Inadia, PR INDONESIA Fellowship Program 2017 - 2018: "Asah Interpersonal"
02 Juli 2018
Ratna Kartika
0
Inadia, PR INDONESIA Fellowship Program 2017 - 2018:
Nadia, terus mengasah kompetensi diri.
Wantek/PR Indonesia

Inadia Aristyavani - PR INDONESIA Fellowship Program 2017 - 2018

 

JAKARTA, PR INDONESIA.CO - Dunia yang sudah digeluti Nadia, sapaan Inadia, selama 14 tahun ini menuntutnya untuk mampu melakukan pendekatan yang berbeda-beda kepada masing-masing stakeholder. Kemampuan berkomunikasi sesuai dengan karakter dan tipe si penerima pesan inilah yang menurutnya merupakan tantangan tersendiri bagi PR. Contoh, antara klien dengan pabrik, pegawai dengan top management, termasuk dengan stakeholder seperti media. “Yang pasti, views adalah hal utama yang selalu kita tonjolkan kepada siapa pun kita berkomunikasi, di samping sikap dinamis dan rendah hati,” ujar perempuan yang ditemui PR INDONESIA di Jakarta, Jumat (25/5/2018).  

Lainnya yang tak luput dari perhatian utamanya, sudah pasti kemampuan berkoordinasi dan berkoalisi dengan stakeholder internal. Menurut perempuan yang saat ini menjabat sebagai Asisten Manajer Coorporate Comunication PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (kini bernama Tugu Insurance), tanpa adanya koalisi internal, sulit bagi PR melakukan perannya menyampaikan informasi secara efektif kepada para pemangku kepentingan. “Ketika koalisi internal sudah terbentuk, PR akan dengan mudah mengetahui isu apa yang muncul di instansinya,” ujar perempuan berhijab itu. Contoh, jika ada klien yang tidak puas terhadap suatu produk, PR dapat dengan segera meminta konfirmasi dengan unit terkait.

Untuk itu, Nadia yang juga aktif sebagai dosen praktisi di berbagai universitas swasta di Jakarta ini berpendapat, interpersonal adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang PR. Tidak hanya cakap dalam berbicara, tapi juga pendengar yang baik sehingga PR dapat mengetahui kebutuhan dan membangun komunikasi yang efektif dengan stakeholder. Tentu saja didukung dengan kompetensi intrapersonal yang berkaitan dengan cara bersikap. “Buat mereka nyaman saat berkomunikasi dengan kita dan berikan kesan yang baik,” katanya seraya menambahkan dalam menjalankan tugasnya PR juga harus mengedepankan evaluasi, riset dan objektif. “Terlalu berisiko kalau kita menyelesaikan isu atau krisis hanya lewat praduga,” ujarnya. 

Lainnya yang dibutuhkan adalah semangat untuk terus mengembangkan diri serta menumbuhkan kecintaan terhadap riset dan laporan keuangan. Kompetensi inilah yang menurut Nadia dapat menaikkan posisi PR ke level strategis. “Insan PR harus mampu memahami laporan keuangan sebagai intagible investment. Karena yang dibutuhkan stakeholder saat ini tidak melulu informasi soal kuantitatif tapi juga kualitatif,” katanya seraya mengajak para praktisi PR untuk kembali ke kampus.

 

Terus Belajar

Nadia, seperti praktisi PR pada umumnya, awal karirnya bukanlah berlatar belakang ilmu komunikasi atau pendidikan PR. Kompetensinya ini diasah di lapangan secara otodidak dan terus belajar serta dengan mengikuti berbagai intensive course. Sepanjang perjalanannya berkecimpung di dunia ini, ia mengaku tak memiliki pergesekkan apalagi pergolakan batin yang begitu berarti.

Nadia awalnya merupakan lulusan S1 Fakultas Ekonomi.  Sebelum berlabuh di dunia PR, perempuan yang menerbitkan text book ilmiah berjudul Persuasi Komunikasi & Kebijakan Publik tahun 2017 ini  telah menghimpun pengalaman kerja di berbagai korporasi swasta maupun JV, salah satunya sebagai Project Coordinator di Divisi Sales dan Marketing di Temasek Group (Singapura). Pemimpin Redaksi iMAGZ itu pun terus mengasah kompetensinya dengan mengikuti berbagai proffesional training/workshop baik dari dalam maupun luar negeri. Antara lain, Management Strategic, Financial Report and Analysis,  Corporate and Marketing Communications, Branding Management,  Research hingga Journalism. Sementara untuk memperdalam ilmunya di bidang komunikasi, ia menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Jakarta, dan lulus sebagai wisudawati berprestasi. Tak lekas puas, Nadia kini sedang memupuk mimpinya  untuk dapat meneruskan pendidikannya ke program Doktoral Ilmu Komunikasi. (ans/rtn)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST