusia tidak lagi dihadapkan untuk bisa mengerti mesin yang berbasis komputer dan internet, tapi harus bisa berkolaborasi dengan keduanya.

Di satu sisi, perempuan yang mengisi kelas workshop bertema “Manajemen Kampanye Komunikasi Publik yang Inovatif dan Berdampak” itu juga tidak sependapat dengan adanya anggapan AI meresahkan karena dapat mendegradasi kualitas dan kapasitas seseorang. Bahkan, ia melanjutkan, keberadaan AI justru membuat pekerjaan humas menjadi lebih mudah.

Perempuan yang juga merupakan Wakil Ketua Umum PERHUMAS Bidang Pengembangan Kompetensi Kehumasan tersebut lantas menyampaikan laporan dari Chartered Institute of Public Relations (CIPR) tahun 2019. Dari laporan tersebut diketahui ada lima manfaat AI untuk menunjang kinerja para praktisi humas. Antara lain, mempermudah pekerjaan, social listening, otomatisasi pekerjaan, mengolah dan menganalisis data dalam skala besar, mendefinisikan baik data terstruktur maupun tidak terstruktur.

Secara terperinci sebagai berikut. Keberadaan AI mempermudah pekerjaan maksudnya teknologi ini hadir dengan beragam fitur yang dapat membantu pekerjaan humas. Salah satunya, membuat pekerjaan melakukan transkrip menjadi jauh lebih singkat dengan adanya revoldiv.com.

Teknologi AI juga dapat menjadi alat yang efektif untuk mendengar suara-suara publik alias  social listening. Teknologi ini mampu mengumpulkan, menganalisis, dan mengerti data dari berbagai platform media sosial dan sumber online lainnya. “Kemampuan AI yang demikian ini dapat dimanfaatkan oleh pranata humas untuk merancang strategi komunikasi,” ujarnya.

Selain itu, AI juga dapat mengotomatisasi berbagai tugas administratif yang repetitif, seperti pengiriman surat elektronik, penjadwalan pertemuan, manajemen kontak, dan masih banyak lagi. “Lumayan, kan, bisa mengurangi investasi waktu kita di depan komputer?” kata Dorien seraya diiringi derai tawa peserta.

Selain ketiga hal tadi, kemampuan AI untuk mengolah dan menganalisis data dalam skala besar (big data) pun menjadi keunggulan yang sulit ditandingi oleh otak manusia. “AI juga mampu mendefinisikan baik data terstruktur maupun tidak terstruktur,” imbuhnya.

Data terstruktur, misalnya, nama pengguna, jenis kelamin, tempat tinggal, dan tanggal lahir, maupun data yang ditulis secara numerik yang biasanya masuk dalam database. Sedangkan data tidak terstruktur biasanya berbentuk teks, gambar, suara, maupun format lainnya. “Membaca dua jenis data tersebut menjadi manfaat keempat dan kelima keberadaan AI bagi PR,” kata Dorien.

Isu digitalisasi ini menuai perhatian dari para peserta, salah satunya Nuryati yang kini menjabat sebagai Kepala Humas Institut Pertanian Bogor. Ia menanyakan terkait fenomena komentar negatif di media sosial yang kerap menjadi viral. Perempuan peraih gelar doktor dari Universitas Indonesia itu menjawab untuk mengatasi pemberitaan yang bernada negatif, humas dapat menggunakan AI untuk menganalisis data di internet mengenai pemberitaan tersebut. Dari data yang sudah dikumpulkan oleh AI itu, humas dapat menindaklanjutinya dengan perencanaan strategi komunikasi yang matang. (AZA)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI