PR MEET UP #18: Tiga Pakem Menarik Audiens lewat Visual (Bag. 1)
04 November 2018
Ratna Kartika
0
PR MEET UP #18: Tiga Pakem Menarik Audiens lewat Visual  (Bag. 1)
Kemenkeu perlu waktu lima tahun untuk membangun brand dan kepercayaan.
Ratna/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Simplifikasi pesan dengan konten audiovisual belum tentu membuat kerja PR maksimal. Apalagi kalau pesan yang disampaikan membuat bingung. Pun demikian yang dirasakan Rezha Sahhilny Amran, Kasubag Publikasi Elektronik, Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Pria lulusan arsitek ini pun berkisah tentang pengalamannya membangun media digital di Kemenkeu yang sudah dilakoninya selama lima tahun. Upaya yang dilakukan ada tiga. Mulai dari internal build literacy, invest in people, hingga invest in gears.

 

Tentukan Objektif

Menurut dia, sebelum ke sana, tentukan dulu objektifnya. "Kalau kami di Kemenkeu, objektifnya adalah mengedukasi dan membangun awareness masyarakat. Sementara tujuan akhirnya adalah trust (kepercayaan)," ujarnya di acara bertema mengangkat tema, "Simplifikasi Pesan Melalui Audio Visual Kreatif".  Sebab, ia melanjutkan, ketika trust sudah tercapai, masyarakat mau peduli, memahami dan berpartisipasi mengawasi APBN. 

Untuk mencapai target itu, fasenya cukup lama, perlu komitmen dan konsistensi. "Kami perlu waktu lima tahun. Dua tahun pertama membangun awareness, dua tahun berikutnya membangun engagement. Tahun kelima, evaluasi kerja," paparnya.

Tekniknya menggunakan narasi storytelling. Karena topik APBN cukup berat dibawa ke media sosial (medsos), Kemenkeu sepakat menggunakan narasi #uangkita. 

Selanjutnya, lakukan pemetaan diawali dengan pertanyaan, "Siapakah target audiens kita?" Ada empat stakeholder utama Kemenkeu. Mereka adalah siswa dan mahasiswa,  youth preneur, aktivis, masyarakat yang sudah wajib membayar pajak. 

Strateginya melalui pendekatan visual di media sosial. Pilihannya, jatuh kepada Instagram dan YouTube sesuai tempat di mana empat stakeholder tadi sering berkumpul. 

Rezha juga menekankan pentingnya riding the wave dengan memanfaatkan kekuatan foto dan video. "Infografis tidak selalu berhasil menarik perhatian massa. Sekarang, justru lebih efektif dengan hanya menampilkan satu foto atau video," katanya seraya menyebut pepatah kekuatan foto bernilai lebih seribu kata, sedangkan video sama nilainya dengan 1,8 juta kata.

Dengan catatan, menganut tiga pakem. Yakni menyentuh emosi, logika dan menenuhi kebutuhan audiens. Sementara kontennya harus relevan. "Kita tidak bisa memaksakan yang menjadi kehendak kita atau kehendak audiens. Tapi harus mencari irisannya,"  ujarnya. 

Setelah itu jangan lupa dievaluasi. Pertama, dari sisi likes dan impresi. Prioritas kedua dari engagement. Sementara viral adalah  bonus. "Ingat, tujuan utama yang ingin kami tuju itu adalah mengedukasi audien" imbuhnya. 

Selain Rezha, hadir Avianto Nugroho Putro, co-founder Fabulo dan anggota APPRI, selaku pembicara kedua dan Pemimpin Perusahaan PR INDONESIA Frans Sutedjo. (rtn)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST