Bangun Relasi dari Warung Kopi
19 Juli 2018
Ratna Kartika
0
 Bangun Relasi dari Warung Kopi
"Jangan jadikan media sebagai musuh," kata Asdar Ali, Direktur Umum PDAM Makassar (kanan).
Umar/PR Indonesia

MAKASSAR, PRINDONESIA.CO - “Jangan menghubungi wartawan hanya di saat butuh atau sekadar mengirimkan rilis. Kontak mereka, ajak ngopi, biar hubungan bisa lebih cair.” Begitulah prinsip Asdar Ali, Direktur Umum Perusahaan Air Daerah Minum (PDAM) Makassar, di hadapan para peserta “The 20th Workshop PR Series: Strategi Media Engagement di Era Ekosistem PR yang Baru” di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/7/2018).

Hubungan yang baik dengan media akan berbuah manis, terlebih ketika perusahaan sedang diterpa isu. Ia memberi contoh saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kantor PDAM Makassar. Peristiwa itu dalam sekejap menurunkan kepercayaan dan meruntuhkan reputasi. Pada saat inilah hubungan baik antara PR dengan media diuji. Ketika relasi antara keduanya telah terbina dengan baik, PR akan dengan mudah menghubungi media dan melakukan klarifikasi. Sebaliknya, media pun dengan sukarela mendengarkan dan memberikan informasi yang seimbang. “Kita buka komunikasi, biarkan mereka tahu permasalahannya, apa dan siapa yang salah,” ujarnya.

Pun demikian, ketika PR harus berhadapan dengan wartawan yang sedang melakukan investigasi. Asdar berpendapat, ketimbang menutupi fakta, lebih baik berikan data. “Tindakan itu lebih bijak daripada mereka mengambil data dari orang yang salah, atau memuat informasi yang tidak seimbang,” katanya.

Selain itu, ketimbang mengirimkan informasi melalui rilis yang tidak disaksikan oleh media, Asdar lebih memilih mengajak media melakukan kunjungan ke perusahaan. Saat kemarau, misalnya, mereka ajak media untuk melihat sumber air. Melalui perantara medialah, perusahaan dapat lebih mudah mengedukasi masyarakat. “Biarkan mereka menulis sesuai apa yang mereka lihat dan rasakan. Soal penyajiannya, berikan mereka kebebasan karena mereka yang lebih tahu ilmunya,” ujarnya.

 

Minimalisasi Jarak

Kunci lain tak kalah penting adalah meminimalisasi jarak dengan media. Jalinlah relasi dan hubungan emosional di luar kantor dan pekerjaan. Sekadar ngobrol santai sembari ngopi, contohnya.  “Tentu saja, meski dekat, keduanya tetap harus menjaga rambu-rambu atas dasar profesionalitas kerja,” katanya. “Kita berkawan, bukan berarti menberikan segalanya. Tetap ada informasi yang perlu diketahui dan dijaga oleh PR,” imbuhnya.

Yang pasti, ia berkesimpulan, jangan jadikan media sebagai musuh. “Semakin jaga jarak, semakin kita diserang,” tutupnya. (mff/rtn)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST