Agar Kampanye Lebih Bersuara
08 April 2018
Ratna Kartika
0
Agar Kampanye Lebih Bersuara
Pastikan aksi itu berangkat dari "storytelling" yang hebat dan "audience insight".
Rache/PR INDONESIA

SURABAYA, PRINDONESIA.CO – Menurut Suharjo Nugroho, pemateri di acara workshop series yang diselenggarakan PR INDONESIA di Surabaya, Rabu (29/3/2018), pemicunya adalah kurang tepatnya public relations (PR) dalam menyusun strategi PR yang mampu menggaet atensi audiens.

Untuk itu, Jojo, begitu ia akrab disapa, mengajak praktisi PR yang menjadi peserta workshop bertajuk “PR Event untuk Memperkuat Reputasi” tersebut untuk mengenali langkah-langkah yang harus dilakukan PR ketika menyusun strategi komunikasi. Langkah pertama, jadilah social listener. “Dengarkan pendapat audiens tentang perusahaan atau brand (merek) kita,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI).

Carilah jawaban yang jujur tentang beberapa hal seperti seberapa peduli audiens terhadap merek/perusahaan dan program yang akan dibuat. Menurut Jojo, ada beberapa alat yang bisa digunakan untuk mendapatkan jawaban itu, salah satunya lewat google analytics, atau yang termudah, mencari tahu lewat Twitter.  

Kemudian, lakukan pemetaan isu bisa melalui mesin pencari maupun media insight. “Lakukan pemetaan terhadap kampanye serupa yang pernah dilakukan kompetitor sehingga kita tidak mengulang hal yang sama. Tanya juga pendapat audiens/media terhadap kampanye yang akan kita lakukan,” ujar pria yang menjabat sebagai Managing Director Imogen PR. Tak kalah penting, temui masalahnya sebelum menyusun strategi.  

Langkah kedua, susun strategi. Caranya, identifikasi semua peluang, lakukan identifikasi mengenai target audiens, pesan yang harus dibuat, spoke person yang akan ditunjuk, manfaatkan semua kanal komunikasi mulai dari media sosial, key opinion leaders, influencer, sampai buzzer.  

Buat stakeholder mapping untuk membangun kepercayaan publik dan kredibilitas. “Creating public trust bisa didapat dari publik secara general dan media. Sementara kredibilitas diperoleh dari stakeholder, NGO, tak menutup kemungkinan, pemerintah—tergantung topiknya,” papar pria yang bersama Imogen PR menjadi satu-satunya mitra yang mewakili Indonesia dalam PR Ogranization International (PROI Worldwide).

Lalu, bangunlah rumah pesan yang terdiri dari tajuk (headline), 1 – 3 pesan kunci, ditunjang dengan fakta-fakta. “Inilah dasar kita mulai dari membuat siaran pers sampai iklan,” ujar Dewan Pakar Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi (ISKI) itu.

Langkah ketiga, ignite conversation (buat percakapan). Berbagai aksi yang bisa dilakukan untuk menambah percakapan antara lain konferensi pers, media briefing, media luncheon (makan siang bersama media), media visit, media trip, company/factory visit, blogger/community gathering, influencer engagement, PR stunt (PR event).

Apapun yang akan dilakukan untuk membuat percakapan, Jojo menekankan, pastikan aksi itu berangkat dari storytelling yang hebat dan audience insight. Serta, pastikan percakapan itu mudah diakses dan terukur. “Lebih tepatnya, digital storytelling,” tutup Jojo. (frd/rtn)

BACA JUGA
tentang penulis
komentar (0)

LATEST POST