Dari PR Meet Up #17 Bandung: Apapun Programnya, Konten yang Utama (Bag 1)  
04 September 2018
Ratna Kartika
0
Dari PR Meet Up #17 Bandung: Apapun Programnya, Konten yang Utama (Bag 1)   
"Content is king", pepatah klasik yang masih relevan bagi praktisi PR.
Fisena/PR Indonesia

 JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Hanya dengan konten yang relevan, partisipasi publik pun diharapkan akan meningkat saat PR merilis sebuah program ke tengah masyarakat. Begitulah simpul dari talkshow ”Planning a Creative PR Program for Public Participation” dalam forum PR INDONESIA Meet Up #17 yang berlangsung di Gedung Sate, Bandung, Jumat (31/8/2018). Acara yang berkolaborasi dengan Humas Pemprov Jawa Barat dan didukung oleh Pocari Sweat, Rabbani, dan Fabulo PR itu dihadiri 90 praktisi dan akademisi PR dari Bandung dan Jakarta.


Pada mulanya, sebelum mengemas sebuah program kampanye, praktisi PR semestinya melakukan riset terlebih dahulu, agar mengetahui isu dan tren yang tengah berkembang di masyarakat. “Ini untuk menentukan obyektif kampanye PR yang akan dilakukan. Sekadar untuk menciptakan awareness atau edukasi,” ujar Avianto Nugroho Putro, co-founder Fabulo PR, Jakarta.


Melalui riset tersebut, rancangan program PR yang akan dikemas menjadi relevan dengan sajian konten sesuai kebutuhan publik. Bukan semata karena kemauan tim PR korporasi/organisasi semata. “Konten yang relevan akan sangat memengaruhi respons publik terhadap sebuah pesan,” tegas Ricky Suhendar, Corporate Communication Director PT Amerta Indah Otsuka, produsen Pocari Sweat. “Karena melalui iklan saja tidak cukup (merebut partisipasi publik),” imbuhnya. Itulah sebabnya, agar partisipasi publik kian merekat, perusahaannya membuka diri kepada publik yang ingin berkunjung ke pabrik produsen Pocari Sweat itu setiap saat.

Ketika kampanye PR sudah siap disusun, pastikan bahwa program itu dibuat secara kreatif, meskipun bukan baru sama sekali. Dalam bahasa lain, “Promosi kita harus eye catching. Kalau perlu nyentrik agar konsumen bisa kita gaet,” ungkap Wahid Arbi Sasmito, Marketing Communication Rabbani, Bandung. Bagaimana jika publik ternyata mempersepsi negatif kampanye PR yang dilakukan? Wahid memiliki jawaban tersendiri soal ini. “Kalau ada masukan negatif anggap saja sebagai kritik,” imbuhnya.

Mantan jurnalis ini memastikan jika peran PR hari ini sangat penting. Karena melalui PR, konten-konten kreatif akan terus menerus diproduksi korporasi/organisasi. Apalagi di era sosial media yang mempertaruhkan kekuatan konten setiap saat secara berkelanjutan. Sehingga diperlukan konsistensi dalam melakukan kampanye. Pentingnya peran PR sedari awal ditegaskan oleh Penjabat Gubernur Jawa Barat Mochamad Iriawan ketika membuka acara PR Meet Up #17 ini. “Di balik suksesnya sebuah institusi, ada peran PR di dalamnya,” katanya penuh ketegasan. (asw)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST