Nasihat Tiga Tahun untuk “PR INDONESIA”
26 Juni 2018
Ratna Kartika
0
Nasihat Tiga Tahun untuk “PR INDONESIA”
“Kami perlu nasihat agar kami tahu harus ke mana melangkah di tahun-tahun mendatang,” ujar Asmono, PR INDONESIA (kiri).
Wantek/PR Indonesia

JAKARTA, PRINDONESIA.CO - Ada yang berbeda pada acara PR Meet Up yang rutin diselenggarakan oleh PR INDONESIA setiap bulan di Jakarta, Jumat (25/5/2018). Agenda yang biasanya diisi dengan mengupas isu-isu public relations (PR) terkini, disulap menjadi “Syukuran Tiga Tahun PR INDONESIA”—wadah berkumpul sekaligus upaya PR INDONESIA meminta nasihat kepada para gurus dan audiens dari kalangan praktisi PR. Kegiatan ini sekaligus wujud dari komitmen PR INDONESIA untuk dapat menjadi penjembatan ilmu dan perekat silaturahim antarpraktisi PR yang semakin baik ke depannya dengan cara lebih banyak mendengar.

Menurut Asmono Wikan, founder dan Chief Editor PR INDONESIA, nasihat itu diperlukan apalagi di tengah posisi sedang nyaman-nyamannya dan banyak godaan. Termasuk, saran tentang peluang go digital. Sekadar informasi, PR INDONESIA adalah satu-satunya media tentang PR di dunia berbentuk cetak di saat yang lain lebih memilih meluncurkan media dalam bentuk portal. “Kami perlu nasihat agar kami tahu harus ke mana melangkah di tahun-tahun mendatang,” ujarnya. 

Menurut Akhmad Zulfikri, ICON PR INDONESIA 2017, sudah saatnya PR INDONESIA beralih ke digital. Khususnya, dalam bentuk aplikasi ketimbang membaca majalah dengan cara mengunduh versi PDF. Ia pun mengusulkan agar majalah ini memperkaya konten PR di bidang kepariwisataan, sektor yang sedang menjadi unggulan pemerintah.

Senada dengan Fikri, Managing Director NEXUS Risk Mitigation and Strategic Communication Firsan Nova pun berpendapat sama. Sudah saatnya PR INDONESIA go digital. Tapi, alangkah baiknya jika kontennya diperkaya dengan konten-konten berbasis riset. Menurut penulis buku PR WAR ini, ada salah satu kelemahan di dunia PR, khususnya di Indonesia. Yakni, PR lokal cenderung menyukai analisis kualitatif. “Ketika masuk ke data statistik atau yang berbau matematika, kita agak malas. Langsung berpikir, ‘Aduh, apa ini?’” katanya. Meski begitu, ia justru melihat kondisi ini sebagai peluang. “PR INDONESIA harus masuk ke big data/riset. Sehingga, ada portofolio lain yang dimiliki selain memberikan berita,” ujarnya. 

Lain Firsan, lain juga Ani Natalia, Kepala Sub Direktorat Hubungan Masyarakat Perpajakan, Direktorat P2Humas, Direktorat Jenderal Pajak. Meski, ia menyerahkan segala keputusan kepada PR INDONESIA, secara pribadi, perempuan yang meminta agar majalah ini memperbanyak konten tips tentang GPR tersebut masih lebih nyaman membaca informasi dalam bentuk cetak. Namun, ibu dari tiga anak ini tak memungkiri pergeseran zaman tak mungkin terelakkan. “Kalau dua-duanya bisa dijalankan berbarengan, why not?”  kata perempuan yang karib disapa Kak Ani itu seraya bertanya.

Dwimawan Heru, AVP Corporate Communications PT Jasa Marga (Persero) Tbk berpendapat kondisi saat ini menuntut organisasi untuk lebih mengedepankan costumer centric ketimbang product centric agar bisa berkelanjutan. “Untuk itu, kita harus lebih banyak mendengar konsumen. Manfaatkan metode-metode survei yang saat ini ada untuk dapat merangkum keinginan audiens kita,” kata pria yang mengaku termasuk kaum digital immigrant ini. 

 

Pemersatu

Sementara sebagai generasi yang lahir di tahun 40-an, Noke Kiroyan, Chairman and Chief Consultant Kiroyan Partners, meski kerap memaksa dan dipaksa untuk melek digital, tapi soal membaca, ia masih lebih nyaman menikmatinya dalam versi cetak. “Namun, digital tetap harus ada, tapi dengan versi yang betul-betul digital, menarik dan interaktif. Bahkan, di sana PR INDONESIA bisa menambahkan hal-hal lain yang tidak ada atau tidak bisa ditampilkan dalam versi cetak,” ujarnya seraya mengimbau agar PR INDONESIA memperbanyak konten PR korporasi swasta.

Selebihnya, Noke kagum dengan dedikasi PR INDONESIA. Sebab, menurut pengamatannya, PR di Indonesia kurang bersatu. “Tapi, saya melihat ada unsur pemersatu, dialah PR INDONESIA,” ujarnya seraya berharap media ini tetap eksis dengan jiwa yang sama. 

Pernyataan tersebut diamini oleh Elizabeth Goenawan Ananto, PR INDONESIA Guru. “Ada banyak komunitas PR di Indonesia, saya juga berkecimpung di sana, tapi tidak bisa semua. Nah, PR INDONESIA ini ibaratnya ‘tukang jahit’ yang menyatukan dan mengangkat kita semua,” ujarnya seraya memberi saran agar PR INDONESIA semakin selektif dan ketat dalam memberikan apresiasi kepada para pelaku PR di Indonesia.

Tak lupa, perempuan yang akrab disapa Ega itu juga mengucapkan apresiasinya kepada para insan PR atas tulisan dan celotehannya di media ini. “Kita perlu untuk berani mengangkat, bukan hanya keberhasilan, tapi juga kegagalan dari program PR. Sebab dari kegagalan itu kita belajar untuk lebih berhasil,” pungkasnya.

Sementara itu, Tofan Mahdi, VP Corporate Communication Astra Agro Lestari, juga menyatakan harapannya. Ia melihat kerja PR INDONESIA sejauh ini mampu menyatukan  praktisi PR yang ada di berbagai komunitas.  Oleh sebab itu, ia mendukung penuh upaya yang dilakukan PR INDONESIA untuk terus merangkul seluruh komunitas PR yang ada di Indonesia. (rtn)

 

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST