Kurangi Gap, Kurikulum Ilmu Komunikasi Wajib Disempurnakan
02 Agustus 2018
rizka
0
Kurangi Gap, Kurikulum Ilmu Komunikasi Wajib Disempurnakan
PR harus mengedepankan riset, perencanaan, implementasi, dan evaluasi
Ratna/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO – Seminar yang berlangsung di Jakarta, Selasa (17/8/2018), itu menghadirkan empat lembaga sekaligus. Antara lain, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM), PERHUMAS, dan Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI).

Ketua BPP PERHUMAS Agung Laksamana tak memungkiri hampir semua praktisi PR saat ini bukan berlatar belakang Ilmu Komunikasi. Alasannya, perusahaan menilai yang bukan lulusan Ilmu Komunikasi lebih mengerti substansi dan proses ketimbang mereka yang mengantongi ijazah Ilmu Komunikasi. 

Praktisi PR juga masih dihadapkan oleh tantangan untuk menjadikan PR di level strategis, diakui oleh kalangan top management dan aktivitasnya dinilai sebagai investasi. “PR saat ini masih dianggap belum mengerti business goals, objectives, dan helicopter view karena tidak dominan di manajemen. Sementara agensi PR dianggap belum mengerti isu inti dari perusahaan klien mereka,” katanya. 

Sementara dari sisi akademisi, Wakil Ketua ASPIKOM Sri Hastjarjo mengutarakan kekhawatirannya terhadap kemungkinan hilangnya kontak atau relasi antara akademisi dan industri PR dikarenakan gap yang terlalu lebar. Apalagi penelitian tentang PR yang umumnya diajukan oleh mahasiswa baik S1 maupun S2 tidak membahas teori atau model baru. Semuanya implementasi atau praktis. Untuk menjembatani itu, ASPIKOM akan memberi saran kepada pemerintah agar standar kompetensi atau capaian pembelajaran yang sedang disusun sesuai dengan kondisi terkini dan kebutuhan industri. 

Hal senada disampaikan oleh Ade Kadarisman, Wakil Ketua ISKI Pusat. Menurutnya, dalam mengembangkan kurikulum PR perlu pendekatan multidisiplin. “Kita perlu terobosan dalam membangun paradigma ilmu komunikasi yang baru sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan industri,” ujarnya.

Gap yang lebar antara akademisi dan praktisi PR ini mendorong APPRI membuat modul inkubator. Modul bernama APPRIentice ini merupakan program gabungan dari beberapa kampus. Mahasiswa yang mendaftar dan lolos seleksi APPRI akan dibentuk menjadi tim. Selanjutnya, APPRI akan menguji kemampuan tim menyelesaikan kasus baik simulasi maupun sungguhan dari klien. Setelah lulus, mereka bisa bekerja di perusahaan PR. “Dari modul ini diharapkan lahir sarjana yang siap kerja,” katanya.

Tingkatkan “Skill”

Menurut penggagas acara yang juga founder EGA brifiengs, Elizabeth Goenawan Ananto, salah satu akreditasi yang berada di urutan pertama yang harus dimiliki PR tingkat strata satu saat ini adalah storytelling. Disusul dengan kemampuan analytical thinking, management, public speaking, teamwork, PR theory, global perspectives, time management, graphic design, hingga internal communication. “PR itu banyak bercerita, bukan banyak ngomong,” ujar perempuan yang karib disapa Ega ini.

Untuk kategori knowledge, skills dan abilities, PR INDONESIA Guru itu menekankan soal perlunya PR memiliki keahlian soal IT dan new media, manajemen dan isu, hingga media relations. Selain itu, dalam menjalankan perannya, PR juga harus mengedepankan riset, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Tentu saja, kompetensi itu harus ditunjang dengan kemampuan berkomunikasi tingkat lanjut, melek bisnis dan PR, paham dan menjalankan etika PR, isu legal, model komunikasi dan teori yang didasari dengan pengetahuan sejarah tentang PR.

Khusus di level magister, Ega berpendapat riset tentang PR sangat dibutuhkan untuk memenuhi standar akademik, khususnya di level magister. Di level tersebut, riset lain yang tak kalah penting adalah soal merekomendasikan panduan akreditasi dan sertifikasi.

Ia berharap rangkuman yang terhimpun sore itu dapat menjadi landasan bagi para akademisi untuk menyempurnakan standar akademik bagi mahasiswa PR. Dan, memotivasi para praktisi PR agar makin optimal menjalankan perannya sebagai bagian dari fungsi manajemen yang strategis. (rvh/rtn)

BACA JUGA
tentang penulis
image profile
rizka
.
komentar (0)

TERPOPULER

FIGUR

WAWANCARA

PR ON MAGAZINE

LATEST POST