Membangun Pertemanan Tulus dengan Rekan Media
PRINDONESIA.CO | Rabu, 15/01/2020
Membangun Pertemanan Tulus dengan Rekan Media
Selalu siap kapanpun dibutuhkan
Dok. Istimewa

Oleh: Emmy Kuswandari, Praktisi PR, Global Communications APP Sinar Mas

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Mereka selalu siap kapan pun kita membutuhkan. Pun demikian dengan saya, siap kapan pun mereka membutuhkan. Termasuk saat mereka sedang berduka. Seperti kabar duka yang menghampiri saya hari itu. Salah satu pewarta foto meninggal saat sedang bertugas meliput banjir di Jakarta Timur. Sedih rasanya. Rasa tanggung jawab pada penugasan membuat kita kadang abai dengan kesehatan. Dan mungkin itu yang terjadi. Meski kita tak tahu kapan “kontrak” kita berakhir di dunia ini.

Di rumah duka, sudah banyak teman seprofesi yang berdatangan. Raut muka yang sedih. Panas yang terik tak mereka hiraukan. Mereka bahu membahu meringankan beban keluarga agar prosesi pemakaman berjalan lancar. Mereka pula yang bergantian bahu membahu menggotong keranda hingga ke liang lahat. Air mata saya selalu meleleh. Ya, saya cengeng untuk urusan seperti ini. Di sisi lain, saya salut dengan solidaritas mereka yang tinggi.

Pernah pula, hampir tengah malam, saya yang tak paham jalan selain kantor ke rumah, harus menyisir perlahan jalanan di seputaran Bekasi. Begitu sampai, sudah banyak teman-teman wartawan yang datang lebih dulu ke rumah duka. Ia adalah teman wartawan yang meninggal dunia setelah sebelumnya asyik bermain futsal dengan teman-teman seprofesinya. Berita duka ini saja sudah membuat terharu.  Air mata tak tertahankan begitu melihat anaknya yang berumur dua tahun menggayut manja di atas perut jenazah sang ayah. Mungkin dia berpikir ayahnya sedang tidur seperti biasa.

Begitu juga saat ada kawan wartawan yang anaknya meninggal menjelang usia 17 tahun. Hanya mengeluh pusing, lalu dibawa ke dokter dan rumah sakit dengan segera oleh orang tuanya. Beberapa hari kemudian, justru berita duka yang kami terima. Kami telepon kanan kiri untuk memastikan kabar menyedihkan ini. Ya Tuhan, pada posisi seperti ini, belum tentu saya mampu setegar sahabat saya ini. Begitu kuat dan ikhlasnya mereka menerima cobaan.

Pernah pula kami berniat menjenguk wartawan yang sedang sakit. Kami tertahan lama di depan pintu kamar perawatan karena dokter ssedang melakukan tindakan. Ketika keluar, dokter memanggil keluarga pasien untuk memberikan informasi duka cita. Kami hanya bisa tertegun. Betapa kita tak tahu lipatan waktu yang Tuhan berikan.

Karena itulah, jam berapa pun selama masih memungkinkan untuk menjangkau rumah duka, saya selalu usahakan ke sana. Meski hanya untuk sekadar menepuk punggung untuk menguatkan keluarganya atau menyalami sambil mendaraskan doa.

Saya selalu mencoba membangun pertemanan bukan karena kebutuhan, tetapi setulus-tulusnya pertemanan bukan karena pekerjaan kita. Sebagai praktisi PR, rasanya ini pula yang harus kita lakukan untuk menghapus stigma berkawan dengan wartawan hanya saat perlu. Pertemanan yang tulus akan melampaui batas-batas yang kita ciptakan sendiri. Saya percaya, pertemanan seperti ini akan memperkaya kepribadian kita.

Saya akan selalu berusaha ada untuk teman-teman yang rasanya sudah seperti keluarga ini, jam berapa pun itu. 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)
TERPOPULER

Event

CEO VIEW

Interview

Figure

BERITA TERKINI